Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
119
Cuci Tangan
Aksi

Doni mengerjap-ngerjap mata. Layar ponsel  menunjukkan ceklis hijau, bayaran fantastis untuk sebuah pekerjaan “memelintir fakta”.

“Ii.. ini untuk saya, Master?”

Doni memastikan pria berjenggot di hadapannya tidak kelebihan menekan angka nol.

Sesimpul senyum terukir di wajah JH yang tengah duduk menyilakan sebelah kaki. Bukan rahasia, JH senang melihat orang lain mengagumi kemurahan hati dan hartanya yang mentereng.

“Setelah ini, kita tidak saling mengenal.” Pria berjenggot menggulung senyum.

“... bahkan jika berpapasan di jalan berlumpur itu!” 

Doni mengangguk, bergegas meninggalkan ruang darurat berukuran tiga kali tiga meter yang dibuat dari papan. Doni  mengerti alasan JH dijuluki “master”.

Pria itu lebih mirip pembunuh berdarah dingin daripada pengayom rakyat. Sisi hitam yang mestinya tidak dimiliki, oleh mereka yang mengenakan lencana emas.

Sebuah konten–laki-laki memanggul karung dengan wajah dibuat pilu, hitungan detik dihujani ribuan like, commen, dan share. Sebagian mengapresiasi, sebagian orang mencibir. Sesuai pesanan. 

“Ini kabar cemerlang, konsentrasi orang-orang akan fokus pada gimmick yang aku buat, karung dan wajah memelas.” JH tertawa lepas.

Tiga rekan JH berpakaian hijau army mendengar takzim, mengangguk. Setuju.

“Inisiasi menuntut perubahan status bencana nasional, open sky policy akan mereda.”

“Semua orang yang hari ini mencaci, akan melupakan musibah ini dalam beberapa waktu,” seseorang menimpal.

“Tidak akan ada lagi yang peduli setelah ini, seperti biasa. Semua akan dilupakan,” seseorang yang terdengar beda juga menimpal.

“Tambang dolar kita akan beroperasi lagi, dibawah komando Master Besar.”

Doni tercekat, langkahnya terhenti. Keinginan mengambil kabel charger kamera yang tertinggal, urung dilakukan. Suara JH bersama rekan-rekannya, bagai sebuah kotak pandora yang terbuka, mengetuk nurani. 

“Bagaimana bisa aku tidak memikirkan hal itu?” Rahang Doni mengeras. 

Rupanya konten itu dipesan bukan untuk merebut simpati khalayak dalam kontes politik. Ini jauh lebih menjijikkan dan kejam.

“Barangkali musibah ini memang diperlukan untuk mengurangi populasi orang-orang miskin di negara kita!” 

Kebusukan JH terdengar semakin mengerikan. Disaat bersamaan nurani Doni justru berguncang. 

Semua tau, bumi Aceh seakan berhenti berputar, tidak ada yang tersisa kecuali puing-puing harapan. Entah kapan, orang-orang mampu menata kembali hidup mereka. 

Sungguh kebusukan yang teramat sangat, jika ada manusia-manusia yang tega mencari keuntungan di atas lautan musibah ini. pikir Doni. Sekaligus menghakimi diri sendiri.

Langit sekitar Doni perlahan temaram, dirinya seperti lukisan cat air yang disiram hujan. Memudar, dan luruh.

“Master.” Pria berpakaian serba hitam menghadap.

JH menoleh, sebelah kanan alisnya naik. Seolah bertanya sebab ajudan itu lancang memasuki ruang diskusi.

“Tikus sudah dimusnahkan!” Pria itu menyeret tubuh berlumur darah.

Senyum di wajah JH mengembang untuk kedua kalinya. “Tidak ada yang gratis di dunia ini.” 

JH menekan pipi Doni dengan ujung sepatu kets, anak muda itu cukup berani untuk berdiam diri dan mendengar. 

“Kerahkan tim cyber, CEPAT!” JH mengamuk.

“BO*OH!” JH melempar ponsel Doni.

JH berteriak, menginjak, menendang tubuh Doni yang sekarat di lantai. Tidak ada lagi senyum keangkuhan di pipi JH. Keringat kekalahan mengucur deras seakan langit baru saja runtuh menimpa.

“Bagaimana tanggapan Anda tentang rekaman suara itu, Pak?”

“Apakah benar itu suara Anda, Pak?”

Rombongan jurnalis mengerubungi JH yang mengenakan rompi oranye. Kepalanya tertunduk, wajahnya setengah ditutup masker.

Di tempat lain, seorang aktivis kemanusiaan membuat pernyataan terima kasih dalam acara live.

“Terima kasih banyak, Kakak Anonim. Semoga Tuhan membalas kebaikan Kakak. Bantuan ini sangat berarti bagi saudara-saudara kita yang tengah mengalami musibah.” 

Aktivis itu mengusap kedua mata yang berkaca-kaca, donasi yang diberikan anonim itu senilai seperempat kilogram emas.

Di hamparan desa yang porak poranda, tim relawan berjibaku dengan kayu-kayu besar dan lumpur.

“Korban..”

“Korban..”

Tim evakuasi segera menarik seonggok tubuh kaku dari lumpur, memasukkan ke dalam kantong jenazah berwarna oranye.

“Innalilahi.. “

“Di sana, ada lagi… “

Baskoro–ketua tim evakuasi, terdiam. Rit sliting kantong jenazah belum Baskoro rapatkan. 

“Apakah ada korban penembakan yang sengaja di buang ke lokasi bencana?” Baskoro berbisik.

“Luka menganga di leher korban akan menjadi sebuah tanda tanya,” gumam Baskoro, menutup kantong jenazah.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Rekomendasi