"Beb! Aku pernah da, ke Dufan seharian sama si Andri, dari pagi sampe malem. Si eta gak tau-eun. Dia taunya aku kerja. Padahal aku di Jakarta sampe Malem."
Sial. Rani dengan tenangnya mengoceh soal pengkhianatannya di depan Laras.
"Eh, gak malem ketang, sampe pagi lagi baru pulang ke Bandung. Malemnya nginep di hotel sama si Andri."
Laras mengatupkan bibirnya rapat, berusaha keras menelan potongan steak yang belum dikunyahnya.
Rani sungguh tak tahu diri. Dia tak tahu bagaimana Laras menahan diri untuk terus bersikap dingin pada Dimas demi Rani.
"Aku mah ya, kalau jam kerja juga aku fotoin dulu ruang meeting, bilangnya aku lagi meeting, baru buka HP. Udah gitu bablas weh seharian gak perlu nge-chat. Aku minta check out-in belanjaan juga dia mah iya-iya aja."
Bangsat! Diam, Rani! Diam! Kau tidak lihat bagaimana Laras melotot sedetik tadi? Kutendang kaki Rani, dia hanya menoleh sedikit, lalu menggeser kakinya. Sial!
Laras tak bicara sedari tadi. Aku yakin batinnya sibuk memakimu yang berani menggoda Dimas tapi tak pernah menghargainya sebagai lelaki.
Entah apa yang ada di pikirannya, Laras terus diam sambil menggesekkan pisaunya pada daging steak murah yang tipis itu. Pandangannya kosong.
"Kayaknya kalau aku bilang si Andri tuh sepupu aku, dia percaya-percaya aja deh."
DAKK!
Laras mematung sambil membelalak bingung, piring melaminnya pecah. Pisau dan garpunya melayang di udara, lalu jatuh bersama tangannya yang gemetar.
Kalau suatu saat nanti Rani ditemukan terluka, atau tak bernyawa, mungkin aku tahu siapa pelakunya. Tapi aku tak akan bilang siapa-siapa.