"let bygones be bygones" kamu itu sudah jadi masa laluku-Ivana Lee
Ivana tidak menangis saat Bryan mengakhiri hubungan mereka. Setidaknya ia tidak menunjukkannya di depan Bryan. Ia hanya duduk di bangku taman kampus, menggenggam kedua tangannya erat-erat agar tidak gemetar.
"Aku rasa kita sudah nggak bisa lanjut," kata Bryan waktu itu. Seolah mereka hanya sedang membicarakan jadwal kuliah yang bentrok. Ivana bahkan masih sempat tersenyum.
"Kalau itu yang kamu mau."
Bryan mengangguk, lalu pergi, dan sejak hari itu, hidup Ivana berubah menjadi ruang sunyi.
Ia menghapus foto-foto mereka, menyimpan hadiah-hadiah Bryan ke dalam kardus, dan memblokir nomor teleponnya. Berusaha terlihat baik-baik saja.
Tetapi setiap malam, ketika dunia mulai sepi dan tidak ada lagi yang harus ia pura-purakan, rasa kehilangan itu datang seperti ombak.
Bryan ada di mana-mana, di lagu yang mereka dengarkan bersama, di kafe tempat mereka biasa mengerjakan tugas. Di setiap sudut hidup Ivana, mencoba bertahan.
Sampai suatu sore, sahabatnya mengirim sebuah tangkapan layar. Hanya sebuah foto, Bryan dan seorang gadis. Mereka sedang duduk berdampingan di sebuah restoran. Tertawa, mereka terlihat begitu dekat.
Ivana menatap foto itu lama, tangannya dingin, dadanya perlahan sesak. Ia membuka profil media sosial gadis itu, dan menemukan lebih banyak foto Bryan ada di sana.
Ivana menghitung tanggalnya, satu minggu setelah mereka putus. Bahkan ada foto yang diunggah hanya beberapa hari setelah perpisahan mereka.
Perut Ivana terasa mual, bukan karena Bryan sudah memiliki orang lain, tetapi karena semuanya terasa terlalu cepat. Seolah Bryan memang sudah berjalan menuju orang itu bahkan sebelum meninggalkannya.
***
Ivana duduk sendirian di lantai kamarnya, memandangi layar ponsel membaca ulang percakapan lama. Mencari sesuatu, tanda bahwa semua itu tidak benar. Bahwa Bryan tidak mungkin secepat itu melupakannya.
Namun semakin lama ia mencari, semakin banyak hal yang mulai masuk akal, tentang nama gadis itu yang pernah muncul beberapa kali dalam cerita Bryan. Pesan yang selalu dibalas terlambat, dan perhatian Bryan yang perlahan berkurang pada bulan-bulan terakhir hubungan mereka.
Bryan seolah tampak tidak terlalu sedih saat putus. Ivana dulu mengira Bryan kuat, sekarang ia mulai bertanya-tanya atau mungkin Bryan memang sudah selesai mencintainya jauh sebelum hubungan mereka berakhir.
Air matanya jatuh, karena tiba-tiba Ivana menyadari sesuatu. Ia bukan sedang berduka karena kehilangan Bryan, tapi karena menyadari bahwa mungkin selama ini hanya dirinya yang masih berjuang mempertahankan hubungan itu.
***
Sebulan kemudian Bryan menghubunginya, sebuah pesan singkat masuk.
"Apa kabar?" Ivana menatap layar cukup lama, lalu menjawab.
"Baik."
Bryan mengetik lagi.
"Aku dengar kamu sibuk sekarang."
"Lumayan."
Beberapa detik berlalu, lalu muncul pesan lain.
"Aku nggak pernah bermaksud nyakitin kamu."
Ivana tertawa, merasa lucu karena hal itu begitu terlambat datangnya.
Dulu, ia mungkin akan menjawab panjang lebar, menanyakan banyak hal, meminta penjelasan, tetapi sekarang tidak lagi, karena ada pertanyaan yang akhirnya berhasil ia jawab sendiri.
Bukan apakah Bryan berselingkuh, atau apakah Bryan mencintai gadis itu saat mereka masih bersama. Bukan pula sejak kapan semuanya dimulai.
Pertanyaan yang paling penting adalah, mengapa rasa sakit ini begitu besar?
Karena Ivana pernah mempercayai Bryan sepenuhnya, dan memberikan seluruh hatinya, keyakinannya dan seluruh masa depannya.
Lalu suatu hari ia menyadari bahwa orang yang paling ia percayai ternyata mampu membuatnya merasa begitu mudah digantikan, itulah yang menyakitkan. Bukan putusnya atau hubungan baru Bryan.
Tetapi kenyataan bahwa seseorang bisa mengatakan "aku mencintaimu" pada hari ini, lalu membuatmu merasa tidak berarti pada hari berikutnya.
Ivana mengambil napas panjang, lalu mengetik balasan terakhir.
"Mungkin kamu nggak pernah bermaksud nyakitin aku. Tapi kamu tetap melakukannya."
Ia berhenti sejenak, kemudian menambahkan satu kalimat lagi.
"Dan yang paling sulit bukan memaafkanmu, yang paling sulit adalah menerima bahwa orang yang paling aku percaya ternyata bisa membuatku merasa seperti orang asing."
Pesan terkirim, lalu Ivana mematikan ponselnya. Kali ini ia tidak menangis, karena akhirnya ia mengerti.
Bryan mungkin bukan pengkhianat dalam arti sebenarnya, mungkin ia tidak pernah berselingkuh. Namun beberapa luka tidak membutuhkan pengkhianatan yang nyata.