“Aku menyukaimu, Seda,” kuberi setangkai bunga mawar, yang kubeli dengan harga murah. Aku tahu ini memalukan, tapi hanya ini yang bisa keberikan untuknya. Sebagian uangku sudah habis karena biaya kos dan kuliah.
Gadis itu hanya menatapku datar, tidak ada senyuman yang merekah disudut bibirnya. Sepertinya aku akan ditolak, seperti nasib para pria sebelumnya. Garis rahang yang lembut dengan poni tipis yang menutupi sebagian dahinya, serta matanya yang bulat membuat gadis itu tampak menawan. Seda Sanjaya, begitulah gadis itu dikenal.
“Apa yang kau sukai dariku?” tanya Seda.
“Aku tidak tahu,” jawabku. Meski kedengarannya aneh, tapi begitulah kenyataannya. Bahkan aku tidak mengerti apa yang kusukai dari gadis yang lebih pantas sebagai mayat berjalan.
“Bukankah kau tidak tahu malu? Bagaimana bisa kau menyukai seseorang sedang kau tidak tahu alasannya,” sarkas Seda.
“Kau baru saja menyebutkan satu alasanku,”
“Apa maksudmu?”
“Alasanku menyukaimu karena aku tidak tahu, bagian mana dari dirimu yang membuatku tertarik padamu. Makanya, aku harus mencari tahu alasannya,”
Seda tersenyum sinis,”Jadi maksudmu, kau mengutarakan perasaanmu karena ingin cari tahu alasan kau menyukai begitu? Kau pasti bercanda,”
“Tidak, aku serius melakukannya,” ujarku penuh tekad.
Ketenangan yang aku tunjukkan padanya, hanyalah topeng untuk menutupi rasa takutku. Aku tidak takut ditolak, hanya saja aku takut bahwa alasan itu tidak pernah bisa kutemukan. Tanpa diduga, Seda menerima setangkai bunga dariku. Gadis yang dinginnya melebih kutub selatan itu baru saja menerima perasaanku.
“Baiklah, ayo pacaran. Aku juga penasaran, kenapa kau menyukaiku,” ujar Seda.
Tentu aku tidak berekspetasi bahwa hubunganku dengan Seda akan berjalan lancar. Semenjak saat itu, aku menjadi pusat perhatian orang-orang. Sayangnya, bukan pujian yang kudapat, melainkan cacian karena dianggap tidak tahu diri.
Namun anehnya aku tidak pernah terganggu dengan itu, satu-satunya hal yang kupikir kan adalah menemukan alasanku menyukai Seda. Aku berusaha menjadi pacar yang baik, melakukan sesuatu yang semestinya dilakukan pasangan, seperti memberinya perhatian kecil dengan membuatkannya bekal. Meski pada akhirnya, bekal itu selalu berakhir ditempat sampah.
“Bahkan makanan anjing pun tidak semengerikan ini,” komentar Seda. Begitu ia ingin membuang bekal buatanku ke tempat sampah lagi, aku pun dengan cepat mencekal tangannya.
“Jangan dibuang. Aku ingin mencobanya juga,” ujarku. Kemudian kusantap bekal buatanku. Seda mengernyitkan dahinya sambil menatapku jijik. Gadis itu benar, makanan lebih buruk dari makanan anjing, asin dan pahit bercampur jadi satu. Saking mengerikannya, aku tidak bisa membayangkannya.
“Tama, kau sebenarnya cukup pintar …,” Seda menangkupkan dagunya sambil menatapku, lalu ia tersenyum sinis, “pintar meracuni orang,”
Pasangan disebelah kananku menertawakanku, setelah mendengar ucapan Seda. Namun aku tidak mempedulikan ucapan mereka. Bukannya marah karena mendengar ucapan buruk darinya, aku malah semakin menyukai gadis itu.
Dibanding pacar, aku lebih mirip seperti asisten bagi Seda. Aku bahkan tahu jadwal aktivitas gadis itu, entah kenapa aku lebih memahaminya dibanding diriku sendiri. Seperti kata orang-orang, Seda punya mulut yang tajam, apapun yang katakan tidak pernah berakhir baik.
Aku hanya punya waktu 3 menit dalam sehari untuk bicara dengannya. Itu tidak masalah, selama aku bisa bersamanya. Namun, satu hal yang tidak pernah orang tahu tentang Seda adalah saat ia menjadi begitu manja ketika demam.
“Kumohon jangan tinggalkan aku,” Seda memelukku erat sambil terisak.
“Aku disini, kau tidak perlu khawatir,” ujarku menenangkannya.
Aku berpikir bahwa saat itu adalah kemajuan besar bagi hubungan kami. Tapi keesokan harinya Seda sama sekali tidak mengingat momen itu, seolah ingatannya terhapus dalam satu malam. Jujur saja, aku merasa sedih, tapi aku tidak bisa memaksa perasaannya.
Saat kuliah aku dan Seda selalu pulang bersama, tapi ketika gadis itu pulang terlambat karena harus mengikuti rapat organisasi. Aku akan menunggunya dengan sabar seperti hari ini.
“Aku kasihan padanya, bukankah ia terlalu baik buat Seda?,” ujar seseorang. Aku berpura-pura tertidur, menyenderkan punggungku ke dinding.
“Diamlah. Bagaimana kalau dia dengar?” timpal satunya.
“Dia tidak akan dengar, ia memakai earphone. Kau lihat itu,”
Tentu aku bisa mendengarnya, musik yang aku dengar memang sengaja kusetel dengan volume rendah. Sehingga dengan begitu, aku bisa tahu kapan Seda datang. Namun sepertinya para gadis itu sama sekali tidak menyadarinya.
“Benar juga. Bicara soal Seda, apa kau tahu kalau dia itu sebenarnya ayam kampus?”
Ayam kampus, itu adalah sebutan untuk mahasiswa yang melakukan hubungan terlarang dengan dosen. Aku tidak menyangka bahwa orang-orang memandang Seda seperti itu.
“Kau bercanda?!”
“Tentu saja tidak. Itu bukan rahasia umum lagi,”
“Pantas saja, aku sering melihatnya bersama Pak Andri, Dosen yang itu loh,”
“Aku dengar Ayahnya juga terlibat korupsi, sempat ada rumor bahwa Ayahnya selingkuh,”
Ucapan para gadis itu semakin tidak terkendali. Rasanya menyakitkan bagiku, mungkin karena inilah menguping pembicaraan orang dianggap dosa. Haruskah kuhentikan ini dan berpura-pura tidak mendengar apapun?
Pintu terbuka para gadis itu mendadak diam. Kali ini apa yang terjadi? Aku tidak bisa memastikannya karena kedua mataku masih terpejam. Kurasakan kehadiran seseorang didepanku, aroma parfum buah mix tercium dihidungku. Aromanya terasa familiar bagiku, aku tahu siapa pemiliknya.
“Sampai kapan kau akan terus berpura-pura tertidur seperti ini?” tanya Seda.
Aku membuka kedua mataku, kulihat Seda berdiri di depanku. Seperti biasa, bibir tipis itu tidak pernah membentuk senyumnya. Lalu aku dan Seda pun pulang bersama. Sepanjang jalan, kami hanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Gadis itu tidak mengatakan apapun, meski sudah mencidukku.
Kemudian langkahnya terhenti.
“Tama …,” sorot matanya menatap padaku. Aku tidak bisa menebak apa yang akan ia ucapkan setelahnya, tapi rasanya aku mulai gugup. Mungkin saja ia marah padaku karena tahu rahasianya.
“Kenapa kau tetap diam meski tahu tentangku?” tanya Seda.
Seperti yang aku duga, ini soal yang tadi. Aku terlalu naif menganggap Seda akan melupakannya begitu saja.
“Itu bukan pembicaraan yang penting. Kau tahu, seringkali orang-orang mudah menyimpulkan sesuatu tanpa dasar, mereka hanya membicarakan kebohongan itu berulangkali, dan berharap bahwa itu adalah hal yang benar,” jawabku.
“Bagaimana jika yang mereka bicarakan itu adalah benar? Apa yang akan kau lakukan, Tama?”
Ucapan Seda membuatku terdiam. Aku tahu bahwa manusia tidak selalu bisa melarikan diri dari kebenaran, jujur saja aku merasa takut untuk mengetahui faktanya, aku takut kehilangan gadis itu, karena itulah aku tetap diam dan berharap bahwa apa yang orang-orang katakan tentang Seda adalah kebohongan. Namun aku juga penasaran apa itu yang sebenarnya terjadi pada Seda.
“Sepertinya kau tidak bisa menjawabnya ya. Aku mengerti bahwa itu pasti sulit untukmu,” Seda tersenyum tipis, rasanya menyakitkan ketika melihatnya seperti itu. Kemudian gadis itu meninggalkanku.
Semenjak saat itu Seda mengabaikanku. Aku tidak pernah menyerah untuknya, seperti biasa aku tetap menjadi diriku sebelumnya. Namun perhatian-perhatian kecil itu seolah tidak lagi bisa menyentuh hati gadis itu.
Sayangnya kesabaran manusia tidak pernah seluas lautan. Rasanya mulai melelahkan, haruskah kehentikan dan melanjutkan hidupku sendiri? Entah sejak kapan, aku pun menyerah untuk Seda.
Hari itu aku pulang terlambat karena banyaknya tugas yang harus kukerjakan hari ini. Suasana kampus tampak lebih menyeramkan saat tidak ada orang-orang. Meski begitu, aku lebih takut mengulang mata kuliah daripada hantu. Ibuku bisa membunuhku jika aku menunda satu semester lagi. Lalu aku melihat Seda berjalan bersama seseorang menuju kelas dekat dengan tempatku berada.
Sepertinya mereka tidak menyadari keberadaanku, mungkinkah itu Pak Andri? Rasa penasaran dalam diriku pun muncul. Lalu aku mengendap-endap untuk melihat apa yang terjadi.
“Dasar jalang beraninya kau menipuku!” teriak seorang pria.
“Aku tidak menipumu, aku hanya mengembalikan apa yang sudah kau lakukan pada Ayahku,” ujar Seda terdengar tenang.
Aku tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Ku panggil bantuan untuk berjaga-jaga.
“Jadi itu alasanmu mendekatiku, kau hanya ingin menjebakku?” tiba-tiba pria itu terkekeh,” memangnya apa yang kulakukan? Aku hanya mempertahankan apa yang menjadi milikku, dan Ayahmu mencoba merusaknya,”
“Menjijikkan, setelah apa yang kau lakukan pada Ayahku dan gadis-gadis itu, kau masih bersikap angkuh seperti ini,”
“Diam kau jalang!”
Suara keras dari meja terjatuh. Aku mulai cemas, hingga tanpa pikir panjang aku berlari ke arah pria itu, yang sudah dalam mencekik Seda. Melayangkan pukulan padanya, hanya kemarahan yang membuncah dalam dadaku. Aku tidak tahu berapa banyak aku memukulnya.
“Tama hentikan! Kau akan membunuhnya,” teriak Seda menarik dariku darinya.
“Kau baik-baik saja?” tanyaku penuh khawatir. Kuperiksa satu persatu untuk memastikan apakah ada luka atau tidak pada diri Seda. Pak Andri bangun, ia merogoh pisau saku dibajunya.
Kemudian Pak Andri menyerangku dengan acak, tapi aku berusaha menangkisnya. Meski salah satu serangan itu menyayat pipi kananku. Aku mulai kehilangan tenaga, sehingga pria itu memanfaatkan kesempatan dan memukulku hingga babak belur. Tubuhku sakit semua, samar-samar kulihat ia mendekati Seda dan gadis itu terus memanggil namaku.
Aku tidak ingin lari seperti pengecut dan kehilangan gadis itu lagi. Aku memaksakan diriku untuk bangun, tentu aku tidak bisa memukul pria itu dengan kondisi seperti ini. Kupeluk Seda dengan erat saat pisau itu menusuk punggungku. Pandanganku mulai mengabur, dan terdengar suara sirine polisi dari luar. Kulihat Seda yang tampak cemas sambil mengguncangkan tubuhku. Kemudian semuanya menjadi gelap.
3 hari kemudian.
Aku mengerjapkan mata berulangkali, cahaya lampu menyorot padaku. Kulihat Seda tertidur disampingku sambil menggenggam tanganku. Aku tersenyum, merasa lega karena gadis itu baik-baik saja. Kuelus tangannya perlahan, kemudian Seda terbangun dan terkejut melihatku.
“Maaf membangunkanmmu,” ujarku.
Seda meneteskan airmatanya, lalu memelukku dengan erat.
“Syukurlah. Aku senang melihatmu lagi, Tama,” lirih Seda.
Selama tiga hari aku koma dan berbaring di rumah sakit. Meski begitu aku bersyukur bahwa kesempatan hidupku masih ada. Seda menceritakan semuanya padaku, alasan dia dekat dengan Dosen A sampai tuduhan korupsi dan perselingkuhan yang Ayahnya terima.
Pak Andri yang ketahuan melecehkan mahasiswa, sempat ingin dilaporkan Ayah Seda, tapi karena tidak ingin kejahatan terbongkar. Skandal itu pun dibuat oleh Pak Andri untuk mengalihkan perhatian publik. Dikarenakan tuduhan perselingkuhan tersebut orang tua Seda pun bercerai, ditambah tekanan masyarakat yang terus menerus ditujukan pada keluarganya, membuat Ayah Seda memutuskan untuk bunuh diri.
“Kenapa kau tidak cerita padaku?”
“Banyaknya orang mengkhianatiku, membuatku sulit untuk percaya pada orang lain, termasuk kau,” ujar Seda tersenyum tipis, lalu ia menggenggam tanganku,”maaf karena telah meragukanmu,”
“Aku mengerti, kau tidak perlu memikirkannya,”
“Kenapa kau melindungiku? Meski aku sudah menyakitimu,” tanya Seda.
Aku tersenyum karena tersadar sesuatu. Mungkin ini adalah jawaban dari semuanya, alasan yang selama ini aku cari.
“Kupikir aku sudah menemukan alasan kenapa aku menyukaimu,” jawabku lalu tersenyum.
“Apa itu?”
“Aku ingin menjadi tempat, dimana kau bisa pulang kapan saja dan menjadi dirimu sendiri,”
Seda terkekeh,”Jadi kau benar-benar sudah menemukan alasannya,” senyumnya merekah. Itu pertama kalinya bagiku melihat sisi lain dari Seda Sanjaya. Gadis yang kucintai dengan sepenuh hati.