36. EXT. SAMPING RUMAH PAK DANI - MALAM BUTA
TARJO, KARSO, dan DEDI (pemuda urakan) mengendap di balik bayangan pohon nangka.
KARSO
(ragu, celingukan)
Kamu yakin mau melakukan ini, Jo? Nanti kalau ketahuan gimana?
TARJO
(menepis lengan Karso)
Kamu penakut sekali, So! Ini waktunya kita kasih pelajaran buat si Dani.
Ia membagikan kerikil kepada Karso dan Dedi.
TARJO (CONT'D)
Lempar ke atap seng bagian belakang. Jangan sampai kena kaca.
37. EXT. SAMPING RUMAH PAK DANI - MALAM BUTA - LANJUTAN
DEDI membidik katapel ke atap seng.
SFX: TAK! - kerikil menghantam seng.
Tidak ada reaksi dari dalam.
KARSO melempar batu lebih keras.
SFX: TAK! BRAK!
Masih tidak ada reaksi - tidak ada teriakan, tidak ada kepanikan.
TARJO
(geram)
Kurang ajar! Dia sengaja mengabaikan kita!
Ia menyeret Dedi ke kotak sakelar listrik di dinding samping. Menarik tuas ke bawah.
SFX: CUP!
Seluruh rumah gelap total.
Tarjo dan Dedi menunggu, membayangkan jeritan panik. Tapi dari dalam, hanya keheningan - lalu pendar cahaya lilin oranye menyala pelan di balik tirai.
38. INT. RUMAH PAK DANI - KAMAR - BERSAMAAN
RARA terbangun, memeluk lengan ibunya.
RARA
Ibu... ada suara apa? Kok lampunya mati?
BU DANI
(mengelus rambut Rara, tenang)
Enggak apa-apa, Nak. Cuma angin malam yang menjatuhkan ranting ke atap. Lampunya cuma mati sebentar.
PAK DANI menyalakan lilin kedua, duduk di samping Dimas.
DIMAS
Bapak, itu bukan ranting kan? Dimas dengar ada suara orang jalan di samping rumah.
PAK DANI
(menepuk bahu Dimas, bijaksana)
Dimas, Rara... dengarkan Bapak ya. Di luar sana, kadang ada orang yang sedang pusing atau sedih dengan hidupnya sendiri. Karena bingung harus melakukan apa, mereka kadang melakukan hal-hal kecil yang enggak baik untuk menarik perhatian. Tapi itu bukan alasan buat kita ikut marah atau takut.
DIMAS
Kenapa mereka enggak datang bicara baik-baik sama Bapak?
PAK DANI
Karena enggak semua orang punya keberanian untuk bicara jujur, Nak. Tapi kalau kita ikut marah, kita sama saja seperti mereka.
BU DANI menuangkan air hangat dari termos ke cangkir plastik untuk Rara.
BU DANI
Minum dulu airnya, Sayang. Malam ini kita tidur pakai cahaya lilin ya. Anggap saja kita sedang kamping di dalam rumah.
Rara tersenyum kecil, ketakutannya luntur.
39. EXT. SAMPING RUMAH - BERSAMAAN
Melihat pendar lilin yang tenang dari dalam, Tarjo mengepalkan tangan, frustrasi.
DEDI
(panik)
Ayo pergi, Jo! Nanti ada yang lihat!
TARJO
(geram)
Brengsek...
Mereka kabur ke dalam gelap.
40. INT. RUMAH PAK DANI - RUANG TENGAH - LANJUTAN
Pak Dani berjalan ke jendela, memastikan selot terkunci rapat. Ia melihat sekilas bayangan dua orang berlari menjauh menuju pos ronda. Ia tidak berteriak, tidak membuka jendela menantang - hanya menghela napas pendek, menggeser tirai kembali rapat.
BU DANI
(mendekat)
Bapak tahu siapa yang melakukan ini?
PAK DANI
Mungkin Pak Tarjo dan beberapa warga yang dipengaruhinya. Mereka makin penasaran karena enggak bisa menemukan celah keburukan kita.
BU DANI
Apa enggak lebih baik Bapak nyalakan lagi sakelarnya?
PAK DANI
Jangan sekarang, Bu. Biarkan saja sampai pagi. Biar mereka tahu kalau kegelapan atau lemparan batu enggak akan pernah bisa merusak ketenangan di dalam rumah ini.
Mereka kembali duduk di dekat anak-anak. Pak Dani mengambil buku cerita, membacakannya dengan suara ramah di bawah cahaya lilin.