Dunia Lorong Waktu

Lelah di tubuhku tidak bisa aku kendalikan. Aku ambruk di atas tempat tidur bahkan aku belum sempat membersihkan tubuh. Hari ini aku lumayan sibuk dengan kegiatan kampus yang sangat membosankan. Ingin rasanya aku kembali menjadi anak kecil yang pikirannya hanya bermain dan bermain.

Tanpa menunggu aba-aba lagi mataku sudah menutup rapat. Kesadaranku juga lamat-lamat menghilang. Sekian detik aku mendadak terbangun. Aku merasa kantukku yang berat tadi seketika hilang. Aku melihat sekeliling. Rasanya aneh. Ini mimpi atau nyata. Ruangan di sekitarku bukanlah kamar pribadiku namun berubah menjadi ruangan yang memiliki gaya dan corak jadul. Aku buru-buru mencubit lengan. Awh! Rasanya sakit. Ini bukan mimpi tapi mengapa aku berada di tempat asing begini.

Aku beranjak dari tempat tidur menuju ke jendela. Bahkan di luar sana pun sangat janggal. Itu bukan halaman rumahku lagi tapi entah halaman rumah siapa. Sebenarnya aku sedang berada di mana?

Karena rasa penasaran dan jantung berdebar aku membuka pintu kamar. Rumah ini berubah menjadi rumah bergaya klasik. Sepertinya aku mengingat sesuatu. Ini mirip rumah Almarhumah Nenek. Tapi bukannya rumah Nenek sudah di renovasi menjadi rumahku yang saat ini aku tempati. Kenapa rumahku kembali menjadi rumah Nenek yang dulu.

“Kamu udah bangun, Mel? Makan dulu yuk, Nenek udah masakin spesial buat kamu.” Kata seorang wanita tua yang tiba-tiba muncul dari dapur. 

“Hah?! Nenek masih hidup??!” teriakku. Bukankah Nenek sudah meninggal sekitar 5 tahun yang lalu. Aku bergegas mendekati Nenek.

“Nek? Ini beneran Nenek, kan???” tanyaku. Tapi Nenek tidak merespon. Ia justru tersenyum sambil berjalan mendekati seorang anak perempuan berumur sekitar 8 tahun. Nenek menggandeng anak tersebut menuju meja makan. Aku di buat bingung. Setahuku Nenek hanya memiliki satu cucu perempuan yaitu aku. Lalu mengapa sekarang ia memiliki cucu lain selain aku.

“Makan yang banyak ya Armel cucuku, Sayang.” Kata Nenek dengan tersenyum. ia menyendokkan nasi ke piring anak itu dan memberinya lauk. Aku merasa cemburu. Tapi tunggu dulu! Siapa nama anak itu? Armel? Armel itu kan aku?

Aku lagi-lagi di buat bingung. Aku memperhatikan wajah anak itu lamat-lamat. Dan aku baru menyadari jika anak kecil itu memanglah diriku. Diriku di masa lalu dan saat ini aku sedang berada di lorong waktu. Itulah mengapa Nenek tidak bisa melihatku bahkan aku pun tak bisa menyentuhnya.

Aku duduk di kursi yang kosong. Memperhatikan wajah tulus Nenek yang sabar menghadapiku. Waktu kecil aku memang susah sekali makan. Aku juga suka pilih-pilih makanan. Tapi Nenek dengan sabar membujukku untuk memakan semua itu. Tiba-tiba mataku berembun. Aku ingin memeluk Nenek. Aku rindu Nenek.

***

Selesai makan, ‘aku kecil’ kembali di sibukkan dengan main boneka-bonekaan di depan ruang TV. Aku mengikuti langkah Nenek menuju ke kamarnya. Nenek terlihat mengambil sebuah pigura foto. Itu foto Mama. Air mata Nenek menetes perlahan. Aku terkejut, mengapa Nenek begitu sedih. Ia mengusap foto Mama.

“Rania, putrimu sudah besar. Aku tidak janji untuk terus menemaninya sampai tua tapi aku janji akan merawatnya sampai ia beranjak dewasa. Yang tenang ya di sana, Anakku.” Di peluknya foto Mama. Nenek menangis tersedu-sedu. 

Aku ikut meneteskan air mata ketika melihat itu. Mama memang sudah meninggal sejak aku di lahirkan. Dan Papa sibuk bekerja demi menghidupi kebutuhanku. Aku di besarkan oleh Nenek. Dia ibu keduaku di dunia ini. Sampai aku berumur 15 tahun Nenek meninggalkanku untuk selamanya. Aku tinggal bersama Papa hingga saat ini.

“Nenek, aku merindukanmu. Terimakasih telah menjagaku dari bayi hingga remaja. Aku sayang Nenek, Ibu keduaku.” Ucapku. Ingin aku memeluk Nenek namun tanganku tidak bisa menyentuhnya. Aku mengusap mataku yang sangat basah oleh air mata. Dan saat aku membuka mataku kembali aku sudah berada di kamarku sebelumnya. Aku menyentuh wajahku yang basah. Ternyata aku menangis.

1 disukai 470 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction