3. Scene 11 - 15
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

11. EXT. GANG RT 04 - BEBERAPA SAAT KEMUDIAN

BU SUMI (40-an, membawa baskom plastik berisi dagangan) berjalan pelan, melirik ke rumah-rumah tetangga. Melewati rumah Pak Dani, langkahnya melambat. Matanya tertuju pada gembok hitam yang tergantung bisu.

Ia berhenti di tepi jalan - tanpa pagar penghalang, ia bisa berdiri dekat dengan teras.

BU SUMI
(memanggil)
Pak Dani... Bu Dani...

Hening sesaat. Lalu-

SFX: bunyi gesekan engsel kayu dari jendela samping.

SFX: KLEK.

Jendela terdorong terbuka. BU DANI (wajah segar, rambut diikat rapi, daster bersih) muncul, tersenyum lebar.

BU DANI
Eh, Bu Sumi. Mau mengantar dagangan ke warung Bu Tejo ya?
BU SUMI
(melirik gembok, jaraknya cuma dua meter)
Iya, Bu Dani. Anu... pintunya kok digembok dari luar? Pak Dani lagi pergi ke mana?
BU DANI
(terkekeh pelan, santai, tanpa nada gugup)
Bapak ada di dalam kok, Bu. Lagi membetulkan kaki meja di dapur.

Ia merogoh sesuatu dari meja di bawah ambang jendela.

BU DANI (CONT'D)
Oh iya, Bu Sumi. Pas banget lewat. Saya baru saja mengangkat kue bolu kukus dari kukusan. Masih hangat ini.

Ia menyodorkan piring plastik kecil berisi dua potong bolu kukus hijau, masih mengepulkan uap.

BU SUMI
(agak terperanjat, maju dua langkah)
Ealah, tidak usah repot-repot, Bu Dani...
BU DANI
Tidak repot sama sekali. Cuma bikin sedikit buat cemilan anak-anak. Diambil saja.

Bu Sumi menerima piring itu dengan tangan agak ragu. Aroma pandan dan vanila tercium kuat.

BU SUMI
Matur nuwun ya, Bu Dani.
BU DANI
Sama-sama. Selamat jualan ya.

Bu Dani tetap berdiri, tersenyum, sampai Bu Sumi melangkah menjauh. Baru kemudian jendela ditutup pelan dari dalam.

12. EXT. GANG RT 04 - LANJUTAN

Bu Sumi berjalan sambil menggigit sepotong bolu kukus. Ekspresinya menikmati, tapi matanya sesekali melirik balik ke rumah Pak Dani - heran, bingung, tak terucap.

13. EXT. GANG RT 04 - SIANG - BEBERAPA HARI KEMUDIAN

PRIA BERJAKET KULIT (petugas survei/penagih, membawa buku catatan kecil) berjalan menyusuri gang, berhenti tepat di depan rumah Pak Dani. Ia melangkah ke teras, berdiri di depan pintu.

Dari dalam rumah, suara TV berita siang dan denting sendok-piring terdengar jelas.

PRIA BERJAKET KULIT
(mengetuk keras)
Permisi! Selamat siang! Permisi, Pak!

14. INT. RUMAH PAK DANI - RUANG TENGAH - BERSAMAAN

Begitu gedoran terdengar, suara televisi langsung dikecilkan sampai nyaris hilang. Suara dapur mendadak surut. Rumah menjadi sangat hening.

PAK DANI berdiri sedikit menyamping di balik tirai jendela samping, mengintip sekilas lewat celah kecil - memastikan siapa yang datang. Melihat orang asing, ia memilih tidak melayani, hanya menggeleng pelan pada istrinya sambil tersenyum tipis.

15. EXT. TERAS RUMAH PAK DANI - LANJUTAN

Pria berjaket kulit mengetuk sekali lagi, lebih pelan.

PRIA BERJAKET KULIT
Permisi! Ada orang di dalam?

Tidak ada jawaban. Ia mengernyit bingung, mundur, menggaruk kepala, lalu melangkah turun dari teras menuju rumah sebelah - rumah Slamet.

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)