Kau terdiam menatap ke tengah laut. Sebuah perahu kecil terombang-ambing perlahan. Layarnya tergulung. Tak terlihat seseorang pun di sana. Seperti perahu yang hanyut, tak ada yang mengendalikan, tak pula ada yang mengembalikan dia ke daratan.
"Seperti itulah aku sekarang." Katamu tiba-tiba, seperti bisa mendengar pikiranku.
"Maksudnya?"
Kau menarik napas, dan mengembuskannya perlahan. "Seperti perahu yang terhanyut tak tentu. Aku dihantui dua lelaki sekaligus. Satu lelaki dari masa laluku, dan satu lelaki yang belum tentu jadi masa depanku."
Kau terkekeh sendiri.
"Memangnya masa lalumu datang lagi?"
"Tidak. Tapi dia menungguku datang." Matamu berkaca-kaca.
"Do you still love him?"
"I'm afraid of him." Kau menggeleng tegas, sambil merapatkan kain bali, menutupi tubuh molekmu yang berbikini.
"Maka pergilah sejauh-jauhnya."
"Sudah. Dan aku sedang sangat lelah. Aku butuh pelabuhan. Tapi satupun tak kutemukan."
"Bagaimana dengan dia? Lelaki masa depan yang selalu kau ceritakan."
"Sudahlah, kurasa dia tak menyukaiku sedikitpun. Aku capek mengejarnya. Dia tak pernah balik mengejarku. Mungkin betul, itu karena dia tak menyukaiku."
"Aku menyukaimu."
"Haha, jangan konyol!" Kau melirik sebal.
"Hei, sungguh! Aku serius!"
Kau malah menjulurkan lidah.
"That's why I like you so much."
"Apaan sih?"
"Eh sini, liat aku dulu!"
Kau menatapku lekat. Menahan senyummu keras-keras.
"See? Aku suka rambutmu yang lembut. Aku suka matamu yang dalam."
Kau membuka kacamatamu, menatapku dan mengusap genangan kecil di matamu.
"Kantung mataku? Jerawatku? Bopeng-bopeng di mukaku?" Kau menggodaku.
"Hahaha, semua yang ada padamu lah!"
"Halaah, gombal kok ngambil lirik lagu!"
Kau menarikku gemas. Bruk!
Aku tersungkur ke pasir seketika.
"Heeei! Apa-apaan ini? Aku tak bisa melihatmu."
Aku mencoba bergerak, mengangkat tubuhku yang hanya sebongkah cermin.
"Bangunkan aku, heeei!"
"Tauk, ah! Berisik!" Kau menendangku menjauh.