Siang itu matahari tepat di atas kepala. Panasnya Jakarta Barat membuat tulang hampir setiap orang melepuh. Joni masih menunggu di depan sekolah.
Dia bukan menjemput anaknya, bukan pula murid yang menanti kawannya untuk diajak ngelayap, atau bukan pula seorang murid budiman yang sedang membantu guru.
Joni adalah seorang fakir yang meminta sisa makan bergizi gratis. Ia meminta bukan karena maruk, bukan pula serakah. Ia hanya ingin mengisi perut dirinya serta adik perempuannya yang masih kecil.
Yatim piatu tersebut tidak mendendam, walau isunya kedua orang tua tewas tak wajar. Yang konon diprakarsai mafia setempat.
Fokus Joni, bersama Tata, si adik perempuan, kala mendengar kedua orang tua mereka tewas, adalah bertahan untuk hari ini. Bukan mencari sesuatu untuk hari esok, atau fokus membangun diri demi cita.
Joni disapa ramah Bu Atin, salah satu guru yang sebetulnya seusia dirinya, dan memiliki kecantikan layaknya bidadari.
Sama sekali tidak ada harapan dari Joni untuk bisa berpacaran apalagi meminang. Bahkan sekedar pikiran untuk akrab pun tidak. Joni cukup tahu diri.
Setelah menerima sisa paket makan bergizi dari Bu Atin, Joni langsung pulang. Jarak rumah sekitar lima kilometer. Joni terbiasa berjalan kaki. Ia tak punya uang untuk naik transportasi umum.
Sebetulnya ia punya kartu transportasi yang diberikan pemerintah secara gratis. Namun dulu ia pernah sekali menaiki bus Trans Jakarta, sayangnya jadi bahan tontonan.
Tidak ada yang mengejek atau menjelekkan dirinya. Tapi lebih ke gestur juga tatapan yang membuat tidak nyaman. Sejak saat itu Joni memutuskan untuk berjalan kaki kemanapun ia pergi, dan kartu itu sekarang sudah berdebu di rumahnya, yang lebih tepat disebut gubuk tak layak.
Beberapa pemuda juga pemudi bermain gitar, mereka tetap bernyanyi dan sibuk dengan aktifitas mereka. Joni bersyukur dirinya tidak jadi sasaran bully. Atau mereka hanya tidak melihat Joni saja? Tapi ia bersyukur tak dihina.
"Alhamdulillah, Ya'Allah."
Ya. Bagi Joni tidak menjadi sasaran ejekan saja, sudah cukup untuk membuat dirinya mengucap puji syukur pada penciptanya.
Rumah masih sekitar delapan ratus meter. Bukan jarak yang jauh, tapi tidak dekat pula. Dan kebetulan waktu menunjukkan pukul tiga lebih.
Sebetulnya ada masjid untuk berhenti tuk solat ashar, tapi pikiran Joni lebih tertuju pada perut adiknya, yang kemungkinan sudah menahan lapar sejak dua jam lalu.
Ia pun melewati masjid. Hati Joni sebetulnya sedih. Joni berpikir seandainya dirinya orang mampu. Tapi menjadi mampu pun tidak menjamin dirinya akan lebih dekat dengan Tuhannya. Joni sangat paham itu.
Dalam lamunannya Joni dikagetkan oleh bunyi klakson motor. Rupanya Bu Atin yang faktanya cantik jelita itu, menawarkan tumpangan pada Joni.
Guru muda tersebut mengatakan jarak rumah tinggal lima ratus meter, jadi Joni tak perlu merasa bersalah karena bensinnya tak seberapa.
Beberapa saat kemudian Joni turun dari motor, ia sampai di kediamannya. Tata yang berusia sembilan tahun pun muncul. Ia mencium tangan Atin, juga tangan Joni.
Atin membelai rambut Tata, kemudian memberinya dua puluh ribu rupiah. Joni berterima kasih. Ia tidak enak menolak karena sudah cukuo akrab dengan guru yang telah bertunangan tersebut.
Joni dan Tata tersenyum sambil melambaikan tangan, pun Atin membalas dengan membunyikan klakson.
Keduanya kemudian masuk, tidak bisa bersantai. Karena dalam tiga puluh menit Joni harus kembali memulung. Dan Tata... Kembali kesepian. Mengkhayalkan sesuatu, yang seharusnya menjadi hak untuk anak seusianya.
Esok pun berbagai aktivitas yang sama bakal dilakoni. Entah sampai kapan. Ya. Entah sampai kapan.