Tanah Sengketa

Ku buka pagar rumah. Melangkah dengan hati-hati agar tidak ketahuan Mas Bram. Saat pintu mulai terbuka lebar. Mas Bram sudah berdiri di depan ku.

“ Darimana, Mel? " tanya nya cemas.

“ Aku harus jawab apa ke Mas Bram, Masa pulang pengajian ? mentang-mentang ini malam jumat.” Gumamku pelan.

“ kalau ditanya tuh jawab, Amel. Malah bengong. Tuh adiknya Mael katanya hilang sejak kemarin pagi. Mas baru dengar infonya dari anak-anak” tambahnya lagi.

“ Hah, Hilang? Siapa yang hilang Mas? “ tanya ku penasaran.

“ Ya siapa lagi kalau bukan si Otong, adiknya Mael kan hanya Otong, Mel ” imbuh nya.

“ Aku sebenarnya sudah pulang lebih awal Mas. Tapi….. “ Aku berhenti sejenak. Menghela napas. Masih tidak menyangka atas apa yang telah ku lihat saat perjalanan pulang.

“ Tapi apa? ah kebiasaan deh, kalau cerita suka di jedain”

Aku benar-benar ketakutan. Mas Bram melihat jelas ketakutan ku. Ia bergegas ke dapur lalu membawakan ku segelas air.

“ Minum dulu, Mel. Cerita nya pelan-pelan saja, Oke! ” tambahnya.

“ Aku melihat Otong dibawa Pak Ugi ke tanah sengketa di ujung jalan sana, Mas”. Jawabku terbata-bata.

“Hah? Serius Mel? “

“ Iya, Mas. Aku lihat Otong diseret. Tangan dan kaki nya di ikat. Sepertinya Otong mau dijadikan tumbal sama Pak Ugi. Ku lihat ada bayangan hitam besar, berdiri di depan mereka. Sungguh mengerikan! ”.

“ Celaka, Mel. Ini sangat bahaya. Bisa-bisa kita di incar Mel sama…. “ suara Mas Bram terhenti karena ketukan pintu.

“ Bram, Amel, kalian masih di dalam kan? “

Ketakutan ku semakin menjadi-jadi. Aku yakin itu adalah suara Pak Ugi. Hampir saja aku berteriak. Mas Bram dengan sigap menyempil kain di mulut ku.

 “ Ini sangat bahaya buat kita. Setahu Mas, jika ada yang melihat kejadian tumbal. Mereka gak selamat,Mel”

Aku menangis mendengar penjelasan Mas Bram. Tangan ku mencabut sumpalan kain “ terus kita harus bagaimana, Mas? “ tanyaku cemas.

“ Telepon Pak Lurah, Mas Agam, dan Mas Bakti, Mel. Bilang kalau Pak Ugi menyerang kita dirumah”

Arahan Mas Bram ku ikuti. Sayang nya Pak Lurah tidak mengangkat telepon ku. Aku mengirimkan pesan suara ke Mas Bakti dan Mas Agam.

Suara dobrakan pintu rumah semakin kuat. Teriakan Pak Ugi dari luar yang memaksa masuk semakin mengancam aku dan Mas Bram. Seketika, pintu rumah berhasil dibuka. Aku dan Mas Bram tak bisa melawan. Keris yang di pegang seketika menghantam kami. Aku dan Mas Bram tertimpal keras di dinding. Ku lihat Mas Bram berlumuran darah. Aku berteriak sekuat tenaga. “ Tolooooong ! Tolong kami ! “

Mata Pak Ugi memerah. Dia kerasukan. Bibir nya mengeluarkan darah hitam lalu seketika mengarahkan keris pada ku. Aku berteriak keras. Tiba-tiba keris itu terpintal keluar. Ku lihat Mas Bakti dan Mas Agam berusaha menghadang Pak Ugi. Secepat kilat, keris itu lalu menyerang balik Pak Ugi. Dia mati tertusuk keris nya sendiri.

3 disukai 1.9K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction