Kala itu mati lampu. Dalam cahaya lilin, Roy memandangi layar handphonenya. Tertegun sejenak. Lalu, kembali berhenti. Berpikir sejak tadi cerita yang ia tulis selalu berubah secara karakteristik. Kadang karakter utamanya terlalu melankolis, tapi dalam beberapa kalimat ia terlihat optimis.
Roy sudah lima belas tahun menulis, tapi selalu berada di papan bawah. Jiwanya memberontak. Roy menggeliat dan ingin berlari ke atas, menyusul sejawatnya yang sudah sukses.
Pada akhirnya ia memutuskan satu hal, mempelajari berbagai teknik penulisan. Berbagai buku ia lahap dalam beberapa bulan terakhir. Ia mempelajari teknik mulai foreshadow, sentence rhythm, parallelism, serta berbagai teknik lainnya.
Roy yang cerdas itu bisa memahami dengan cepat yang ia pelajari, tapi mendadak otaknya membeku. Di otaknya sudah ada plot, tapi saat tinggal menulis, ia tergoda untuk mengaplikasikan teknik yang ia pelajari.
Masalahnya pria tersebut sebetulnya bukan penulis yang dewasa. Masalah sebenarnya yang membuat ia tak pernah naik kelas. Ia menggunakan teknik karena ingin diakui, bukan karena cerita membutuhkan.
Roy kembali membaca ceritanya. Pria yang dulu selalu lancar menulis tersebut baru kali ini mengalami kebuntuan. Ia tahu itu karena terlalu mempelajari teknik. Tapi pria yang juga penjaga perpustakaan tersebut terlalu enggan mengakui, bahwa kemampuan terbesarnya ialah, tulisan yang mengalir, bukan berbagai teknik rumit.
Lalu Roy mendapat email di handphonenya. Membuat ia harus menghentikan sejenak aktivitas menulis. Roy mendapati cerpennya lulus uji, dan ia diterima sebagai bagian dari tim kepenulisan sebuah majalah.
Tapi tim kepenulisan salah mengira, menyangka Roy adalah pemuda berusia delapan belas tahun. Roy bukannya senang dianggap lebih muda. Justru dirinya tersinggung, karena merasa dianggap bocah yang baru belajar menulis, padahal menulis tak pandang tua atau muda.
Lalu ada pesan baru lagi, ia diminta menyerahkan satu cerpennya untuk tanggal 10 Oktober. Itu berarti ia harus mengirim cerita empat belas hari lagi.
Seharusnya itu hal yang wajar saja bagi Roy yang dulu. Tapi untuk dirinya yang kini sudah dijejali dengan berbagai teknik, pria tersebut merasa kewalahan.
Lalu saat memeriksa kembali ceritanya, ia merasa banyak kalimat terasa terlalui tell. Di pikiran Roy kini muncul dua pilihan, memperbaiki dulu atau lanjut. Meski walau lanjut pun, dirinya paham pendirian karakter utama dalam cerpen dirasa tak konsisten.
Ia ragu. Awalnya berniat mengubah sifat karakter, tapi sadar bisa merubah kontruksi cerita secara keseluruhan, sedang ia sudah menulis hampir tiga ribu karakter.
Hati nurani penulis yang stagnan tersebut menyatakan, tak mau waktu yang seharusnya untuk menulis alur baru, justru dihabiskan untuk perbaikan.
Jantung Roy berdebar kencang. Dilemanya semakin kuat. Padahal ide di kepalanya sudah menumpuk, termasuk teknik narrative economy yang ingin ia aplikasikan. Tapi saat ia kembali membaca karyanya, ia sadar teknik tersebut bisa terlalu dipaksakan.
Roy bingung total. Pria dengan satu putra tersebut pun mulai merasa mendengar anaknya, Leo, yang masih berusia empat tahun mengejek dirinya. Roy pun membentak putranya. Nadanya tinggi dan membuat Leo yang ada di kamar sebelah menangis sampai mengompol. Leo menangis makin kencang, ia berjalan kesana kemarin sampai menyenggol lilin.
Roy tak peduli. Duda ditinggal mati tersebut lebih mengutamakan karyanya, ketimbang putranya yang butuh bantuan. Roy merasa lebih logis untuk melanjutkan cerita, yang bisa berdampak pada kesejahteraan sang putra di masa depan, ketimbang mengurusi Leo sekarang.
Roy masih berpikir, apakah ia harus memperbaiki struktur cerpen atau sifat karakter utamanya. Hal itu berlangsung di tengah-tengah kebingungan serta tangis Leo yang semakin keras.
Lalu datang kembali email, dari surat kabar yang sama. Rupanya itu peringatan, sebab Roy tidak membalas email sebelumnya. Dalam email tersebut Roy diberitahu, ia wajib membalas, apakah dirinya menerima pekerjaan atau berubah pikiran.
Roy bimbang. Ia berpikir, jika menerima tidak ada jaminan dirinya bisa memenuhi syarat, dan menyerahkan naskah tepat waktu. Sedang tangis Leo semakin pecah. Bocah tersebut berteriak minta tolong karena terjebak dalam api. Lilin yang ia senggol apinya menyebar.
Roy sendiri masih bimbang pada keputusannya. Ia terbakar oleh rasa ketidakmampuan. Merasa bakatnya selama ini adalah delusi terbesar yang menjebaknya.
Beberapa menit dalam lamunan putus asa, terasa ada tangan kecil yang menggenggam. Roy kaget, tersadar dari lamunan. Ia mendapati tembok antara kamarnya dengan kamar Leo sudah terbakar hebat.
Saking terkejutnya ia justru mengamankan handphonenya terlebih dahulu. Alasannya, ia berniat membalas email selepas membebaskan diri. Roy sama sekali lupa dengan Leo.
Roy berhasil keluar, ia menonton rumahnya terbakar bersama warga lain. Rumah dua lantai warisan orang tua ludes. Beberapa orang bersyukur rumah Roy tidak berdekatan dengan rumah siapapun, sehingga tidak menjalar ke rumah warga lain.
Setelah beberapa detik, Roy ditanyai oleh salah satu warga. Tentu soal Leo. Roy langsung shock, begitu fokus dengan karir ia melupakan buah hati sendiri. Roy berusaha masuk ke kobaran api, dan tentu dicegah oleh warga. Alasannya Leo tak mungkin selamat, sebab berada di dalam kobaran api sebesar itu.
Roy histeris, ia sangat amat menyesal. Ia diberi pilihan antara meningkatkan karir atau stagnan di tempat, namun tanpa sadar dirinya memilih, dengan jawaban tragis, yaitu mengabaikan buah hati sampai terjadi tragedi.