Pesawat kecil itu bergetar halus ketika mulai naik dari landasan, meninggalkan pulau episentrum tsunami 2004 itu perlahan, karena masih diliputi awan tipis di permukaan laut. Di luar jendela, kota pelabuhan Simeulue perlahan mengecil, berubah menjadi titik-titik cahaya yang berkelip seperti rahasia yang belum sempat diceritakan. Johan menutup buku di pangkuannya.
Ia sering bepergian untuk pekerjaannya sebagai jurnalis. Kota berganti, hotel berganti, orang-orang datang dan pergi. Tapi ada satu hal yang selalu sama, kesepian yang ikut terbang bersamanya.
Pramugara lewat sambil tersenyum.
“Bapak butuh sesuatu?”
“Air saja, terima kasih.”
Johan membuka laptopnya setelah pesawat stabil. Ia berniat menulis laporan, tapi malah membuka sebuah forum menulis tempat orang-orang memposting cerita pendek. Matanya berhenti pada satu judul.
“Flying Over a Hundred Miles.”
Penulisnya menggunakan nama pena, MiraSky, Johan mengklik.
Cerita itu sederhana, tapi terasa hidup. Tentang seseorang yang percaya bahwa setiap pesawat yang melintasi langit membawa kemungkinan, pertemuan, perpisahan, atau cinta yang belum sempat lahir. Johan membaca sampai akhir, tanpa sadar ia mengetik komentar.
“Tulisanmu membuat penerbangan terasa seperti perjalanan menuju seseorang, bukan sekadar menuju kota.”
Beberapa menit berlalu, pesawat sudah berada di atas awan ketika notifikasi muncul. MiraSky membalas.
“Kalau begitu semoga seseorang itu benar-benar ada di bandara tujuanmu.”
Johan tersenyum, lalu ia mengetik lagi.
“Dan kalau tidak ada?”
Balasannya datang cepat.
“Berarti kamu harus menulis ceritamu sendiri.”
“Kalau aku menulisnya, kamu akan membacanya?”
“Kalau ceritanya bagus.”
“Kalau jelek?”
“Masih kubaca. Tapi mungkin sambil mengeluh.”
Percakapan itu berhenti ketika pesawat mulai turun, tapi sejak saat itulah, Johan selalu kembali ke forum itu setiap malam. Hari-hari berikutnya mereka mulai sering berbicara. Awalnya hanya tentang tulisan, kemudian tentang hidup, diselingi obrolan tentang kopi tanpa gula kesukaannya. Bahkan cerita buku yang membuat seseorang merasa tak lagi sendirian. Lalu tentang langit yang biru lazuardinya sering Johan nikmati dari jendela pesawat di perjalanannya.
Suatu malam Mira menulis,
“Johan, kamu sering naik pesawat?”
“Lumayan.”
“Takut?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Johan membalas cepat,
“Karena setiap penerbangan terasa seperti janji bahwa dunia masih luas untuk dijelajahi.”
Beberapa detik kemudian Mira membalas.
“Jawaban itu terlalu puitis untuk seorang jurnalis.”
“Kesalahan profesi.”
Mira menulis lagi.
“Berapa umurmu?”
Johan berhenti mengetik sejenak sebelum menjawabnya.
“Kenapa?”
“Karena cara kamu berbicara terasa lebih dewasa.”
Ada jeda beberapa detik.
“Tiga puluh empat.”
Lalu Mira menulis,
“Berarti kamu lebih tua dariku.”
“Seberapa jauh?”
“Lumayan.”
“Sepuluh tahun?”
“Delapan.”
Johan menatap layar.
“Berarti kamu dua puluh enam.”
“Ya.”
Daniel mengetik lagi.
“Apakah itu membuatmu ingin berhenti berbicara denganku?”
Balasan Mira datang cepat.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kita sudah terlalu jauh terbang untuk kembali ke landasan.”
“Metafora penerbangan?”
“Pengaruh membaca ceritamu.”
Percakapan mereka semakin panjang dari hari ke hari. Kadang mereka berbicara sampai tengah malam, pernah beberapa kali sampai subuh.
Suatu malam Mira bertanya,
“Johan.”
“Ya?”
“Menurutmu kenapa orang jatuh cinta pada seseorang yang belum pernah mereka temui?”
Johan berpikir lama sebelum menjawab.
“Mungkin karena tanpa wajah, kita hanya mendengar hati seseorang.”
Mira membalas:
“Kalimat itu berbahaya.”
“Kenapa?”
“Karena bisa membuat seseorang salah paham.”
“Salah paham seperti apa?”
Beberapa detik berlalu, Mira menulis.
“Seperti mengira bahwa ia mulai menyukai orang yang berbicara dengannya setiap malam.”
Johan membaca kalimat itu perlahan lalu ia mengetik balasan.
“Bagaimana kalau itu bukan salah paham?”
Mira tidak langsung menjawab hingga beberapa detik sampai jawabannya muncul.
“Johan.”
“Ya?”
“Kamu terlalu tenang untuk seseorang yang mengatakan hal seperti itu.”
Johan tersenyum.
“Mungkin karena aku sudah melewati umur panik.”
Mira tertawa lewat pesan.
“Aku masih di umur panik.”
“Jangan panik.”
“Kenapa?”
“Karena kita hanya dua orang yang berbicara.”
“Dan kalau kita lebih dari itu?”
Johan menatap layar beberapa detik.
“Kalau begitu kita akan mengetahuinya nanti.”
***
Beberapa bulan berlalu.
Johan masih sering terbang dari kota ke kota, tapi kini setiap penerbangan terasa berbeda karena tak lagi sendiri. Setiap kali pesawat lepas landas, Mira selalu mengirim pesan.
“Sudah di udara?”
“Ya.”
“Foto awannya.”
Johan mengirim foto jendela pesawat. Mira membalas,
“Langit terlihat tenang dari atas.”
“Di bawah juga kadang tenang.”
Suatu malam Mira menulis sesuatu yang berbeda.
“Johan .”
“Ya?”
“Aku takut.”
“Kenapa?”
“Takut kalau kita bertemu.”
Johan mengernyit.
“Bukankah itu seharusnya hal baik?”
“Belum tentu.”
“Kenapa?”
Mira mengetik lama sebelum mengirim pesan.
“Karena mungkin kita hanya cocok sebagai dua orang asing di internet.”
Johan membaca kalimat itu hati-hati sambil mencoba memahami.
“Bagaimana kalau kita lebih dari itu?”
“Kalau kita lebih dari itu, aku tidak tahu harus bagaimana.”
Johan menarik napas perlahan.
“Mira.”
“Ya?”
“Kalau aku bilang aku ingin bertemu?”
“Di mana?”
Johan tersenyum kecil.
“Di bandara.”
“Bandara mana?”
“Bandara di tengah jarak kita.”
Beberapa menit tidak ada balasan, dan tak lama Mira menulis.
“Baik.”
“Serius?”
“Serius.”
“Kapan?”
“Sabtu depan.”
Ternyata Sabtu datang lebih cepat dari yang mereka kira dalam pikiran. Bandara kecil itu tidak terlalu ramai. Johan berdiri di dekat jendela besar yang menghadap landasan. Pesawat baru saja mendarat, penumpang mulai keluar satu per satu. Seorang gadis dengan ransel ponselnya bergetar.
Mira,
“Aku sudah di sini.”
Johan mengetik cepat.
“Di mana?”
“Dekat kafe bandara.”
Johan berjalan ke sana. Ia melihat seorang perempuan berdiri sambil memegang ponsel. Rambutnya sebahu, mengenakan jaket denim. Ia terlihat gugup, Johan mendekatinya perlahan.
“Mira?”
Perempuan itu menoleh, matanya hangat dan sedikit terkejut.
“Johan ?”
Beberapa detik mereka hanya saling melihat, lalu Mira tertawa lembut sambil menutupinya dengan telapak tangan yang terbalik.
“Ini aneh.”
“Sedikit.”
“Tidak seperti di chat.”
“Karena sekarang kita benar-benar ada.”
Mira memperhatikan wajah Johan.
“Kamu terlihat lebih serius dari yang kubayangkan.”
Johan tertawa.
“Dan kamu terlihat lebih berani.”
“Padahal aku gugup sekali.”
“Kelihatan ya?”
“Hey.”
Mereka tertawa canggung bersama, lalu mereka memutuskan duduk di kafe lounge bandara. Mira menatap landasan.
“Jadi ini orang yang selama ini mengirim foto awan padaku.”
“Dan ini orang yang membuatku percaya penerbangan bisa membawa seseorang ke cerita baru.”
Mira tersenyum malu.
“Johan.”
“Ya?”
“Jarak kita dulu lebih dari seratus mil.”
“Ya.”
“Dan umur kita delapan tahun.”
“Ya.”
“Apakah itu terasa aneh sekarang?”
Johan berpikir sebentar.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena ketika berbicara denganmu, aku tidak merasa sedang berbicara dengan angka.”
Mira tertawa.
“Jawaban yang terlalu romantis.”
“Kesalahan profesi lagi.”
Beberapa detik mereka diam, sebuah pesawat lain terbang melewati langit bandara, Mira melihatnya.
“Johan.”
“Ya?”
“Aku senang kita bertemu.”
“Kenapa?”
“Karena sekarang aku tahu sesuatu.”
“Apa?”
Mira menatapnya.
“Bahwa cinta kadang tidak berjalan di jalan yang sama.”
“Lalu?”
Johan tiba-tiba merasa darahnya terkesiap.
“Kadang ia terbang.”
“Terbang?”
“Ya.”
Mira tersenyum.
“Terbang lebih dari seratus mil hanya untuk menemukan seseorang.”
Johan tersenyum kembali, kali ini dadanya membuncah riang.
“Dan sekarang?”
Mira mengedik bahu.
“Sekarang kita lihat apakah cerita ini layak ditulis.”
“Menurutmu?”
Mira berdiri.
“Kalau kita berani melanjutkannya.”
Ia menatap pesawat yang lepas landas di kejauhan.
“Cerita ini mungkin akan terbang jauh lebih dari seratus mil.”
Johan ikut berdiri dan kali ini merasa perjalanan yang ia lakukan tidak terasa seperti pelarian, lebih terasa seperti pulang.