Aku pikir kubikel rumah keduaku akan menjadi tempat ternyamanku, ternyata juga jadi tempat persembunyianku. Makanya aku memilih ruangan di lantai tiga, meski tanpa lift.
Aku bekerja di keuangan, aku malas bicara, malas juga berinteraksi dengan siapapun di kantor non governmental organization itu. Aku lebih senang mendelegasikan kerjaanku, bahkan perintahku dengan laporan.
"May, ke ruanganku sebentar, " perintahku kepada staf keuangan merangkap administrasi di lantai satu.
“Ada revisi laporan donor yang kemarin Kak?” tanya May sambil berdiri di ambang pintu kubikelku. Dia satu-satunya staf di kantor yang memanggilku "Kak."
Aku mengangguk tanpa menatapnya, karena jemariku masih mengetik angka-angka di spreadsheet seolah hidupku tak terpisahkan dengan sel dan rumus-rumus Excel itu.
“Taruh saja di meja.”
May berjalan masuk, aroma sampo dan kertas baru bercampur jadi satu. Ia selalu membawa bau yang anehnya menenangkan.
“Kak Hans belum makan ya?”
Aku mendecih, pertanyaan paling kubenci di kantor adalah pertanyaan yang terlalu personal.
“Itu nggak termasuk jobdesk kamu.”
May tertawa, tidak tersinggung. Gadis itu memang aneh, semua orang di kantor takut kalau dipanggil ke lantai tiga karena aku terkenal dingin dan sulit diajak bicara, tapi May berbeda. Ia seperti orang yang tidak tahu cara menjaga jarak.
“Oke, Bos Kubikel.”
Ia meletakkan map biru di mejaku lalu pergi begitu saja.
Bos Kubikel.
Julukan bodoh itu muncul karena aku hampir tidak pernah turun ke bawah. NGO tempatku bekerja sebenarnya ramai. Banyak orang suka diskusi, rapat sambil bercanda, makan siang bareng, bikin kegiatan sosial ke desa-desa. Sedangkan aku memilih bersembunyi di lantai tiga bersama laporan audit dan angka-angka pengeluaran.
Aku tidak suka terlalu dekat dengan orang. Terlalu dekat membuat orang ingin tahu hidupmu, perlahan masuk dalam kehidupan orang lain, lalu menetap, dan pergi pada akhirnya.
Aku malas menghadapi bagian terakhirnya, aku malas ditinggalkan orang.
Sudah hampir jam delapan malam ketika hujan turun deras. Lampu kantor sebagian dimatikan. Biasanya aku orang terakhir yang pulang, tapi malam itu ternyata masih ada satu orang lagi.
May.
Ia duduk di meja luar sambil memeluk map dan memandangi hujan dari jendela.
“Kamu belum pulang?”
Ia menoleh cepat. “Motor aku bannya bocor.”
“Pulang naik ojek.”
“Uangnya kepakai beli materai buat laporan.”
Aku menatapnya beberapa detik, gadis itu tersenyum seolah kalimat barusan lucu.
“Kenapa nggak bilang dari tadi?”
“Nggak enak ganggu.”
Aku menghela napas panjang. “Ayo.”
“Hah?”
“Aku antar.”
May langsung berdiri sambil membawa tasnya seperti anak kecil diajak jalan-jalan. Aku menyesal menawarkan bantuan bahkan sebelum turun tangga.
Ia duduk di jok belakang motorku sambil terus bicara, tentang ibunya yang jualan lontong, cita-citanya yang kandas kuliah, dan cerita dirinya yang sebenarnya takut angka tapi malah kerja di keuangan.
Aku tidak banyak menjawab, tapi anehnya, aku bersedia mendengarkannya tanpa ingin membantahnya.
Sampai akhirnya motor berhenti di gang kecil.
“Rumah aku di dalam,” katanya.
Aku mengangguk.
Namun sebelum turun, May berkata,
“Kak Hans sebenarnya kesepian ya?”
Aku spontan menoleh, kaget bercampur kesal. Tempias hujan memantul di visor helmku, lampu gang yang temaram membuat wajah May tampak samar.
“Apa??”
“Orang yang terlalu suka sembunyi biasanya bukan karena benci orang lain, tapi karena takut kehilangan.”
Aku ingin menyangkal, dadaku berdetak aneh. Ingin bilang dia sotoy, tau apa dia tentang hidupku. Tapi May sudah berlari duluan sambil tersenyum jahil.
“Makasih ya, Bos Kubikel.”
***
Kalian tau, setelah malam itu aku mulai membenci kebiasaan baru, mencari May, persis seperti orang kehilangan.
Mataku otomatis melihat meja administrasi setiap pagi, telingaku langsung bisa mengenali tawanya di lantai satu, dan bahkan langkah kakiku mulai terlalu sering turun dari lantai tiga dengan alasan yang kubuat-buat sendiri.
“May, tanda tangan ini.”
“May, file donor mana?”
“May, kopi pantry habis ya?”
Padahal semua itu bisa kulakukan sendiri. Sialnya lagi, seluruh kantor mulai sadar.
“Pak Hans sekarang sering turun ya?”
“Tumben rapat ikut ketawa kemarin.”
“Kayaknya ada yang bikin betah nih selain laporan keuangan.”
Aku pura-pura tidak peduli. Tapi tiap mendengar nama May disebut bersama namaku, jantungku malah terasa seperti dipukul bertalu-talu. Aku membenci perasaan itu, karena aku tahu cinta selalu datang membawa kemungkinan kehilangan, dan aku selama ini sudah terlalu nyaman hidup sendirian.
***
Suatu hari May tidak masuk kerja, besoknya juga tidak. Lalu seminggu batang hidungnya tak tampak. Tentu saja aku tak mau semua orng tau jika aku mencarinya, dengan alasan apapun, begitu menurutku.
Rasanya kubikelku jadi terasa lebih dingin dari biasanya. Tidak ada suara langkah kecil menaiki tangga, membawa map biru admin, dan tidak ada sapaan “Bos Kubikel”.
Akhirnya aku turun ke meja administrasi.
“May sakit?” tanyaku singkat.
Teman-temannya saling pandang.
“Loh, Pak Hans nggak tahu?”
“Tahu apa?”
“May resign.”
Kalimat itu langsung menghantamku, sesuatu yang kutakutkan terjadi, kehilangan. Aku benci hal itu, dan aku membenci karena aku mulai menyimpan rasa itu disini, di dadaku.
“Kenapa?”
“Katanya mau ikut kakaknya ke luar kota.”
Aku terdiam. Kubikel lantai tiga sekarang benar-benar terasa seperti tempat persembunyian, dan lebih menyedihkan lagi, aku baru sadar seseorang pernah membuat tempat itu terasa seperti rumah.
"May..."