26. EXT. RUMAH TARJO - TERAS - PAGI
Rumah papan reyot, atap seng berlubang ditambal plastik. Di meja kayu lapuk, tumpukan SURAT TAGIHAN - listrik menunggak, utang beras, cicilan motor.
TARJO duduk memegangi kepalanya, wajah kusam, mata merah.
Dari jalan, PAK DANI lewat membawa kantong cat, menyapa ramah.
PAK DANI
Selamat pagi, Pak Tarjo.
Tarjo hanya berdeham, tidak membalas. Matanya mengikuti punggung Pak Dani dengan tatapan penuh kebencian.
TARJO
(bergumam, geram)
Enak betul hidupnya...
Ia bangkit, mencengkeram tiang teras sampai buku jarinya memutih.
TARJO (CONT'D)
Pasti ada yang enggak beres sama orang itu.
27. EXT. JALAN GANG - LANJUTAN
Tarjo berpapasan dengan PAK KARSO yang membawa sabit.
KARSO
Pagi, Jo. Kok mukanya ditekuk begitu?
TARJO
(memajukan badan, provokatif)
So, kamu enggak merasa aneh melihat si Dani itu? Kita banting tulang setengah mati, dia enggak pernah kelihatan kerja. Gembok besi di pintunya itu bukan sekadar kunci biasa, So. Itu cara dia menutup rapat rahasia dari kita semua.
KARSO
(ragu)
Ya... kalau dipikir-pikir memang jarang kelihatan kerja sih.
Tarjo menepuk bahu Karso, puas melihat benih keraguan mulai tumbuh.
28. EXT. TUKANG SAYUR KELILING - PAGI - BEBERAPA HARI KEMUDIAN
Kerumunan ibu-ibu di sekitar motor sayur MANG UDIN. BU SUMI memegang seikat kangkung, berbisik pada MBAK YANTI dan BU MARNI.
BU SUMI
(berbisik, cukup nyaring)
Coba perhatikan anak-anaknya Pak Dani. Seragamnya selalu baru, sepatunya enggak pernah bolong. Pak Tarjo bilang, Pak Dani enggak punya kerjaan tetap. Uang sekolah mahal itu dari mana?
MANG UDIN
(menyela)
Ya bagus toh, Bu Sumi. Berarti bapaknya bertanggung jawab.
BU SUMI
Bertanggung jawab dari mana kalau enggak pernah kelihatan kerja?!
BU MARNI
Iya ya, aneh juga kalau dipikir-pikir.
29. EXT. TUKANG SAYUR KELILING - LANJUTAN
MANG UDIN
(pelan, menyentil)
Tiap pagi Bu Dani belanja di saya bayar tunai pakai uang yang pas dan rapi kok. Enggak pernah utang seperti yang lain.
Bu Sumi cemberut - mendadak tersinggung karena dialah pelanggan yang sering menunggak.
BU SUMI
(defensif, agak meninggi)
Saya bukannya iri ya! Saya cuma nyuarain rasa penasaran warga!
30. EXT. GANG RT 04 - LANJUTAN
SLAMET melintas membawa cangkul, menghentikan langkah mendengar nama Pak Dani disebut negatif.
SLAMET
(menegur)
Ibu-ibu ini... pagi-pagi bukannya nyiapin sarapan buat suami, malah sibuk ngitungin uang saku anak tetangga.
BU SUMI
(menoleh tajam)
Pak Slamet ini selalu saja membela Pak Dani. Jangan-jangan disogok ya?
SLAMET
(tertawa kecil, tidak terpancing)
Disogok pakai apa, Bu Sumi? Soal rezeki mereka dari mana, itu urusan mereka sama Tuhan.
Slamet melanjutkan langkah, menggelengkan kepala. Kasak-kusuk pagi itu tetap menyebar lewat ibu-ibu yang pulang membawa belanjaan sekaligus gosip hangat.