“Tubuh ini …, sejak awal tidak pernah menjadi milikku. Bagaimana menurutmu?” Sorot mata yang datar. Raut wajah yang tidak pernah tersenyum, berulangkali El bertanya padaku tentang hal yang sama.
Aku sudah menjalani hubungan selama 5 tahun dengan El, bukan waktu yang singkat untuk saling mencintai satu sama lain. Kami berbicara tentang topik yang seru sampai sore, menonton film di bioskop, tapi kadang-kadang menghabiskan waktu hanya dengan bermain kartu pada malam minggu. Semua itu terasa menyenangkan, meski rutinitas itu tidak pernah berubah.
Aku dan El saling memahami. Kelebihan dan kekurangan wanita itu sudah kuhafal diluar kepala. Eladari Fatima, suatu keberuntungan bagiku karena mengenalnya. Ia tenang, pintar, dan perhatian, meski kuakui ia kurang ekspresif. Namun aku tidak terlalu peduli soal penampilan, aku yakin itu bisa diperbaiki. Ini hanya masalah waktu.
Satu hal yang membuatku sedikit tidak nyaman, yaitu ketertarikannya pada tubuh manusia. Meski awalnya aku tidak mempermasalahkannya, tapi aku tidak menyangka bahwa semakin lama, kebiasaannya itu akan menjadi mimpi buruk bagiku. Tanpa sengaja aku pernah melihat ia menatap dingin jemarinya yang tersayat, hingga darah menetes ke telapak tangannya, atau saat ia hampir memotong tangannya dengan gerinda.
“Aku hanya ingin lihat, apa ini benar-benar milikku,”
Itulah yang akan selalu ia katakan saat aku bertanya padanya. Alih-alih takut, aku justru merasa khawatir jika terjadi sesuatu padanya. Untuk itulah aku selalu mengawasinya dengan CCTV yang kupasang diam-diam di sudut rumahnya. Tentu aku tidak akan menggunakan kesempatan ini untuk hal yang mesum, bagaimana pun El adalah orang yang kucintai, jadi batasan semacam itu harus tetap kujaga.
“Dimas,” panggil El membuyarkan lamunanku.
“Ada apa?”
“Aku bertanya pendapatmu,”
Aku pun teringat dengan pertanyaan yang El ajukan padaku.
“Aku tidak terlalu peduli, tubuhmu milik siapa. Meski tubuhmu milik orang lain, itu tidak mengubah fakta bahwa kau masih Eladari Fatima yang kukenal,”
“Seandainya tubuhku ini bukan milikku, dan mungkin saja aku mencurinya dari orang lain, apa kau masih mencintaiku?”
Aku terdiam beberapa saat, memutar otak untuk mencari jawabannya.
“Tentu saja, aku masih mencintaimu dan akan selalu begitu,” jawabku sambil tersenyum.
El pun tersenyum, kurasa jawabanku memuaskan dirinya. Yah, itu harga yang sepadan untuk pertanyaannya yang terasa menganggu bagiku.
“Seperti yang diharapkan darimu, kau selalu tahu menghadapiku,”
Aku memeluknya dengan erat, mengelus kepalanya. Begitu kusentuh pucuk kepalanya, terdengar suara retakan. Ah bagaimana bisa aku melupakan bagian itu. Besok aku harus membawa lebih banyak orang dengan kualitas tinggi. Seperti yang kuduga, ini hanya masalah waktu sampai aku benar-benar memperbaikinya.