‎Catatan:
‎Semua nama tokoh dalam cerpen ini sengaja dibuat asal-asalan untuk menghindari orang-orang yang menganggap bahwa kehidupan dan masalah merekalah yang menjadi inspirasi cerpen. Jadi, dengan tidak menggunakan nama yang umum, persoalan soal royalti pun dianggap selesai.
‎Kita mulai ceritanya, ya!
‎Sekelompok pemuda kaya dari Vietnam yang menghindari perang melarikan diri ke Kongo, di benua Afrika, dengan tujuan bersenang-senang, menikmati pemandangan alam dan satwa liar, serta mencoba mengenal penduduk setempat. Namun, Kongo ternyata jauh dari bayangan mereka.
‎Penduduk yang mereka kira hidup bahagia dan ramah justru memperlihatkan kenyataan yang sangat berbeda. Mereka mendapati realitas pahit: 90 persen populasi mengalami kelaparan, dan hampir setengahnya adalah anak-anak yang mengidap penyakit mematikan.
‎Hung Du’o’ng, atas inisiatifnya sendiri, mendatangi pemerintah Kongo, tepatnya Menteri Keuangan dan Lingkungan Hidup, namun tidak mendapat tanggapan berarti. Pejabat tersebut mengklaim bahwa negara itu memang miskin. Hung Du’o’ng tentu tidak mempercayainya.
Ia kembali ke permukiman dan bertanya kepada Ahn Trung, karena pamannya adalah seorang duta besar di Swiss. Jawaban Ahn Trung mengejutkannya, ternyata pemerintah Swiss dan negara-negara lain kerap mengirimkan bantuan ke Kongo. Dari sinilah muncul dugaan adanya korupsi di kementerian Kongo.
‎Ancaman dituduh mencemarkan nama baik pejabat bukan satu-satunya masalah. An Kuan yang gemar berburu masuk hutan sendirian untuk memburu hewan liar, memaksa Ahn Trung mengejarnya karena sangat berbahaya. Tien Vit hanya sibuk ngoceh sendirian sambil menghabiskan persediaan makanan.
‎Cie Kong cuma bermain kartu dengan Ming Ven. Vao Au sibuk minum dan tidur di mana saja. San Ing terus-menerus memaki penduduk lokal dan menggoda mereka. Bing On selalu tidur di pagi hari, namun terjaga di malam hari dengan alasan ia menyukai kesepian.
‎Pieng Et kerap berteriak di tengah malam karena melihat halusinasi di permukiman dan membangunkan semua orang. Tong Ahn sering menceritakan kisah-kisah tak masuk akal, memposisikan dirinya sebagai pahlawan di mata warga lokal. Sementara Bao An hanya sibuk mengejar perempuan-perempuan desa di Kongo.
‎Kegilaan mereka semakin menjadi ketika seorang pejabat korup mendarat di permukiman itu dan berniat membunuh mereka semua. Ternyata, Tien Vit difoto oleh seorang tentara yang gemar fotografi. Cie Kong dan Ming Ven justru mengajak beberapa tentara untuk bermain kartu dengan taruhan harta.
‎An Kuan, tanpa sepengetahuan Ahn Trung, sedang berburu dan menembak bagian tubuh seorang tentara paranoid yang menyamar, membuat tentara itu kabur ketakutan. An Kuan yang mengira itu buronan malah mengejarnya ke dalam hutan.
‎Vao Au menyuap beberapa tentara dengan minuman keras, dari situlah mereka menceritakan alasan mengapa mereka gemar mabuk. Sang Ing yang merasa tersaingi, justru semakin sinis memaki penduduk lokal, membuat Sakulo Okulo, pejabat korup tersebut, mengira Sang Ing berpihak kepadanya. Hung Du’o’ng pun meminta Sang Ing menjadi mata-mata.
‎Bing On tidak mengetahui apa-apa dan hanya bertanya mengapa para tentara minum dan bermain kartu hingga tengah malam. Pieng Et berteriak semakin keras karena mendengar tawa teman-temannya bersama tentara Kongo yang berjudi dan mabuk sampai larut.
‎Tong Ahn kembali menceritakan dongeng-dongengnya kepada tentara yang penakut hingga membuat mereka ciut nyali, sementara Bao An kembali sibuk bersama perempuan-perempuan desa.
‎Hung Du’o’ng dan Ahn Trung sibuk mengevakuasi dan menyadarkan kembali teman-teman mereka serta warga sekitar, namun keakraban yang kacau itu justru membuat suasana perang terasa sangat satir, lucu, dan absurd. Pengecualian hanya pada An Kuan dan Eron karena belum kembali dari hutan.
‎Sementara Sakulo Okulo justru kehilangan kewarasan, mengklaim dirinya bisa menunggangi senjata nuklir dan mendarat di planet Jupiter, yang menurutnya adalah tempat asal leluhur Kongo dan seluruh ras Afrika.
‎Para pemuda Vietnam yang tersisa dan masih hidup berhasil melarikan diri, namun hanya sementara. Kapal mewah mereka akhirnya karam karena mereka menghentak-hentakkan kaki saat berpesta di kabin. Mereka tidak tahu bahwa kapal yang mereka beli dengan harga mahal itu adalah produk ilegal yang ironisnya dibuat di Kongo. Hanya dengan hentakan beberapa pemuda saja, lantai kapal jebol, kapal bocor, dan air pun masuk.
‎Mereka akhirnya ditemukan oleh kelompok separatis. Pemimpin mereka menyatakan bahwa para pemuda itu bisa menjadi santapan, karena persediaan makanan telah habis. Dalam kondisi setengah sadar akibat terlalu banyak menelan air, mereka dibawa oleh gerombolan separatis untuk dijadikan santapan.