“Aku tidak tahu apa kau benar-benar bodoh atau memang polos saja. Merawat seorang anak dari selingkuhan Ayahmu, apa kau bercanda, Ge?” Kal menyenderkan tubuhnya ke kursi. Raut kekecewaan terlihat jelas dimatanya.
“Dia hanya punya aku. Lagi pula aku sudah berjanji pada Nenek untuk menjaganya,”
Aku tahu penjelasanku kedengarannya bodoh. Aku memang membenci pria yang tidak pantas disebut Ayah itu. Namun melimpahkan kesalahan orang dewasa pada anak kecil bukan pilihan yang tepat.
Lam begitulah nama gadis itu disebut. Adik satu-satunya yang kumiliki, usia kami terpaut jauh. Aku dengan Lam lebih terlihat seperti Ibu dan anak, alih-alih kakak beradik. Tidak susah mengurus Lam. Ia anak yang penurut dan tidak banyak bicara, meski begitu aku tetap merasa cemas karena memikirkan apa wanita sekaku diriku bisa membesarkan seorang anak perempuan.
Ayahku meninggal dalam kecelakaan bersama istrinya. Hanya Lam yang selamat. Pada awalnya tidak ada yang mau mengadopsi Lam, para kerabat saling melempar tanggung jawab. Sampai Nenek memintaku untuk mengadopsi Lam, karena kami berdua masih punya ikatan sedarah dari Ayah yang sama.
“Aku tahu ini terdengar egois. Tapi aku minta tolong padamu, untuk jaga adikmu,” pinta Nenek sambil menggenggam tanganku.
Genggaman tangan Lam semakin erat, membuyarkan lamunanku. Cahaya matahari muncul dari celah-celah ranting yang saling bertaut. Aroma dari tanah basah bercampur kayu tua tercium olehku. Aku tersenyum tipis, sambil sesekali membayangkan kenangan ketika bersama Nenek mengunjungi tempat ini pertama kali.
“Aku tidak mengerti. Meski sudah berulang kali mengunjungi tempat ini, tapi tetap saja aku tidak bisa memahami apa istimewanya pohon ini,” Lam menatap datar ke arah pohon besar yang sekelilingnya diikatkan kain berwarna merah. Sebuah ukiran terpampang dengan jelas, meski ukiran tersebut dibuat dari 10 tahun yang lalu.
“Bumi diciptakan dari manusia-manusia yang habis masa hidupnya …,” Aku tersenyum, meraba serta-serat pohon yang terasa kasar ditanganku,” raga yang telah mati akan kembali pada bentuk aslinya yaitu tanah, sementara jiwa mereka akan terangkat ke udara, terpecah lalu meresap ke berbagai bentuk seperti tumbuhan, hewan, dan oksigen yang kita hirup,”
Lam tertegun mendengar ucapanku, membuatku merasa gemas dengan mata bulatnya.
“Apa itu termasuk Ayah dan Ibu?”
Aku menoleh lalu mengangguk,”tentu. Maka dari itu, seseorang bisa merasakan kenangan orang yang meninggal, ditempat yang mereka anggap berharga,”
Lam tersenyum, “begitu ya,”
Angin pun berhembus, salah satu daun terjatuh tepat di atas kepalaku. Begitu ingin mengambilnya, seorang wanita mendahului untuk melakukannya.
“Makasih,”
Wanita itu tersenyum. Rambutnya diikat ke belakang dan poni tipis yang dibiarkan terurai. Meski tanpa riasan, ia terlihat cantik sampai aku berpikir ia mirip seorang model.
“Ada yang bilang, jika daun jatuh diatas kepala kita. Itu tandanya ada seseorang yang merindukan kita, aku penasaran kenapa bisa begitu,” Wanita itu menyerahkan daun tersebut padaku.
“Ah mitos itu. Aku pun pernah mendengarnya, kau tahu pohon itu sebenarnya menampung beberapa jiwa, meski tidak mewarisi ingatan dari kehidupan sebelumnya, tapi pohon melanjutkan kenangan mereka dalam berbagai cara …, salah satunya daun yang jatuh diatas kepala seseorang,” jelasku.
“Begitu ya. Pemikiranmu sangat dalam ya, aku cukup terkesan,”
Aku malu ketika mendengarnya. Apa yang aku katakan bukanlah sesuatu yang istimewa.
“Kau minum teh bersamaku? Mungkin kita bisa melanjutkan obrolan ini,” tawar wanita itu.
Wanita itu membawaku ke sebuah Cafe sederhana yang lokasinya berada di pintu masuk. Kebanyakan pengunjung adalah lansia, musik lama diputar. Begitu masuk, aku merasa berada di tempat dengan suasana khas 90-an.
Wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai Sari. Kemudian kami bertiga memesan teh Sarabba yang katanya sangat terkenal di tempat ini. Karena aku masih kenyang, begitu juga dengan Lam. Maka untuk makanan pendampingnya, aku memesan cheese cake.
“Sepertinya kau sering kesini ya?” menuangkan gula batu ke tehnya.
Aku mengangguk.
“Begitulah,”
Kulihat Sari menjaga cincinnya. Ia beberapa kali mengusap cincin yang punya bentuk seperti bunga lily. Bahkan wanita menyimpannya hati-hati dalam sapu tangan dan memasukkan ke tas kecil miliknya.
“Biar kutebak, sepertinya Hutan Alma bukan hanya sekedar tempat biasa bagimu kan?”
“Benar. Bagaimana kau tahu?”
“Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian berdua. Jadi, kupikir kalian memang sering kesini,”
“Begitu ya. Itu memang benar, ini bukan sekedar tempat biasa bagiku. Aku sering menghabiskan waktuku dengan Nenek disini waktu kecil, sampai ..,” Aku pun teringat dengan Nenek, rasa sesak mengalir dalam dadaku.
“Maaf, seharusnya aku tidak membicarakannya,” sesal Sari.
“Tidak apa-apa, jangan khawatirkan soal itu,”
Aku dan Sari membicarakan banyak hal. Mengalir begitu saja sampai aku tidak menyadari bahwa sudah tiga jam aku bersamanya. Kemudian aku memutuskan untuk pulang, begitu juga dengan Sari. Aku berpikir bahwa hubunganku dengan Sari hanya sampai pada pembicaraan hari ini. Namun, tidak disangka bahwa wanita itu mengajakku bertemu lagi di tempat yang sama.
Sari mengajakku bertemu dengan lagi. Kali ini Lam tidak bisa ikut, karena harus mengikuti karyawisata sekolah di kota lain. Sayang sekali, padahal gadis itu menantikan pertemuannya dengan Sari. Wajar saja, Sari selalu mengajaknya bermain dan bahkan memberinya boneka yang dirajut sendiri.
“Ini untukmu,” Sari memberiku sebuah kotak berwarna biru navy yang dibalut dengan pita berwarna putih keemasan.
“Apa ini?”
“Hadiah dariku, aku yakin kau akan menyukainya,”
Aku membuka hadiah tersebut, isinya adalah tiga batu yang berukuran mirip kelereng. Ada corak cahaya biru yang tampak hidup, berpencar menyerupai retakan.
“Jika kau memakan ini, maka kenangan yang ada dalam hatimu, bisa kau rasakan secara nyata seperti yang kau pernah kau alami. Artinya kenangan itu tidak hanya sekedar dalam pikiran, tapi kau merasakan aromanya, sensasinya, dan emosinya,” Sari menjelaskan dengan serius. Aku mengira apa yang katakan hanya sekedar candaan saja. Namun melihat keseriusannya, membuatku ragu tentang itu.
“Kenapa kau memberiku benda seperti ini?” Aku penasaran.
“Kau pernah mengatakan padaku bahwa tempat ini adalah tempat berharga yang pernah kau kunjungi bersama Nenekmu. Aku berpikir kau membutuhkan batu ini, dengan begitu kau bisa merasakan kenangan dimana saja,”
“Terima kasih,”
Aku menerima hadiah tersebut. Meski sebenarnya aku tidak terlalu percaya dengan benda-benda magis seperti ini.
“Aku hampir melupakannya. Cara menggunakan batu ini, kau hanya perlu menelannya dalam tiga hari, setelah tiga hari kau harus memuntahkannya lagi, pastikan kau muntahkan batu ini dan jangan menelannya terlalu lama,”
Aku mengernyitkan dahi heran. Kupikir batu ini hanya cukup kusimpan dekat tempat berdoa seperti persembahan pada umumnya. Aku tidak mengira harus menelannya.
“Memangnya apa yang terjadi jika aku menelannya terlalu lama?”
“Sesuatu yang buruk akan terjadi. Kau akan mengalami kelaparan ekstrim,” jelas Sari dengan suara yang hampir berbisik, seolah memastikan tidak ada yang mendengar ucapannnya.
“Baiklah, aku mengerti,” ujarku.
Sepanjang hari aku hanya menatap batu tersebut. Rasa ragu menyeruak dalam diriku. Namun aku tidak ingin mengecewakan Sari. Kuambil satu batu tersebut, lalu menelannya. Aku pikir mungkin rasanya manis, tapi ternyata batu tersebut terasa hambar.
Tidak ada yang terjadi. Sepertinya batu ini memang hanya semacam gimmick untuk membuat orang terkesan.
Tiba-tiba kurasakan tangan seseorang memegang pundakku. Aku takut setengah mati lalu memejamkan mataku. Tubuhku membeku, aku lupa caranya berteriak karena terlalu terkejut.
“Ge sayang,” suara tidak asing terdengar didekat telingaku. Aku mengumpulkan sisa keberanianku, membuka kedua mataku. Kulihat Nenek dari pantulan cermin meja riasku, tengah menyisir rambutku. Aku mengira sosok itu hantu, tapi wajahnya tidak pucat. Nenek benar-benar hidup.
“Kau pasti lelah karena pekerjaan dan mengurus adikmu ya,”
Air mata membasahi kedua pipinya. Nafasku tersengal dengan tubuh yang gemetar. Aku tidak bisa menahannya lagi, sontak aku berbalik dan memeluk Nenek dengan erat. Aroma parfum milik Nenek tercium, aroma yang sama dengan terakhir aku ingat. Kemudian wanita paruh baya itu mengelus lembut kepalaku.
Sulit menyimpulkan bahwa ini bukan kenyataan. Seseorang yang sudah meninggal, benar-benar bisa hidup kembali. Aku terus menatap Nenek yang membelakangiku. Aroma lezat menguar menyebar ke seluruh ruangan.
“Nasi goreng dengan telor mata sapi sudah siap,” ujar Nenek dengan antusias.
Perlahan aku mengambil sesendok, meniupnya dan langsung menyantapnya. Aku terperangah, rasa masakannya sama dengan yang biasa Nenek buat.
“Kenapa terkejut? Ah pasti lezat kan? Akui saja, perlu kau tahu, Nenekmu sudah 80 tahun hidup, tentu soal pengalaman memasak juaranya nomor satu,” Nenek tersenyum sambil membanggakan dirinya. Gayanya yang narsis membuatku sontak terkekeh. Sosok yang ada didepanku ini, benar-benar Nenek yang aku kenal.
Sepertinya aku berhutang budi pada Sari. Ucapan terima kasih saja rasanya tidak cukup untuk menggantikan hadiah sehebat ini. Aku akan mengatakannya begitu Sari kembali.
Aku menghabiskan waktu dengan Nenek, kami melakukan banyak hal seperti yang biasa kami lakukan, seperti membuat boneka rajut, memasak kue kering, dan mengunjungi Hutan Alma.
Namun aku tidak mengabaikan pantangan Sari. Kumuntahkan lagi batu tersebut. Kukira akan sulit melakukannya, tapi ternyata mudah. Begitu kumuntahkan, batu kenangan berubah menjadi abu dan hancur ketika aku sentuh.
Tersisa dua batu. Aku harus menggunakannya dengan bijak, sampai Sari kembali. Nanti aku akan bertanya pada wanita itu, darimana ia mendapatkan batu seperti ini.
“Sebaiknya kau harus pergi ke psikiater,” ujar Kal khawatir.
Pria itu sama sekali tidak mempercayaiku, meski aku sudah menjelaskan bahwa Nenek benar-benar hidup kembali, hanya dengan menelan sebuah batu.
“Aku serius Kal. Nenek benar-benar ada,”
Kal menjentikkan jarinya ke dahiku. Aku meringis karena itu terasa sakit.
“Apa yang kau lakukan?!”
“Sadarlah Ge. Aku mengerti bahwa kau sangat kehilangan Bibi May, tapi kau tidak bisa terus berlarut-larut dalam kesedihan seperti ini,”
Percuma saja menjelaskan lagi pada Kal. Pria itu memang cukup skeptis pada hal-hal berbau supranatural. Namun jika melihatnya langsung pasti ia akan percaya sama sepertiku.
Keesokan harinya aku mengajaknya makan malam, sekalian untuk membuat pesta kecil-kecilan untuk menyambut kepulangan Lam dari karyawisata.
“Wow kau masak banyak sekali, tidak biasanya,” ujar Kal takjub.
“Sesekali. Adikku juga baru pulang dari karyawisata, ia pasti kelelahan karena mengikuti banyak kegiatan disana,” Aku tersenyum pada adikku.
“Padahal tidak perlu seperti ini. Aku tidak selelah itu,” timpal Lam.
“Perlu kau tahu, sebenarnya Kakakmu ini kesepian selama kau tidak ada,” Kal mencondongkan tubuhnnya sambil berpose seperti orang berbisik. Padahal aku bisa dengan jelas mendengar ucapannya.
“Kal,” panggilku dengan tatapan sinis.
Sontak Lam pun tertawa, begitu juga dengan aku dan Kal.
Kami pun makan bersama. Sudah lama aku tidak makan malam seperti ini. Biasanya di jam ini, aku masih di kantor berkutat dengan pekerjaanku.
Hal yang dinantikan pun tiba, lalu mengambil batu kenangan tersisa. Aku sangat gugup, bagaimana jika Lam dan Kal benar-benar tidak bisa melihatnya.
“Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian,” ujarku memecah keheningan. Kal yang sedang membereskan piring kotor pun, mendadak berhenti dan menatapku.
Kutunjukkan batu kenangan itu pada mereka berdua.
“Sebelumnya, aku sudah mengatakan padamu Kal, bahwa Nenek benar-benar hidup. Sekarang aku ingin menunjukkannya padamu dan juga Lam,”
Kal menghela nafas,”Kita sudah membahas ini sebelumnya Ge. Itu tidak masuk akal, lebih baik kau psikiater. Biar aku yang temani,”
Aku menggeleng cepat,”percayalah padaku. Kau pun tahu bahwa aku bukan tipe yang suka mengada-ada,”
“Nenek May sudah meninggal, Ge. Kau pun melihatnya kan? Kumohon berhenti seperti ini, hidupmu harus terus berjalan, setidaknya pikirkan itu,” Kal menatap nanar padaku. Aku tidak suka ia yang berekspresi seperti itu.
Aku menelan batu tersebut, kuharap setelah ini Kal bisa mempercayaiku.
“Ge sayang,” panggil Nenek.
Aku menoleh ke sumber suara itu berasal, Nenek berdiri didekatku sambil tersenyum lembut.
“Kau lihat Kal? Nenek benar-benar ada,”
Selama beberapa Kal terdiam, kenapa ekspresinya tidak berubah? Tatapan nanar itu masih dalam dirinya.
“Apa yang kau katakan? Aku tidak melihat apapun,”
Aku terkejut. Tidak mungkin, ia pasti tidak melihatnya dengan benar.
“Nenek ada disampingku Kal, lihatlah dengan benar,” ujarku sambil terisak.
Kal tidak menanggapi ucapanku, ia hanya memeluk dengan erat. Apa yang ia pikirkan? Jelas Nenek ada disampingku. Aku berusaha melepaskan pelukannya, tapi Kal tidak membiarkannya. Pelukan itu semakin erat.
“Kumohon berhenti Ge, kau harus merelakan Nenek,”
Aku mendorong Kal, kemudian menghampiri Lam. Ia pasti bisa melihat Nenek, orang bilang bahwa anak kecil punya penglihatan lebih tajam dari orang dewasa.
“Lam, kau melihatnya kan? Nenek benar-benar ada, dia ada disana,” aku menunjuk ke arah Nenek berdiri.
Lam terdiam, matanya berkaca-kaca. Lalu gadis itu tersenyum tipis.
“Aku melihatnya,” ujar Lam.
Aku bahagia ketika mendengarnya. Seperti dugaanku, adikku bisa melihatnya. Mungkin ini dikarenakan aku dan Lam punya ikatan darah dengan Nenek. Berbeda dengan Kal, ia bukan bagian dari keluarga ini. Tentu tidak akan bisa melihatnya.
Semenjak itu aku mulai menjauhi Kal. Aku tidak ingin dengannya, bahkan kuputuskan untuk pindah ke tempat lain agar Kal tidak bisa mendatangiku. Aku terpaksa melakukannya, karena pria itu terus memaksaku agar pergi psikiater. Padahal aku baik-baik saja.
Aku menyiapkan sarapan untuk Lam dan Nenek.
“Seperti biasa masakan hebatnya denganku,” puji Nenek setelah lahap menyantap masakanku. Aku pun tersenyum ketika mendengarnya.
“Tapi tetap saja masakan Nenek juaranya, bukan begitu Lam?” tanyaku Lam.
“Ya. Masakan Nenek memang terbaik,” ujar Lam tanpa memandang ke arah Nenek. Padahal wanita paruh baya itu berada disampingnya. Namun entah kenapa adikku hanya tersenyum padaku.
Setelah kupikirkan, Lam tidak pernah mengajak Nenek bicara, ia selalu bertanya padaku bagaimana Nenek hari ini? Seperti apa Nenek dimataku? Ia bersikap acuh pada Nenek, meski wanita paruh baya itu berulang kali mengajaknya bicara.
“Nenekmu bertanya, kenapa kau diam saja Lam?”
Lam mendongak dengan raut bingung.
“Soal apa? Maaf aku tidak mendengarnya Kak,”
Aku mendengus kesal,”jangan meminta maaf padaku, tapi pada Nenek,”
Lam terlihat kebingungan, ia menatap kesana kemari seperti mencari sesuatu. Kenapa ia harus sebingung itu padahal Nenek ada disampingnya.
“Kau tidak bisa melihatnya kan?” tukasku.
“Apa yang Kakak katakan? Tentu saja aku bisa melihat Nenek,”
“Bohong, kau selalu seperti ini Lam. Kau hanya berpura-pura melakukannya hanya untuk mengasihaniku kan?”
“Bukan seperti itu Kak, aku …,” Lam menghela nafasnya, lalu menatapku,”maafkan aku. Aku pikir ini bisa membuat Kakak tenang, tapi ternyata aku salah, aku malah membuatmu semakin memburuk,”
Aku terkekeh, betapa bodohnya aku karena mengira bahwa Lam benar-benar bisa melihatnya.
“Kak Kal benar, hidup harus terus berjalan. Kita tidak bisa terus terpaku pada masa lalu, aku yakin Nenek juga berpikiran hal yang sama,”
“Kau tidak mengerti apapun. Berhenti mengatakan bahwa kau mengenal Nenek. Kau pikir gara-gara siapa Nenek mati? Semua ini salah Ayahmu, seandainya ia tidak pernah meninggalkan Ibuku demi wanita lain, yaitu Ibumu, mungkin Nenek tidak akan meninggal,”
Kemarahan itu semakin kentara. Rasanya sesak, bahkan masa lalu itu masih menyakitiku meski sudah lama berlalu.
“Kenapa harus aku yang melaluinya? Kau tidak pernah mengerti betapa menyakitkannya merawat seseorang yang menjadi alasan dari kematian Nenekku …,” Nafasku tersengal, aku menyeka air mataku berulang kali,”Kenapa harus Nenek yang mati, bukan kau?”
Mata Lam berkaca-kaca. Ia terdiam, mungkin ia tidak mengira akan mendengar ucapan sekejam ini dariku. Entahlah aku tidak pernah peduli dengannya. Sejak awal, aku merawatnya karena Nenek yang memintaku.
Lam pergi begitu saja meninggalkanku. Tidak sekali pun aku mengejarnya. Mungkin ini yang terbaik, hanya ada aku dan Nenek. Kemudian Nenek memelukku dengan erat.
Dua minggu berlalu, dan aku tidak tahu Lam berada dimana. Aku memutus hubungan dengan orang-orang dan banyak mengurung diri di kamar. Kini tersisa satu hari sebelum batu terakhir yang kutelan benar-benar menghilang, rasanya berat untuk memuntahkannya.
Kemudian kuhubungi Sari, aku ingin batu kenangan lebih banyak lagi. Aku tidak bisa hidup tanpa Nenek.
“Halo, rupanya kau Ge. Ada apa?”
“Maaf menganggumu, aku ingin bilang bahwa batu yang kuberikan padaku waktu itu. Darimana kau mendapatkannya? Bisakah kau memberitahuku?”
Selama beberapa saat Sari terdiam.
“Seseorang memberikan padaku, apa batunya sudah kau pakai semua?”
“Ya. Ini batu yang terakhir. Namun aku ingin batu lagi, rasanya …, aku tidak bisa hidup jika tidak melihat Nenek,”
“Aku sangat ingin memberitahumu. Tapi kau tahu, bahwa orang yang sudah diberi batu seperti itu, tidak akan pernah mendapatkannya lagi …, meski kau meminta langsung pada orang itu,”
Aku mulai cemas ketika mendengarnya.
“Kenapa? Aku akan membayar berapapun, asal dapat batu ini,”
“Maafkan aku Ge,”
Aku frustasi membayangkan jika aku hidup tanpa Nenek. Bahkan itu lebih buruk dari neraka.
“Apa yang terjadi jika aku tetap menelannya? Waktu itu kau mengatakan bahwa kelaparan dan semacamnya, jelaskan padaku apa maksudnya?”
“Kau akan kelaparan maksudnya kau tidak akan pernah puas, dan terus menerus menuntut agar kenangan itu tetap berjalan. Antara kenangan dan realita akan menjadi bias, kau tidak lagi bisa membedakan keduanya …, tapi tunggu dulu, kenapa kau bertanya seperti itu? Jangan bilang kau …,”
“Sepertinya aku tidak akan memuntahkannya, mendengar penjelasanmu barusan, aku pikir itu bukan konsekuensi yang buruk,” ujarku menatap cahaya dari celah tirai yang terbuka.
Mungkin Sari akan menentang keputusanku. Awalnya itulah yang kupikirkan, tapi ternyata tidak. Sari hanya bertanya tentang kesiapanku dengan resiko tersebut.
“Kau tidak hanya terjebak dalam kenangan itu, tapi juga menghapus keberadaan orang-orang sekitar dalam ingatanmu. Dengan kata lain, semua ingatan dan perasaanmu hanya tertuju pada satu orang, yaitu Nenekmu. Kau yakin siap dengan itu?”
“Ya, aku siap melakukannya. Sejak awal aku tidak punya siapa-siapa,” ujarku tanpa ragu.
Hari terakhir berlalu. Benar saja rasanya semua ingatanku menjadi kabur meski tidak hilang sepenuhnya seperti yang Sari katakan. Kenangan itu terus diputar di satu tempat, tidak bergerak kemana pun seperti menonton sebuah film yang sama berulang kali. Namun entah kenapa aku tidak bosan dengan hal itu. Selama aku bisa melihat Nenek, aku tidak peduli meski kehidupan berhenti di masa yang sama.
“Ge sayang, apa kau bahagia?” pertanyaan sama dari Nenek yang puluhan kali aku dengar darinya.
Saat itu cuaca sangat cerah. Sinar matahari dari celah dahan menjuntai, terasa menyengat mengenai tanganku.
“Dari sekian banyak warna, apa kau tahu kenapa warna merah dipilih untuk diikat pada pohon ini?”
“Untuk peringatan dengan begitu orang-orang yang datang kesini tidak akan merusaknya. Nenek saat itu memberitahuku bahwa manusia selalu takut pada sesuatu yang tidak bisa mereka serang secara fisik,” jawabku.
Nenek tersenyum.
“Itu benar. Tidak hanya itu saja, lambang dari sesuatu yang harus tetap berjalan, mungkin kita lebih mengenalnya sebagai takdir, warna paling hidup dari warna lain …,” Nenek menoleh padaku,”meski terselip atau terhimpit, seseorang akan selalu bisa menemukan takdir itu,”
Angin berhembus menyentuh pelan kedua pipiku. Dua daun dari pohon ek jatuh di atas kepalaku. Nenek mengambil daun tersebut lalu memberikannya padaku.
“Kau tahu, takdir ada dalam aliran darah diri manusia. Jika itu berhenti, maka tidak ada lagi kehidupan, yang tersisa hanya penyesalan karena tidak mau bergerak ke depan,”
“Tapi jika tidak ada lagi yang berharga di depan sana, maka pilihan untuk tetap diam adalah keputusan yang tepat. Setidaknya dengan begitu seseorang tetap memiliki perasaan bahwa ia pernah dicintai,” Aku menatap dedaunan yang kupegang. Entah kenapa aku mengatakan hal semacam ini, aku merasa seperti melupakan sesuatu.
“Ge!”
Aku sontak mendongak mencari asal suara. Seseorang memanggilku. Namun hanya ada aku dan Nenek disini.
“Maka kau hanya perlu mengubah cara pandangmu. Kadang hal berharga tidak selalu bergerak dari arah yang terang, kadang mereka datang dari tempat sempit yang kita anggap buruk dan berantakan,” ujar Nenek.
“Ge!”
Teriakan itu semakin jelas, terus-menerus memanggil namaku.
“Jika kau anggap tetap melangkah ke depan adalah mimpi buruk, maka tetap diam juga sama buruknya, kita bergerak untuk kehilangan, lalu mendapatkan hal baru sebagai penggantinya, manusia selalu bergerak dalam siklus sama, tapi bukankah itu yang kita sebut kehidupan?” Nenek memelukku dengan erat, mengelus punggungku. Aku bisa mendengar helaan nafas menyentuh telingaku.
“Ge sayang, Nenek mencintaimu dan akan selalu begitu. Duniamu belum berakhir hanya karena kehilangan Nenek,”
Aku merasa ada yang menjejali pikiranku.
“Kumohon kembali,” suara Nenek berganti menjadi suara seorang pria.
“Aku mencintaimu. Kumohon kembali, Ge,”
Aku sontak terbangun dan langsung memuntahkan isi perutku, batu itu keluar dalam bentuk lebih hitam dari sebelumnya, kulihat Kal dan Lam menangis. Mereka berdua mengkhawatirkanku. Ingatanku kembali begitu aku terbangun. Kal mengatakan padaku bahwa sudah sebulan aku tidak bisa dihubungi. Bahkan ketika Lam kembali, aku sudah menghilang.
Aku ditemukan di rumah Nenek dalam kondisi pingsan.
“Sebenarnya apa yang kau pikirkan menghilang seperti itu? Kau tahu kami berdua khawatir,” geram Kal.
“Maaf Kak, ini salahku karena meninggalkanmu,” ujar Lam penuh sesal.
Aku menggeleng, lalu menggenggam tangan Lam.
“Ini bukan salahmu, ini salahku. Maafkan aku karena menyakitimu,”
Lam kemudian memelukku. Tubuhnya gemetar dengan isak tangis yang terdengar olehku. Kemudian kedua mataku terpaku pada daun pohon ek yang tergeletak dimeja. Aku pun tersenyum lalu membalas pelukan Lam.
Seminggu kemudian aku memutuskan untuk menemui Sari. Kal pada awalnya akan menuntut Sari karena dianggap membahayakanku. Namun aku mencegahnya. Bagaimana pun Sari adalah temanku. Aku yakin ia tidak berniat untuk mencelakaiku.
“Ini diluar dugaanku, tapi aku senang kau kembali,” ujar Sari tersenyum. Aku masih belum terbiasa dengan caranya tersenyum.
“Aku boleh menuntutku, salahku karena kau harus melalui hal itu,”
“Aku tidak akan melakukannya,”
“Kenapa? Apa karena kau kasihan padaku?”
Aku menggeleng cepat.
“Tidak, aku berpikir kau hanya ingin menunjukkan dunia yang berbeda padaku, dan aku belajar banyak dari itu,”
Sari terkekeh,”itu berlebihan, aku tidak melakukan apapun,” Wanita itu mengusap cincin yang ada di jari manisnya.
“Itu memang benar. Kematian Nenek selalu menjadi mimpi buruk bagiku, aku berusaha untuk mengalihkan diri dari rasa sakit itu, mengunjungi berbagai tempat hanya sekedar untuk mengenangnya lagi …,” aku mulai terisak, kuambil tisu dan kuseka airmataku,”tapi itu tidak pernah cukup bagiku, rasanya masih ada yang hilang dari diriku, sampai kau memberiku batu itu,”
“Lalu apa kau menyesal karena memuntahkan batu terakhir itu?” tanya Sari.
“Aku tidak menyesalinya. Kau tahu, kenangan itu seperti makhluk hidup, tidak bisa dipegang terlalu kuat, mereka bergerak disekitar kita, dan kita hanya diizinkan untuk mengenangnya,” jelasku tersenyum dengan pikiran yang tertuju pada Nenek.
“Manusia selalu bergerak dalam siklus yang sama, kehilangan sesuatu lalu menggantinya dengan yang baru …,” aku mengulangi ucapan yang pernah Nenek katakan padaku,”tapi justru karena itulah mereka benar-benar hidup, bukan salah kita seseorang menghilang. Kita hanya perlu bergerak agar itu tidak terlalu menyakitkan,”
Aku menghela nafas, tersenyum pada Sari.
“Aku yakin bukan aku satu-satunya yang pernah kehilangan seseorang disini. Terimakasih karena telah mengajariku tentang rasa sakit, aku berharap kau bahagia, Sari.”
Aku pun pamit dan pergi meninggalkan Sari.
……..
“Aku yakin bukan aku satu-satunya yang pernah kehilangan seseorang disini. Terimakasih karena telah mengajariku tentang rasa sakit, aku berharap kau bahagia, Sari.”
Sari mengelus cincin berbentuk bunga lily. Ia masih menatap punggung Ge yang semakin menjauh dari pandangannya. Wanita itu beranjak bangun, membayar tagihan dimeja.
Begitu keluar ia melihat Ginting yang sedang menunggu dengan sepeda motornya. Pria itu menoleh, tersenyum merekah sambil melambaikan tangannya.
“Kau lama sekali, sampai berpikir untuk meninggalkanmu tadi,” Ginting mengerucutkan bibirnya.
“Aku tidak memintamu melakukannya,” ketus Sari.
“Hanya bercanda, kau ini serius sekali. Aku tidak mungkin meninggalkanmu,” Ginting memberikan helm pada Sari. Wanita itu pun naik, tangannya memegang jok belakang.
Ginting menarik kedua tangan, menuntunnya untuk memeluknya.
“Pegangnya seperti ini, Dokter Albertus pasti memarahiku jika tahu bahwa aku tidak menjagamu dengan benar,”
Sari hanya diam. Ia tidak membalas ucapan Ginting seperti biasa, membuat pria itu sedikit keheranan. Wanita itu sedikit gugup, tidak pernah memeluk seorang pria sejak kematian Nam, kekasihnya.
Ginting melajukan motornya. Hembusan angin bercampur aroma parfum bunga lily dari kemeja pria itu tercium oleh Sari, sehingga menimbulkan perasaan tenang yang sudah lama ia rasakan.