31. INT. WARUNG BU TEJO - SORE
PAK RT dan SLAMET duduk di kursi kayu warung yang sedang sepi. BU TEJO merapikan botol minyak goreng.
PAK RT
Mbak Tejo, saya mau tanya soal data warga. Soal Pak Dani sekeluarga. Apa mereka pernah ajukan bantuan sosial, pinjaman beras, atau utang catat di warung?
BU TEJO
(menggeleng tegas)
Sama sekali enggak pernah, Pak RT! Keluarga Pak Dani itu paling tertib. Istrinya beli tunai lewat jendela, enggak pernah kurang sepeser pun. Nama mereka juga enggak pernah terdaftar Bansos atau PKH.
Pak RT menatap Slamet, mengangguk kecil.
32. EXT. SAMPING RUMAH PAK DANI - MALAM - LANJUTAN
Pak RT dan Slamet berjalan pelan melewati jalan setapak samping rumah Pak Dani, mengamati dari luar tanpa berniat mengintip tak sopan.
Tidak ada bau kemenyan, tidak ada sesajen, tidak ada suara mantra. Yang terdengar hanya suara kehidupan keluarga yang harmonis - Pak Dani membimbing Dimas belajar, istrinya merapikan tempat tidur. Cahaya lampu kuning hangat memancar dari ventilasi.
33. EXT. JALAN GANG - MALAM - LANJUTAN
PAK RT
(menghela napas lega, menepuk bahu Slamet)
Jelas sudah, Met. Pak Dani enggak punya utang, enggak pernah minta bantuan sosial, enggak ada ritual aneh.
SLAMET
(tersenyum tipis)
Sudah saya katakan dari awal, Pak RT. Dia cuma suka ketenangan.
PAK RT
Nanti kalau ada warga yang masih ngomongin yang enggak-enggak, bakal saya jelaskan langsung.
Mereka berjalan pulang - lega. Namun kebenaran ini justru akan membakar kecemburuan yang lebih besar di hati orang-orang yang sudah dikuasai iri.
34. EXT. POS RONDA - MALAM - BEBERAPA HARI KEMUDIAN
TARJO duduk bersama KARSO dan dua BURUH lain, wajah-wajah lelah berdebu sehabis kerja kasar.
TARJO
Kalian dengar kan kata Pak RT? Bersih. Enggak ada utang, enggak ada pesugihan. Kalau bersih, kenapa dia bisa hidup enak tanpa kerja keras kayak kita?
BURUH 1
Iya, Jo. Kita dari subuh sampai malam angkut batu bata, cuma cukup buat beras sama ikan asin.
TARJO
(memukul meja)
Itu dia yang bikin saya enggak terima! Kalau dia enggak pesugihan dan enggak utang, berarti ada hal lain yang lebih besar yang disembunyikan!
Wajah-wajah di sekeliling meja mengangguk, terbakar sentimen yang sama.
35. INT. RUMAH PAK DANI - RUANG TAMU - MALAM
Suasana hangat, sederhana. Anak-anak sudah tidur. PAK DANI dan istrinya duduk berdua.
BU DANI
Bapak merasa enggak, kalau orang-orang di luar makin beda menatap kita?
PAK DANI
(tersenyum teduh)
Iya, Bu. Bapak tahu. Orang-orang sedang bingung dan cemas dengan hidup mereka sendiri. Ketika mereka enggak paham cara hidup kita, mereka memilih curiga.
BU DANI
Apa perlu kita jelaskan dari mana penghasilan Bapak?
PAK DANI
(menggeleng pelan)
Enggak perlu, Bu. Kalau seseorang sudah dikuasai iri dan benci, penjelasan jujur sekalipun enggak akan pernah cukup. Yang penting kita tetap baik, enggak merugikan siapa pun, dan jaga ketenangan anak-anak.