Namanya Kinarsih. Namun, sejak pertama kali kami bertemu dua tahun lalu, aku selalu memanggilnya Kinan. Dia sendiri yang meminta hal itu.
“Aku benci dipanggil Kinar. Pokoknya jangan pernah panggil aku dengan nama itu,” ucapnya ketus suatu hari.
Saat itu aku hanya mengedikkan bahu. Kupikir, setiap orang punya masa lalu atau kenangan buruk yang ingin mereka kubur dalam-dalam. Aku menghormati privasinya dan tidak pernah bertanya lebih jauh.
Sampai akhirnya, sebuah telepon di larut malam mengubah segalanya. Jam di ponselku menunjukkan angka 11.11 ketika namanya muncul di layar.
“Kalau suatu hari aku melupakanmu, apa kamu akan marah?” suaranya terdengar sangat tenang di seberang sana. Lembut, namun terasa asing.
“Pertanyaan macam apa itu? Kenapa kamu harus lupa?” tanyaku, mencoba tertawa.
“Karena aku memang harus melupakan semuanya,” jawabnya pendek. Detik berikutnya, sambungan telepon terputus dan nomornya tidak bisa dihubungi lagi. Perasaanku mendadak tidak enak.
***
Besok paginya, aku langsung mendatangi rumahnya. Sebuah rumah dengan pagar besi pendek dan pohon jambu tua di samping jendela. Ibunya yang membukakan pintu. Namun, ekspresi wajah perempuan paruh baya itu langsung berubah dingin saat aku menyebutkan nama yang kucari.
“Jangan panggil nama itu di rumah ini,” bisik ibunya tajam.
“Kenapa, Bu? Saya temannya. Saya sudah mengenal dia sejak dua tahun lalu,” ujarku bingung.
Mendengar itu, sang ibu tertegun. Ia akhirnya mengizinkanku masuk. Di ruang tamu, mataku tertuju pada sebuah foto berbingkai yang belum pernah kulihat sebelumnya. Foto seorang siswi berambut panjang yang wajahnya persis sekali dengan gadis yang kukenal.
“Itu dia, kan?” tanyaku antusias.
Tanpa diduga, ibunya langsung berjalan mendekat, mengambil foto itu, lalu membaliknya menghadap dinding. “Namanya Kinar. Dan dia sudah meninggal tiga tahun yang lalu.”
Jantungku rasanya berhenti berdetak. “Meninggal? Tidak mungkin, Bu. Saya baru bertemu dengannya dua tahun lalu!”
Ibunya duduk dengan lemas, matanya mulai berkaca-kaca. “Yang kamu temui dua tahun lalu itu adalah saudara kembarnya. Nama aslinya memang Kinan.”
Sang ibu menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan tangis. “Mereka adalah kembar identik dengan wajah yang sama persis. Sejak Kinar meninggal dunia, Kinan mengalami guncangan jiwa yang hebat. Dia depresi. Dia membenci cermin karena setiap kali melihat pantulan dirinya, dia merasa sedang melihat Kinar yang sudah mati. Dia frustrasi hidup dengan wajah yang terus mengingatkannya pada kematian saudaranya.”
Aku tertegun. Potongan-potongan teka-teki di kepalaku mulai menyatu. Alasan kenapa dia benci cermin, alasan kenapa dia benci nama Kinar, dan alasan dari telepon anehnya tadi malam. Kinan rupanya ingin pergi jauh untuk menghapus identitas lamanya dan benar-benar melupakan trauma itu.
Sebelum aku berpamitan, ibu Kinan memberikan sebuah kotak kayu berisi barang-barang peninggalan masa lalu. Di dalamnya, ada sebuah buku catatan harian milik Kinan.
Aku membuka halaman terakhirnya. Di sana ada namaku tertulis dengan rapi, disusul sebuah kalimat yang membuat sekujur tubuhku merinding.
“Kalau suatu hari dia datang mencariku, jangan beri tahu dia bahwa aku sudah mati. Dia belum tahu, bahwa aku bukan orang pertama yang ia cari.”
Aku terpaku menatap tulisan itu. Pikiranku mendadak melempar ingatan ke dua tahun lalu, saat pertama kali aku bertemu dengan gadis itu di sebuah taman.
Satu kenyataan pahit yang selama ini sengaja kulupakan akhirnya menghantam kesadaranku. Saat pertama kali kami bertemu, gadis itu sebenarnya tidak pernah memperkenalkan namanya kepadaku.
Akulah yang datang menghampirinya, menatap wajahnya yang mirip dengan seseorang di masa laluku, lalu langsung memanggilnya, "Kinan." Dan gadis yang sedang depresi itu, memilih berpura-pura menjadi orang yang kucari agar dia bisa kabur dari kenyataan bahwa kembarannya telah tiada.
Kami berdua ternyata hanyalah dua orang asing yang saling memanfaatkan delusi satu sama lain untuk lari dari trauma masa lalu.