55. INT. RUMAH PAK DANI - DAPUR - LANJUTAN
TARJO menendang pintu dapur, menarik sprei kasur, membuka tutup panci-panci hitam, mengacak wadah bumbu. Ia berlutut di lantai semen, meraba-raba mencari pintu rahasia menuju ruang bawah tanah.
PAK DANI berdiri tenang di ambang pintu dapur.
Tarjo menggeleng tak percaya. Ia kembali membalik panci yang tadi sudah dibukanya, mengacak lagi wadah bumbu, meraba ulang sudut lemari, dan menyibak kembali sprei yang tadi sudah ditariknya. Mengetuk-ngetuk ulang dinding dan lantai semen yang sama. Menggeledah sekuat tenaga untuk kedua kalinya... namun tetap saja tak ada celah, tak ada rahasia, tak ada apa-apa.
Tarjo terdiam. Tenggorokannya kering. Ia menatap Pak Dani, mencari setitik rasa takut atau bersalah - hanya menemukan ketenangan yang jujur.
56. INT. RUMAH PAK DANI - RUANG TENGAH - LANJUTAN
Seluruh warga kini berkumpul kembali, kalah, diam, malu. PAK DANI berdiri di dekat meja makan, istrinya memeluk RARA yang tertidur, DIMAS menatap kerumunan dengan polos.
Pertanyaan itu menghantam dada warga. DEDI menyembunyikan linggisnya ke belakang, wajah merona malu.
Tidak ada yang menjawab.
57. INT. RUMAH PAK DANI - RUANG TENGAH - LANJUTAN
Keramahan itu jatuh seperti tamparan telak. BU SUMI menutup mulutnya, air mata menetes. PAK RT membungkuk dalam-dalam.
TARJO berjalan keluar dari dapur, tertatih, wajah pucat bagai mayat. Ia meninggalkan pemotong besi tergeletak di lantai teras - monumen kekalahannya sendiri.
58. EXT. PEKARANGAN RUMAH PAK DANI - MALAM - LANJUTAN
Warga berjalan pulang satu per satu dalam keheningan total, obor dipadamkan, kepala tertunduk.
BU SUMI berjalan gontai, dibayangi wajah anak-anak Pak Dani. KARSO menatap tangannya sendiri, kotor oleh debu dinding. TARJO berjalan paling belakang, sendirian, sosoknya seperti kehilangan jiwa.
PAK RT dan SLAMET tersisa di teras.
FADE TO BLACK.