Cerita Tentang Kedai Bakso

Putri dan Rico menahan perut lapar mereka sejak sejam yang lalu. Sepasang kekasih yang hobi naik gunung ini berhasil turun dari gunung Tangkuban Perahu pada sore hari menuju area berkabut di kaki gunung. Mereka melihat sebuah kedai bakso, dan langsung sepakat untuk mampir. 

Tak ada orang lain di dalam kedai, kecuali si Bapak penjual bakso.

“Pak, bakso dua mangkuk, ya!” pinta Putri.

Setelah mengobrol sejenak, dua mangkuk bakso pesanan mereka pun jadi. Mereka makan dengan lahap hingga tak butuh waktu lama untuk menghabiskannya.

“Baksonya bikin kenyang! Gede-gede. Enak lagi!” ujar Rico setelah selesai makan, lalu mengelus-elus perutnya yang terasa kenyang.

“Ho-oh. Enak banget!”

"Ngaso dulu bentar sambil minum teh anget.” 

“Oke."

"Ngomong-ngomong soal bakso..." Putri berkata. "Aku jadi inget cerita di radio. Aku denger dua mingguan lalu.”

Rico mengernyitkan kening.

“Ada program cerita horor, namanya Merinding Bulu Kudukku. Cerita-cerita yang diceritain di situ dari pengalaman, alias kejadian nyata.”

“Oh, ya? Gimana ceritanya?”

“Ada satu pendengar cerita tentang kedai bakso aneh. Dari pengalaman temannya sendiri waktu dia sama tiga temannya habis lari pagi di Mekarsari.”

“Mekarsari? Bandung?”

“Iya, desa terpencil.” jawab Putri.

“Mereka lihat satu warung bakso. Katanya, baksonya enak banget. Terus salah satu dari mereka pengen nambah kuahnya. Tapi, si bapak penjual bakso nggak kelihatan. Dia manggil-manggil, tapi nggak ada jawaban juga. Akhirnya dia inisiatif nuangin sendiri kuah baksonya dari panci yang jaraknya cukup dekat dari dia. Pas dibuka dan diaduk bentar, dia kaget banget lihat isi di dalam kuah.” 

“Apaan isinya?” tanya Rico penasaran. 

“Potongan-potongan daging manusia. Potongan organ tubuh gitu. Hiy!”

“Hah, yang bener kamu?!" Rico kaget. 

“Iya, dia bilang gitu! Orang yang lihat itu langsung kaget dan kasitahu yang lain. Mereka semua pada kaget. Langsung enek, pengen muntahin yang udah dimakan. Si bapak penjualnya pun nggak kelihatan sama sekali. Mereka langsung ngacir ketakutan. Pas mereka nengok ke belakang... kedainya udah nggak kelihatan. Hilang. Benar-benar hilang.” 

“Hilang semuanya??”

“Maaf, warung saya mau tutup.” tiba-tiba ada suara lain memecah obrolan mereka.

“Oh, udah mau tutup, Pak?!” seru Putri sambil melirik sebuah jam tangan yang melekat di tangan kirinya.

Pukul 17:50. 

“Jadi berapa, Pak?” tanya Rico, mengeluarkan beberapa lembar uang dari kantong celananya.

Rico membayar sesuai jumlah yang dikatakan si Bapak tua tersebut.

“Ambil aja kembaliannya, Pak.”

"Terima kasih." ucap Putri dan Rico.

“Sama-sama.”

Putri merasa agak aneh dengan Bapak tersebut. Dari tadi ia berbicara tanpa menatap mata mereka. Sekeluarnya dari kedai sambil berjalan, Putri menyampaikan hal itu kepada Rico.

“Masa, sih? Tapi... setelah kamu bilang kayak gitu, iya juga. Aneh.”

Setelah berjalan beberapa langkah, Putri menengok ke belakang. Kedua bola matanya membesar karena melotot melihat pemandangan yang baru saja ia lihat. Ia mengucek-ucek mata, tak percaya.

“C-co..” ujar Putri mulai merinding dan merasa takut. “Wa-wa-warung!”

“Warung? Kenapa warung?”      

Rico lekas melihat ke arah sepasang mata Putri sedang menatap dengan sangat ketakutan.

Kedai bakso yang baru mereka kunjungi sudah tidak ada. Lenyap begitu saja di balik kabut beserta seluruh tendanya.

Seketika Rico jadi merinding. Lalu, merasa ingin memuntahkan sesuatu yang belum lama dimakannya.

7 disukai 1 komentar 1.1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Bakso ghaib haha
Saran Flash Fiction