Aku selalu naik bus Trans jam enam tiga puluh, setidaknya aku butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke halte paling dekat dari rumahku tepat di jam itu.
Sebenarnya kebiasaan itu bukan karena disiplin, tapi karena bus di jam itu paling sepi. Aku kurang suka rame orang bicara pagi-pagi, apalagi saat penuh anak-anak sekolah yang berdesakan.
Ketika pintu bus terbuka, aku melangkah masuk bersamaan dengan seorang gadis berkursi roda.
Ia memakai hoodie krem dengan headphone besar menutupi telinganya. Wajahnya pucat, cantik, tapi dingin.
Sebuah insiden kecil, kursi rodanya sedikit tersangkut di bibir pintu bus. Aku refleks memegang bagian belakang kursinya.
“Mau kubantu?”
Belum sempat benar-benar menyentuh, dia menoleh cepat.
“Maaf, aku nggak perlu bantuan.”
Nada suaranya datar, dan sedikit ketus. Aku langsung melepaskan tangan.
“Oh. Oke, oke.”
Dia mencoba lagi sendiri, sedikit kesulitan beberapa detik, lalu akhirnya berhasil naik dengan napas tertahan.
Aku berdiri kikuk di dekat pintu.
“Maaf,” katanya lagi, kali ini lebih pelan. “Aku terbiasa ngelakuin semuanya sendiri.”
Aku mengangguk mengiyakan.
“Bukan urusanku juga sih sebenarnya.”
Dia melirik sebentar, terkejut tidak menyangka aku akan menjawab begitu.
Aku berjalan ke kursi belakang dan memasang earphone sendiri.
Menurutku sederhana saja, tidak semua orang ingin dibantu, dan tidak semua bantuan terasa seperti bantuan. Itu saja, jadi selanjutnya aku cuek saja.
***
Kami jadi sering bertemu di bus yang sama sejak kejadian itu. Aku tahu namanya dari kartu akses yang tergantung di tasnya, Jasmine.
Dia selalu duduk dekat jendela, sendirian dan membawa buku atau laptop. Kadangkala wajahnya terlihat lelah sekali, tapi matanya tetap keras seperti sedang kesal dengan sesuatu.
Aku tidak pernah menyapanya lagi, tapi anehnya, justru dia yang mulai memperhatikanku. Mungkin karena aku satu-satunya orang yang tidak memperlakukan dia seperti anak kecil.
Orang-orang terlalu sering begitu ketika melihatnya, membukakan jalan tanpa diminta, membantu mendorong kursi rodanya tiba-tiba, atau berusaha berbicara lembut saat mengobrol dengannya.
Sedangkan aku? Aku bahkan tidak peduli. Kupikir itu mungkin alasan dia mulai nyaman denganku.
Kemudian aku tahu ternyata kami selalu turun di tempat yang sama.
Aku berdiri di samping pintu, menjaga jarak, tidak berniat membantu kecuali dia meminta.
Jasmine turun perlahan, lalu salah satu roda kecil kursinya tergelincir di celah trotoar halte, dan tubuhnya miring.
Aku refleks maju setengah langkah, tapi berhenti. Aku menunggunya bicara, tiba-tiba dia menoleh dengan mata tajam.
“Kamu tuh gimana sih?” katanya kesal. “Udah tahu aku butuh bantuan malah diem aja.”
Aku bengong.
“Lah, kemarin waktu kubantu kamu marah.”
“Itu beda.”
“Bedanya apa?”
Dia terdiam beberapa detik, lalu membuang muka.
“Aku capek selalu harus bilang kalau aku butuh bantuan.”
Aku terdiam mencerna kata-katanya barusan.
Aku akhirnya menarik kursi rodanya perlahan dan mengangkat bagian depan agar bisa melewati celah halte.
“Thanks,” katanya pelan, tapi tetap terdengar ketus.
Aku cuma mengangguk.
Hari itu aku berjalan di belakangnya sampai komplek, dan baru sadar rumah kami ternyata satu cluster yang berisi sepuluh rumah.
“Baru pindah?” tanyaku akhirnya.
“Iya.”
“Pantes nggak pernah lihat.”
Dia tidak menjawab, tapi sejak hari itu, kami mulai sering pulang bersama. Kadang sepanjang jalan kami diam-diaman, sesekali saling sindir, malah pernah bertengkar cuma karena hal sepele.
Menurutku Jasmine keras kepala, suka memaksa mendorong kursinya sendiri meski jalanan menanjak, dan kalau ada orang menatap terlalu lama ke kursi rodanya, mood-nya langsung rusak seharian.
Menurutku Jasmine sebenarnya sedang lelah, marah pada hidupnya sendiri, bukan pada orng lain.
***
Suatu pagi bus kami penuh. Seorang ibu menyuruh anaknya berdiri dari kursi prioritas untuk Jasmine.
Tapi anak itu malah bertanya santai,
“Kakak nggak bisa sembuh ya?”
Aku pikir Jasmine akan marah, tapi dia hanya tersenyum.
“Nggak tahu.”
Katanya tetap berusaha ramah, tapi setelah turun bus, aku melihat matanya merah. Dia lalu bercerita tentang kecelakaan dua tahun lalu.
Teman-temannya perlahan menghilang, dan mantannya pergi karena nggak siap menerima kondisinya.
“Aku capek dikasihani,” katanya lirih. “Makanya aku benci dibantu.”
Aku berjalan di sampingnya tanpa bicara, berusaha mendengarkan semua keluh kesahnya.
Lalu entah kenapa aku berkata,
“Padahal aku juga nggak kasihan sama kamu.”
Dia menoleh.
“Terus?”
“Aku cuma nggak tega lihat orang keras kepala.”
Reaksi Jasmine mengejutkanku karena dia tertawa, dan ternyata wajahnya jauh lebih cantik saat tertawa.
Aku mulai terbiasa memperlambat langkah untuknya, atau membiarkanku membantu tanpa merasa dikasihani. Kami berdua jadi seperti dua orang aneh yang saling mengisi kekurangan dengan cara yang tidak kami sadari.
***
Suatu malam aku menemukan foto lama di dompet ibuku. Foto rumah sakit, ada aku kecil duduk di kursi roda.
Aku langsung membeku. Ibuku yang melihatku cuma menghela napas panjang.
“Kamu nggak ingat karena waktu itu masih kecil,” katanya pelan. “Dulu kamu hampir lumpuh.”
Katanya waktu umur delapan tahun aku pernah kecelakaan. Saraf kakiku sempat rusak dan Dokter bilang kemungkinan aku tidak akan bisa berjalan normal lagi.
Selama hampir setahun aku memakai kursi roda, dan ayahku pergi tidak lama setelah itu.
“Papa kamu nggak kuat hidup sama anak cacat,” kata ibuku dulu, sebelum akhirnya beliau menyesal pernah mengucapkannya.
Tiba-tiba semuanya terasa masuk akal, kenapa aku tidak pernah memandang Jasmine berbeda. Atau tidak pernah merasa kasihan padanya. Aku selalu tahu kapan harus membantu dan kapan harus diam, karena tanpa sadar Aku pernah duduk di kursi yang sama.
Besoknya di halte, Jasmine bertanya heran karena aku terus diam. Akhirnya aku bilang,
“Kayaknya aku ngerti kenapa kamu marah terus.”
Dia mendengus kecil.
“Karena aku nyebelin?”
Aku menggeleng.
“Karena dunia terlalu sering ngatur hidup kamu.”
Dia terdiam.
Lalu aku menceritakan semuanya, tentang kursi roda, dan ayahku yang kabur.
Jasmine tidak bicara lama sekali, kemudian dia tertawa sambil menunduk.
“Lucu ya, selama ini aku kira aku sendirian.”
Bus datang tepat saat itu, Jasmine tidak menolak ketika aku membantunya naik. Tangannya bahkan sempat menggenggam lenganku sebentar.
Hangat, seperti seseorang yang menemukan teman ketika harus melawan dunia sendirian.