Tubuhku meradang terpilih pilu
"Tolong..tolong belikan obatku.."
Diberikan lah obat itu,
Lalu sakitku beberapa hari masih belum sembuh.
"Kapan kamu sembuh? Habis berapa untuk pengobatanmu ini ?"
Kini, bertambah satu lagi sakitku.
....
Tubuhku meradang pilu
"Tolong aku.. badanku sungguh pilu"
Aku merintih..
Memohon, berharap seseorang melihat keadaan rapuhku dan menolongku dengan lembut..
Akhirnya seseorang datang, dengan letih aku mengadu..
"Perutku lagaknya sedang terhujam tombak, sakit sekali aku tak kuasa.."
Ucapku sambil berkaca - kaca
"Sana ambil kompres jangan hanya diam saja ! Kalau sudah tahu tubuh sakit itu ya jalan beli obat bukan hanya diam !"
Aku pun memaksa diri untuk berjalan, mencari obat dan apapun yang bisa aku makan.
Sambil merintih kesakitan ku tahan tahan
Sebab kini jantungku pula terhujam tombak
...
Di kemudian hari aku kembali terkapar lagi
Kali ini kepalaku seperti retak menjadi seribu
Aku tak lagi bersuara, telah habis tenagaku untuk menahan denyut pilu
Seseorang yang lain melihatku
Diam sambil menetes air mataku
"Kenapa kau?" Ucapnya
"Pusing.." ucapku letih.
Sembari berharap ia datang dengan obat atau selimut hangat dan ucapan doa lekas sembuh.
"Kau sudah besar ! Jangan seperti anak bayi ! Cepat beli obat sana! Diam saja pusingmu tidak akan sembuh !"
Akupun beranjak, betapa perihnya jantung itu sampai aku lupa kepalaku yang retak seribu.
Akupun akhirnya tahu, sebaiknya ku pendam lukaku, sebaiknya ku sembunyikan saja air mata perihku, supaya sakitku hanya satu.
...
Suatu waktu lagi tetiba saja aku ambruk, aku sudah tahu bahwa haram bagiku untuk memohon pertolongan indah itu.
Berusahalah aku menambah perutku yang bocor itu, sendirian sambil menangis di jalan mencari makan dan pengobatan.
Sampai akhirnya aku tak kuasa lagi.
Aku hendak tumbang.
Bergegaslah aku menuju rumah dewa para manusia
Aku lupa aku tak cukup sesaji untuk bisa membeli pertolongannya. Sehingga aku harus pulang menahan sakitku sendirian.
Tatkala di sana aku lihat, sesiapapun pergi ke rumah dewa itu tiada yang pergi sendirian seperti aku malam itu.
Bertubu tubilah kini rasa sakitku
Tangisku pecah
Jatuhlah aku dan harga diriku berserakan
Obat dan perawatan datang
Bantuan itu datang
Diiringi dengan petirnya..
"Seharusnya kalau tahu sakit itu bilang, bukannya apa apa malah sok Sokan ditanggung sendirian."
Sekarang mati lah aku, dihujam rasa sakit bertubi tubi itu.
...
"Ku bungkam saja mulutku"
"Ketika meradang tubuhku"
"Supaya sakitku hanya satu."