12. Scene 55 - 58
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

55. INT. RUMAH PAK DANI - DAPUR - LANJUTAN

TARJO menendang pintu dapur, menarik sprei kasur, membuka tutup panci-panci hitam, mengacak wadah bumbu. Ia berlutut di lantai semen, meraba-raba mencari pintu rahasia menuju ruang bawah tanah.

TARJO
(putus asa)
Mana... mana uangnya?! Dari mana kamu dapat uang buat makan tiap hari kalau enggak pernah kerja?!

PAK DANI berdiri tenang di ambang pintu dapur.

PAK DANI
Pak Tarjo... uang yang kami pakai murni rezeki halal yang Tuhan titipkan untuk keluarga kami. Kami cukupkan apa yang ada, tanpa mengambil hak orang lain atau merugikan siapa pun di kampung ini.

Tarjo menggeleng tak percaya. Ia kembali membalik panci yang tadi sudah dibukanya, mengacak lagi wadah bumbu, meraba ulang sudut lemari, dan menyibak kembali sprei yang tadi sudah ditariknya. Mengetuk-ngetuk ulang dinding dan lantai semen yang sama. Menggeledah sekuat tenaga untuk kedua kalinya... namun tetap saja tak ada celah, tak ada rahasia, tak ada apa-apa.

Tarjo terdiam. Tenggorokannya kering. Ia menatap Pak Dani, mencari setitik rasa takut atau bersalah - hanya menemukan ketenangan yang jujur.

56. INT. RUMAH PAK DANI - RUANG TENGAH - LANJUTAN

Seluruh warga kini berkumpul kembali, kalah, diam, malu. PAK DANI berdiri di dekat meja makan, istrinya memeluk RARA yang tertidur, DIMAS menatap kerumunan dengan polos.

DIMAS
(bertanya jujur, tanpa dosa)
Bapak-bapak mau bertamu ya? Kenapa bawa besi panjang malam-malam begini, Pak?

Pertanyaan itu menghantam dada warga. DEDI menyembunyikan linggisnya ke belakang, wajah merona malu.

SLAMET
(menatap warga, menohok)
Kalian lihat sendiri kan? Ini yang kalian tuduh penjahat. Ini yang kalian tuduh nyimpan barang haram. Anak-anak ini yang kalian bilang tumbuh di sarang kejahatan!

Tidak ada yang menjawab.

57. INT. RUMAH PAK DANI - RUANG TENGAH - LANJUTAN

PAK DANI
(tersenyum tulus, menyapa seluruh ruangan)
Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian... karena sudah terlanjur berkumpul di rumah kami yang sederhana ini, mau minum teh hangat dulu? Masih ada air panas di termos.

Keramahan itu jatuh seperti tamparan telak. BU SUMI menutup mulutnya, air mata menetes. PAK RT membungkuk dalam-dalam.

PAK RT
(suara gemetar)
Pak Dani... saya, atas nama seluruh warga RT 04, minta maaf sebesar-besarnya... kami sudah berlaku biadab malam ini...
PAK DANI
(memegang bahu Pak RT, lembut)
Tidak apa-apa, Pak RT. Kami yang seharusnya minta maaf kalau keberadaan kami membuat situasi tidak nyaman.

TARJO berjalan keluar dari dapur, tertatih, wajah pucat bagai mayat. Ia meninggalkan pemotong besi tergeletak di lantai teras - monumen kekalahannya sendiri.

58. EXT. PEKARANGAN RUMAH PAK DANI - MALAM - LANJUTAN

Warga berjalan pulang satu per satu dalam keheningan total, obor dipadamkan, kepala tertunduk.

BU SUMI berjalan gontai, dibayangi wajah anak-anak Pak Dani. KARSO menatap tangannya sendiri, kotor oleh debu dinding. TARJO berjalan paling belakang, sendirian, sosoknya seperti kehilangan jiwa.

PAK RT dan SLAMET tersisa di teras.

PAK RT
(memegang tangan Pak Dani, berkaca-kaca)
Besok pagi saya pribadi bawa tukang, ganti pintu dan gembok Pak Dani yang paling bagus...
PAK DANI
Tidak usah repot-repot, Pak RT. Biar kami urus sendiri. Yang penting semua bisa pulang dengan tenang.

FADE TO BLACK.


Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)