Disukai
0
Dilihat
21
Pengasuh
Horor
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Krek …, krek!

Helai demi helai rambut terlepas dari kepalaku. Empat mata pisau bergetar bersamaan dengan suara mesin yang terdengar dari alat pemotong rambut, benda keramat itu seolah tidak terlihat saat seorang guru melewatiku begitu saja. Mungkin karena ia berpikir merepotkan berhubungan dengan seseorang yang punya kendali penuh atas segala sesuatu, memikirkan hal itu membuatku sontak tertawa. 

Satu anak menendang perutku, tenaganya lebih keras dari dua anak yang berdiri dibelakangnya.  Ia Jan, gadis yang sedang memangkas sebagian rambutku.

“Berhenti bergerak, aku sedang berkonsentrasi membuat mahakarya tahu,” tegur Jan. Aku ragu, ia hanya sedang bermain-main seperti orang bodoh. Meski begitu, tubuhku seakan ditahan oleh sesuatu yang membuatku tidak bisa melawannya.

Kehidupan bagai neraka ini, aku dipaksa untuk menikmatinya. Bukankah Tuhan sedikit berlebihan? Bahkan aku tidak menemukan sedetik pun kebahagiaan yang bisa kubanggakan pada diri sendiri. Aku melangkah pulang dengan gontai, rasanya ringan seperti selangkah lebih dekat dengan kematian. Orang sekitar menertawakanku, bahkan diantara mereka mempotretku dengan ponselnya. 

Aku terdiam di depan pintu rumah. Tempat ini lebih pantas disebut sarang kejahatan alih-alih sebuah rumah. Beberapa wallpaper sudah terkelupas dan begitu masuk, aroma menyengat dari alkohol terasa menusuk hidungku, lalu terdengar suara lenguhan seorang wanita dan pria telanjang bercampur menjadi satu. Aku tidak terkejut dengan pemandangan seperti itu, yang lebih mengejutkan adalah ketika dua binatang hewan buas itu tetap bercinta tanpa menyadari keberadaanku. 

Sepertinya itu pria ke sekian yang datang kesini. Aku tidak mengenalinya, wanita itu sangat suka sekali berganti-ganti pasangan, sampai aku berpikir bahwa harga dirinya lebih murah dari ikan yang diobral di pasar. 

Ketika aku menyimpan ranselku dikursi, barulah keduanya sontak menatapku. Buru-buru wanita itu mengambil pakaiannya. Rahangnya mengeras dengan kilatan mata yang seakan siap memakanku.

“Goblok! Sudah berapa kubilang untuk mengetuk pintu sebelum masuk,” teriak Ibu. 

“Sudah kulakukan dari tadi, mungkin Ibu tidak mende–”

Plak

Tamparan itu mengenai pipiku, terasa panas dan menyakitkan. 

“Berani melawan? Setiap orang tua menasihati, terus saja menimpali begitu. Dasar idiot, aku mengorbankan banyak hal untuk membesarkanmu, bisakah kau sekali saja membiarkanku untuk merasa bahagia sedikit saja,” 

Aku tidak mengerti, bagaimana pembelaan diri bisa dianggap dosa. Untuk inilah aku berhenti berdoa, aku merasa bahwa karma hanya berpihak pada orang seperti Ibuku, bukan padaku. Meski setiap hari diperlakukan seperti ini, aku tidak pernah cukup terbiasa dengannya. Rasa sakitnya masih sama, malah semakin memburuk. 

Aku tidak tahan lagi, kuputuskan untuk meninggalkan tempat busuk itu. Aku bisa hidup dimana saja, uang dari pekerjaan sampingan masih cukup untuk sekedar membeli makanan untuk diri sendiri. Selama ini hanya aku yang bekerja keras, Ibuku tidak sekali pun memberikan sepeser pun padaku. 

Awalnya kukira akan mudah, tapi tidak ada tempat yang cocok. Kebanyakan tempat selalu punya penjaga, aku akan ditendang begitu ketahuan tertidur di depan ruko. Di bawah jembatan pun tidak aman, banyak penjahat berkeliaran dan mereka bisa mengambil uangku kapan saja. 

Sampai aku di sebuah hutan yaitu Hutan Pangemong. Tempat itu menyeramkan bagi kebanyakan orang, ada yang mengatakan bahwa begitu seseorang masuk maka ia tidak pernah kembali. 

Tentu aku termasuk dari salah satu orang yang percaya legenda itu. Namun bagiku, lebih menakutkan jika tidak punya tempat tinggal. Setidaknya di hutan aku bisa mendapatkan makanan secara gratis dan layak dimakan.

Aku tidak mengira bahwa tempat ini begitu sepi. Berbeda sekali dengan yang diceritakan didongeng-dongeng, dimana hutan selalu diceritakan sebagai tempat yang ramai dengan kicauan burung dan hewan lain. 

Srek

Tiba-tiba bulu kudukku meremang. Kurasakan pergerakan sesuatu dari semak-semak, lalu terdengar dengkuran seperti dari seekor anjing, kuambil dahan kayu untuk menakutinya. Tiba-tiba, tiga anjing berbadan besar melompat keluar dari semak-semak. 

Keberanianku mulai ciut. Tentu saja, siapapun pasti ketakutan setengah mati jika berhadapan dengan tiga binatang buas sekaligus. Sontak aku berlari dengan keras, tapi sialnya anjing-anjing itu mengejarku. 

Konyol sekali jika aku mati hanya karena dikeroyok kawanan anjing. Aku melompat begitu ada dahan besar didepanku, dan sialnya kakiku terkilir. Aku ingin menangis, rasanya kematian lebih dekat dari sebelumnya. 

Aku pun sampai di jalan buntu, tidak ada jalan keluar. Aku panik setengah mati, mungkinkah ini akhir hidupku? Aku berharap Tuhan bisa mendengarku, meski hidupku menyedihkan, aku masih ingin tetap hidup. 

Kawanan anjing itu merintih. Sebuah cipratan mengenai pipiku, dengan bau amis menusuk hidungku. Begitu aku membuka mataku, betapa terkejutnya aku mendapati pemandangan mengerikan, yang terjadi didepanku.

Sebuah batu besar menggencet tubuh mereka, membuat organnya berceceran dimana-mana.  Melihat kawannya yang mati mengenaskan, anjing yang lain pun lari dengan penuh ketakutan. 

Selama beberapa saat ia terdiam, menyaksikan pemandangan menjijikkan didepannya. Sebagian darah anjing itu mengenai pipiku. Cahaya masuk dari celah pohon, lalu menyoroti batu besar itu.  Mataku seketika berbinar. Aneh, alih-alih merasa takut, justru aku merasa tenang. 

Kemudian aku terkekeh, menertawakan diriku sendiri. Sepertinya aku mulai tidak waras, karena merasa nyaman setelah diselamatkan oleh sebongkah batu yang konyol. Aku mendekati batu tersebut, lalu meraba permukaan yang terasa kasar ditanganku. Bisakah seorang manusia mengucapkan terima kasih pada sebuah batu? Mungkin orang-orang akan menganggapku gila.  Namun, tidak penting siapa yang menyelamatkanku, aku tetap harus mengatakannya. 

Ketika aku ingin membuka mulutku, sebagian dari diriku menahanku untuk tidak melakukannya. Jadi kuurungkan niatku dan memilih untuk pergi dari Hutan Pangemong. 

“Suni,”

Suara lembut seorang perempuan menghentikan langkahku. Angin menerpa kulitku, membuatku seketika bergidik. Aku pun menoleh ke arah batu tersebut, aku yakin sekali suara itu berasal dari sana. Namun setelah kupastikan, tidak ada suara lagi yang muncul. Mungkin hanya perasaanku.

Semalam aku tidak pulang ke rumah. Kuputuskan untuk tidur di rumah kosong, dekat tempatku bekerja. Bahkan aku memilih untuk membolos hari ini, aku sempat berpikir untuk berhenti sekolah saja. Tempat itu penuh dengan orang-orang mengerikan, aku bisa gila jika terus berada disana. 

“Ah sial, salah lagi,” Bos Aman mencoret gambarnya, lalu membuang kertasnya  ke tempat sampah. Wajah pria itu menegang, keringat bercucuran dari dahinya. Sudah tiga jam lebih ia terus berkutat sambil memandangi dinding yang sudah dicat polos.

“Bolehkah aku yang melakukannya?” tawarku. Sebenarnya aku lihai dalam menggambar. Namun aku jarang menunjukkan pada orang-orang. Terkecuali Bos Aman, aku ingin berguna baginya setidaknya ini bisa menjadi balas budi karena pria itu membiarkanku bekerja untuknya.

“Kau bisa menggambar?” tanya Bos Aman.

Aku mengangguk, jantungku berdegup kencang ketika ia terdiam beberapa saat. Mungkinkah ia ragu? Wajar saja siapapun akan bereaksi seperti itu. Ditambah gambar ini menyangkut bisnis Bos Aman. Pria itu pasti akan berpikir ulang untuk ini. 

“Baiklah. Kuserahkan padamu,” Bos Aman mengelus lembut kepalaku sambil tersenyum.

Aku pun mengerahkan kemampuanku. Pertama aku harus memikirkan konsep lukisan yang sesuai dengan restoran ini. Kemudian sebuah ide terlintas dalam pikiranku, setelah melihat sepasang suami istri bersama anak mereka, tengah menikmati makanannya.

“Tempat yang mereka sebut rumah,” gumamku lalu tersenyum.

Aku mulai menggoreskan warna ke dinding tersebut. 

Kakek, menurutmu keluarga itu seperti apa?”

Samar-samar ucapan itu bergerak dari celah pikiranku, ucapan dari seseorang yang tidak bisa aku temui lagi. 

Sulit menjelaskannya. Mungkin seperti bunga-bunga yang mekar di sana atau matahari yang bersinar terang …,”

Senyum merekah, seolah membenarkan ucapan itu. Kupilih warna kuning untuk mewarnai bagian bunga matahari. Sesekali kuseka keringat diwajahku, dengan handuk yang tergantung dileherku.

Sederhananya, selama itu membuatmu nyaman, kau bisa menyebutnya keluarga,”

Tanganku sontak berhenti begitu ingatan terakhir dari ucapan Kakek itu muncul. Aku pun teringat pada saat aku diselamatkan oleh sebongkah batu. Entah kenapa itu menarik perhatianku, rasa nyaman yang kurasakan saat melihatnya, berbeda dengan apa yang kurasakan ketika bersama Bos Aman. 

“Wah, keren! Apa kau yang membuatnya?” celetuk seorang gadis membuyarkan lamunanku. 

Gadis dengan setelan dress panjang berwarna merah muda itu menatapku, aku tidak terbiasa dengan ini. Memang menyedihkan, jujur saja aku tidak pernah punya teman. Jadi, aku tidak tahu caranya berinteraksi dengan gadis seusiaku. 

“Suni. Wah! Kau sudah menyelesaikannya, ini benar-benar menakjubkan,” ujar Bos Aman, ia datang disaat yang tepat. Aku pun mengabaikan gadis itu, tidak peduli meski ia menganggapku tidak sopan.

Bos Aman memberiku tambahan dari gaji yang kuterima. Sepertinya aku harus membeli daging panggang untuk sekedar perayaan kecil-kecilan. Lalu keberuntunganku bertambah satu, ketika ada diskon besar di pasar. 

Kemudian kusantap makanan yang sudah kubeli di dekat jembatan. Aku tidak menyangka bahwa hasil dari kerja keras bisa senikmat ini. Sepertinya Tuhan sedang berbaik hati padaku.

“Tidak sopan,” celetuk seseorang. Begitu aku menoleh, ternyata orang itu adalah gadis yang tadi. Apa dia mengikutiku? Jika iya, maka ia orang berbahaya.

“Aku tidak mengikutimu,” ujar gadis itu seolah membaca pikiranku. Ia pun menunjukkan kantong belanjaan miliknya,”aku baru pulang dari warung untuk membeli sesuatu, jadi jangan kau pikir aku mengikutimu,”

Kemudian gadis itu duduk disampingku. Kupikir ia akan khawatir dengan dress miliknya, yang mungkin saja kotor karena tanah. Tapi ia justru tenang, dan tidak mempedulikan itu.

“Kau mengabaikan pertanyaanku tadi siang, itu tidak sopan,” ujarnya dengan kesal. 

Mendengar pengakuannya, membuatku merasa bersalah. Namun jika aku meminta maaf padanya secara langsung, itu hanya akan membuka celah dan kesempatan kami menjadi berteman bisa saja terjadi. Aku tidak ingin ada interaksi dengan siapapun selain Bos Aman. 

“Kau diam lagi, apa kau membenciku?” Gadis itu mendekatiku, aku gugup saat wajahnya terlalu dekat denganku, yang bisa kulakukan hanyalah menutup mataku.

Gadis itu menghela nafas, ia memundurkan tubuhnya menjauhiku,”Maaf, sepertinya aku terlalu menakutimu. Tapi kau tahu, aku tidak punya maksud jahat, aku hanya ingin berteman denganmu…,” ia terdiam beberapa saat seolah memikirkan kata yang tepat untuk diucapkan,”dan mungkin memintaku untuk mengajariku cara menggambar, tapi kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu,” 

Tentu saja aku tidak ingin melakukannnya. Berhubungan dengan orang lain itu merepotkan, karena di dunia ini tidak ada istilah teman, keluarga, atau seseorang yang bisa mengerti. Orang-orang hanya berlalu lalang, mencari kepuasan hasrat mereka dan seenaknya menamai hasrat itu dengan ketulusan. Aku membenci bahwa fakta semacam itu harus ada, tapi aku lebih benci ketika aku sama seperti mereka. 

“Baiklah,” ujarku. Gadis berjingkrak, raut wajahnya menunjukkan kebahagiaan. Bandana kuning bermotif volkadot miliknya bahkan sampai hampir terjatuh.

Ren begitulah gadis itu dipanggil. Aku tidak punya niat untuk menjadi temannnya. Namun tidak ada salahnya jika hanya memberinya sedikit bantuan. Aku yakin Kakek pasti akan melakukan hal yang sama jika ada diposisiku. 

Malam sudah semakin larut, Rena sempat menawariku untuk pulang. Namun aku menolaknya, perasaan menjijikkan itu muncul lagi. Aku hanya terus berjalan tanpa arah, setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan untuk mengalihkan pikiranku.

Begitu tersadar, aku sudah berada di tempat dimana aku diselamatkan oleh sebongkah batu. Benda besar itu masih dalam posisi yang sama, tidak bergerak satu jengkal pun dari sana.  Kusentuh permukaan batu tersebut, masih sama seperti sebelumnya, terasa kasar.

“Sepertinya bukan kebetulan jika aku tiba-tiba pergi kesini, apa ini semacam kutukan? Atau memang kau yang memintaku kesini?” tanyaku disela tawaku. Kegilaanku semakin jelas saja, karena mengajak benda mati bicara. 

“Kau tahu, hari ini aku makan daging. Rasanya enak sekali, tapi aku merasa ada yang kurang, seharusnya daging itu lebih enak dari buatan Kakek …,” Kuremas dengan erat sekantong dari sisa daging yang kumakan,”Padahal Kakek tidak bisa memasak, bahkan daging panggang buatannya sangat keras, tapi…,” Air mataku keluar, tidak peduli mau berapa kali pun kuseka, tetap saja itu tidak bisa membuatnya berhenti,”tapi kenapa aku lebih menginginkan daging panggang alot buatan Kakek,” 

Nafasku terengah-engah, sesuatu seakan menghantam dadaku, kali  ini aku tidak bisa bersikap tangguh, saat aku menyadari betapa kacaunya hidupku. 

“Aku hanya ingin dicintai dengan benar,” ucapan itu keluar begitu saja dari mulutku. Padahal sebelumnya, aku selalu menyangkal bahwa aku tidak butuh cinta seseorang.

“Aku .., disini,” 

Suara perempuan keluar dari celah batu. Aku ingin lari, tapi rasa penasaranku lebih besar dari ketakutan itu. Jadi kuputuskan tetap diam, untuk melihat apa yang terjadi setelah ini. Permukaan yang kusentuh tiba-tiba saja terasa hangat. 

Tidak ada yang terjadi. Benar saja, aku memang salah dengar. Mungkin karena pikiranku sedang kalut, aku jadi berpikir macam-macam. Tawaku pecah membayangkan betapa bodohnya aku. Bahkan mungkin saat itu pun, kukira pikiran seseorang bisa kacau karena terbentur sesuatu, tapi ternyata tidak selalu begitu. 

Tidak apa-apa .., aku melihatmu, Suni” 

Suara perempuan muncul lagi, memecah keraguan dalam diriku. Apa aku sedang bermimpi? Aku menampar kedua pipiku, berharap terbangun dari semua ini. Namun tamparan itu terasa sakit. 

Aku menghela nafas pelan, “Kau mendengarku? Jika benar, beri aku tanda bahwa kau benar-benar hidup,” 

Selama beberapa saat tidak ada yang terjadi. Tiba-tiba batu itu lebih hangat dari sebelumnya. 

Kau sekarang percaya?” 

“Kau benar-benar hidup, tapi sejak kapan?”

Seharusnya bukan hal aneh, jika sesuatu yang tidak biasa terjadi di Hutan ini, tempat yang mereka sebut sebagai tempat segala pengasuhan,” 

Aku pun kembali teringat dengan legenda hutan ini. Tempat segala pengasuhan merujuk, pada makhluk-makhluk yang mengasuh target mereka, sebelum bisa menyantapnya pada bulan purnama. Para korban, biasanya akan diberi kesenangan yang membuat mereka lupa dengan kenyataan. Mungkin karenanya makhluk-makhluk itu disebut pengasuh, semua mulai terasa masuk akal, aku paham mengapa begitu seseorang masuk tempat ini, mereka tidak pernah kembali. 

“Apa kau akan memakanku seperti para pengasuh itu?” tanyaku. Aku tidak peduli meski harus mati di tempat seperti ini. Mungkin itu lebih baik, daripada terus hidup menderita.

Ada banyak jenis pengasuh di hutan ini, tapi aku bukan jenis yang seperti itu,” 

Aku mengernyitkan dahiku heran,”Apa maksudmu?”

Jika yang kau maksud pengasuh yang suka menyantap jiwa manusia, itu adalah Risak. Aku ini pengasuh jenis Janani, alih-alih memakan, aku lebih suka merawat,”  jelas batu itu. 

“Kalau begitu siapa namamu?”

Mama,” 

Ketika mendengarnya, sontak aku tertawa. Tidak kusangka bahwa panggilan Mama bisa dijadikan nama sebuah batu. 

“Dari sekian banyak nama, kenapa nama itu yang kau gunakan?” tanyaku disela tawa.

Karena itu mencerminkan jenisku yaitu Janani. Kau tahu bahwa arti Janani adalah orang yang melahirkan, dan nama yang dekat dengan makna itu adalah Mama,”

Aku hanya tersenyum tipis,”Tapi kau hanya batu, kau bukan manusia. Memangnya apa yang bisa kau lahirkan?”

Cinta, aku bisa melahirkan itu, sesuatu yang bisa membuat seorang anak bisa pulang kapan saja,” 

Entah sejak kapan, pembicaraanku dengan Mama mengalir begitu saja. Bahkan aku tidak menyangka bahwa ia sudah lama menunggu semenjak menyelamatkanku. Aku penasaran, apa yang akan orang lain pikirkan jika melihatku berbicara dengan sebongkah batu. Mungkin mereka akan berpikir bahwa aku ini orang gila. 

Selain kamu dan pengasuh di hutan ini, tidak ada yang bisa mendengar atau berbicara denganku,” 

“Kenapa?”

Apa kau ingat saat aku menyelamatkanmu dari gerombolan anjing, dan kau menyentuh permukaanku? Malam itu bulan purnama terbentuk secara sempurna, dan otomatis sebuah kontrak sudah dibuat,” 

“Pantas saja aku merasa ada seseorang memanggil namaku ..,” lalu aku pun menyadari sesuatu,”ngomong-ngomong darimana kamu tahu namaku?”

Saat kontrak terjadi, semua kilas balik dan ingatan milikmu, menjadi milikku juga. Anggap saja kita bertukar sesuatu yang kita butuhkan, aku butuh seorang anak untuk menyempurnakan tugasku sebagai Janani, dan kau butuh seorang Ibu yang mencintaimu,”

Aku tidak bisa berkutik, saat Mama mengatakan keinginan yang tidak pernah kuceritakan pada siapapun. 

Beberapa bulan telah berlalu, awalnya aku berniat untuk berhenti mengunjungi Hutan Pangemong. Meski tahu bahwa ini gila dan tidak masuk akal,  aku tidak mengerti mengapa rasanya berat sekali untuk menyangkal fakta bahwa aku mulai bergantung pada tempat itu.

“Kenapa kau memanggil batu itu dengan sebutan Mama?” tanya Rena.  Karena terlalu memikirkan Mama, aku sampai menggambarnya. Aku tidak bisa membiarkan siapapun tahu tentang keberadaan Mama, sekali pun itu adalah Rena. 

“Tidak apa-apa, aku hanya ingin menggambar sesuatu yang berbeda,” ujarku. Kuharap Rena tidak terlalu mempermasalahkan ucapanku.

Rena mengangguk, lalu tersenyum.

“Begitu ya, kau ternyata punya selera yang unik ya,” 

Aku memalingkan wajahku ke arah lain, rasanya memalukan mendapat pujian dari seorang gadis sepertinya. 

Aku rutin mengunjungi Mama, kubawa beberapa bunga seperti mawar dan bakung untuk menjadi hadiah untuk Mama. Tidak banyak yang aku lakukan bersamanya, kami hanya saling berbagi cerita. Contohnya seperti hari ini, Mama kesal mendapati seekor burung menjatuhkan kotoran diatasnya. Aku pun tertawa terbahak-bahak ketika mendengarnya, semenjak kehadiran Mama, aku merasa hidupku berubah ke arah yang lebih baik. 

“Aku berharap tidak ada yang merusak kegembiraanku denganmu,” gumamku sambil menatap langit malam dengan banyak bintang.

Aku berjanji akan menjaga kegembiraanmu, apapun yang terjadi. Kau bisa andalkan Mamamu ini,” 

Air mata menetes membasahi kedua pipiku, kupeluk erat Mama. Benar, aku hanya membutuhkan seorang Ibu yang mencintaiku, tidak peduli ia manusia atau bukan, selama ia bisa mencintaiku, maka aku akan menganggapnya seorang Ibu.

Seperti yang orang-orang katakan, bahwa kegembiraan tidak bisa merubah sepenuhnya hidup manusia. Mungkin karena itulah, keberuntungan dan kesialan diciptakan berdampingan. Anak-anak sialan itu masih merundungku tanpa henti, kupikir mereka akan menyerah mengangguku jika aku tidak sekolah. Tapi tetap saja, mereka terus mengejarku bagai hewan buas yang sudah menargetkan buruannya.

Aku memutuskan untuk sementara berhenti mengunjungi Mama, sampai aku menemukan cara untuk menghindari Jan dan gengnya. Aku tidak ingin keberadaan Mama diketahui oleh mereka. Hanya Mama yang kupunya, jika aku kehilangannya, maka hidupku akan kembali menakutkan seperti dulu. 

Saat semuanya mulai aman, aku mengunjungi Mama di hutan. Rasa perih yang kurasakan bekas luka yang kudapat dari Jan, tidak ada apa-apanya dengan kerinduanku pada Mama. Aku tidak mengira Mama akan memarahiku setelah melihat kondisiku. 

“Aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil,” ujarku sambil tersenyum.

Jangan bohong, Suni. Apa Jan menganggumu lagi?! Bagaimana bisa kau menganggap luka lebam sekujur tubuh ini sebagai luka kecil?”  suara Mama gemetar, ia sangat mencemaskanku. 

Aku tersenyum tipis, pertama kalinya bagiku punya seseorang yang mengkhawatirkanku. 

“Jika aku berjanji tidak akan membuat diriku seperti ini ..,” kutatap dalam batu besar itu,”bisakah Mama juga berjanji padaku untuk tidak akan pernah meninggalkanku dan mencintaiku selamanya?”

Ten—”

“Dari sekian banyak tempat, kau memilih tempat seperti ini,” celetuk suara Jan dari arah belakang. Aku pun sontak menoleh padanya, ia menyeringai dengan membuat bulu kudukku bergidik.

“Apa kau dengar tadi Jan? Anak itu bicara dengan batu, selain aneh dia juga gila seperti katamu Jan,”

“Aku mendengarku memanggilnya Mama, jangan katakan padaku bahwa kau serius melakukannya,” ucapan Jan mengundang tawa dari anak-anak lain.

“Tapi bukankah itu memang pantas Jan? Dia sama sekali tidak mirip dengan Ibunya, bahkan tidak ada yang tahu Ayahnya siapa. Mungkin Suni memang terlahir dari sebongkah batu,” timpal Gun membuat tawa itu semakin keras. Alih-alih merasa takut, justru hanya kemarahanlah yang kurasakan. Tidak ada yang boleh menghina Mama. 

Aku mengepalkan tanganku, menatap tajam orang itu. Kemarahan itu seakan mendorong tubuhku, kupukul Gun tepat dihidungnya, membuatnya tersungkur ke tanah. Aku tidak memberinya celah untuk bangun, aku terus memukulnya tanpa henti, sampai aku tidak menyadari bahwa Mama terus memanggilku berulangkali.

Hentikan Suni, kau bisa membunuhnya,” 

Ken menarik tubuhku dan menahanku dengan erat. Jan memukulku, anak itu pasti sangat marah saat melihatku memukul temannya. 

“Kau pikir kau hebat? Sepertinya aku terlalu baik padamu selama ini, anak jalang sepertimu memang tidak pantas untuk diperlakukan dengan lembut,” seringai Jan semakin melebar, ia mengambil ancang-ancang lalu memukulku. 

Aku merasa kesadaranku bisa hilang kapan saja, mungkinkah aku akan mati? Tidak bisa, aku harus tetap hidup. Sampai benar-benar bisa kupastikan tidak ada siapapun yang menganggu Mama. 

“Tik .., tik bunyi hujan di atas genting,” nyanyian dari seorang anak perempuan terdengar, ternyata itu adalah Rin. Ia melompati batu-batu kecil yang ada didepannya, seolah tengah bermain pecle

Airnya turun, tidak terkira. Cobalah tengok dahan dan ranting, pohon dan kebun …,” Ia melompat dengan tinggi, sambil merentangkan tangannya,”basah semua,” 

Jan menatap Rin dengan tajam.

“Kau temannya Suni? Maaf saja, kami sedang bersenang-senang dengannya. Lebih baik kau pergi saja sana,” usir Jan.

Rin menelengkan kepalanya, kedua alisnya saling bertaut. Kemudian ia pun tertawa, meski tidak keras tapi aku merasakan hawa dingin pada tengkuk, ketika mendengarnya. Cahaya menyoroti setengah wajahnya. “Kau tuli ya?! Sudah kubilang pergi dari sini,” bentak Jan. 

“Tidak ada daging yang lebih lezat dari anak rendahan. Tapi mendengar hal kotor darimu …,” kemudian terlihat kedua mata Rin tampak menyala, dengan warna merah tua dan pupil mata yang menyerupai mata kucing, “Aku jadi tidak nafsu untuk memakanmu,” 

Jan terkekeh,”Apa ini? Kau menggertakku dengan berpura-pura menjadi monster mitos? Kau pikir aku percaya?” 

“Aku tidak peduli kau percaya atau tidak, lagipula apa yang bisa diharapkan dari anak dengan kepintaran dibawah rata-rata sepertimu,” ujar Rin tertawa. 

Emosi Jan tersulut, ia berlari dengan cepat menuju Rin, berniat untuk memukulnya. Jika begini, maka Rin akan sepertiku. Aku tidak yakin apa anak perempuan bisa menahan rasa sakit dari pukulan anak laki-laki, aku berharap ada keajaiban yang bisa menyelamatkannya.

Tidak sempat Jan menyentuh Rin, gadis itu berteriak dengan keras. 

“Aarghh,” suara Rin menggema dengan tidak wajar,  melengking tinggi seperti burung tercekik yang bercampur raungan serigala dan seekor rubah. 

Namun bagian menakutkan dari itu, adalah saat teriakan Rin memecah tubuh Jan bagai daging yang ditumbuk dalam mesin. Darah memuncrat dari tubuh Jan, mengenaiku, Ken, dan juga Gun. Tidak ada yang tersisa dari Jan, selain pakaiannya. 

Ken dan Gun berusaha melarikan diri, namun dengan cepat Mama melindas tubuh mereka, sampai terdengar bunyi tulang yang patah. 

Ketakutanku memuncak, napasku terengah-engah. Aku tidak ingin mati seperti mereka, tapi entah kenapa tubuhku tidak mau bergerak. Sampai Rin berdiri tepat didepanku, tapi sejak kapan? Dipikir bagaimana pun, jarak aku dengannya terpaut cukup jauh.

Rin mendekatkan wajahnya, lalu aku menahan napasku. Pupil matanya semakin jelas, jelas ia bukan manusia, melainkan iblis dalam tubuh anak kecil. 

Cukup sampai disana, Rin,” cegah Mama. 

Rin menghela napas kesal,”Aku tidak melakukan apa-apa, hanya memastikan apa temanku baik-baik saja atau tidak,” 

Suni, kau tidak perlu takut. Rin adalah pengasuh di hutan ini juga. Maaf, mungkin sedikit mengejutkanmu,” jelas Mama. Meski Mama bilang begitu, tapi tetap saja tidak bisa menghilangkan rasa takutku. Tiba-tiba pandanganku menjadi gelap, aku bisa mendengar Mama terus memanggil namaku. 

……

Satu tahun kemudian.

“Apa Mama mencintaiku?” tanya Suni sambil membasuh bagian permukaan batu yang kotor. 

“Tentu saja, aku berjanji untuk bersamamu selamanya,”  jawab Mama. Suni merasa senang saat mendengarnya. Kemudian setelah membersihkan Mama, ia pun memutuskan untuk berbaring didekatnya. Cuaca hari ini untungnya tidak panas, semakin lama rasa kantuk menyerangnya, Suni pun tertidur. 

“Padahal aku hampir memilikinya, tapi aku kalah cepat denganmu,” celetuk Rin yang duduk di atas dahan pohon, sambil menggoyangkan kakinya.

Jangan berisik, Rin kau akan membangunkannya,” ketus Mama.

“Kau bersusah payah menjaganya, bahkan menghilangkan ingatannya tentang aku, tapi kenapa kau tidak menyantapnya saat itu?” 

Aku tidak ingin kesenanganku berakhir dengan satu santapan saja, aku ingin menikmatinya pelan-pelan,  jiwa yang dipenuhi dengan harapan, jauh lebih lezat dari sekedar jiwa yang santap mentah-mentah,” ujar Mama terkekeh.

“Jangan tertawa seperti itu, suaramu menakutkan,” Rin mengerucutkan bibirnya.

“Setidaknya enggak semenakutkan wujudmu,” ejek Mama.

Rin mulai kesal, lalu turun dari dahan pohon dan mendarat dengan baik.

“Kau mulai bicara soal penampilan sekarang? Mungkin Suni hanya mematung saat melihat wujudku, tapi begitu melihat sosokmu yang asli. Tidak hanya berteriak, anak ini bisa mati saat itu juga,” timpal Rin. 

Ucapan Rin membuat Mama terdiam, ia tidak bisa menyangkal fakta itu. Sesosok perempuan keluar dari celah batu, rambutnya diikat ekor kuda tampak kusut, dengan enam mata besar berwarna hiitam. Sementara itu, tubuhnya seperti peri tapi berukuran besar dengan sayap tipis dipunggungnya.

Benar juga, tubuhku lebih menakutkan darimu,” ujar Mama sambil membandingkan tubuhnya, “tapi tetap saja, kalau soal buas, kau lah yang menang,”

“Kau benar, mungkin itu karena jenisku adalah Risak,” ujar Rin tertawa. 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Rekomendasi