Disukai
1
Dilihat
9
RUMAH TERAKHIR
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Pagi itu Sam tidak pergi ke kantor, persisnya bingung karena nggak tau harus kemana, jadi ia memilih duduk di teras atas rumah, menatap halaman kecil yang dulu selalu dibanggakannya kepada Rania, daripada ke Moorden Cafe mencari ide cerita seperti biasanya.

Rumah itu memang tidak terlalu besar, meskipun jenisnya tipe di atas 100. Ada dua lantai dengan mezanin dan void menjulang untuk sirkulasi udara tropis yang kali ini membuat gerah isi kepalanya.

Tapi bagi Sam, sebenarnya rumah itu bukan cuma bangunan unsich, karena di sanalah ia pertama kali membawa Rania setelah mereka menikah, usai bencana besar ie beuna raya.

Di kamar lantai dua itu juga Rania menangis bahagia ketika melihat Sam menempelkan tulisan kecil di dinding. "Rumah ini kecil, tapi akan penuh cerita."

Saat itu Sam yakin satu hal, selama ada Rania, rumah sekecil apa pun akan terasa seperti istana. Tapi ternyata Sam lupa satu hal, bahkan istana bisa runtuh bukan hanya karena perang atau bencana bandang, rumah itu kini runtuh karena cicilan, dengan bunga pinjaman ala rentenir, meskipun katanya banknya syariah. Boong!

Ketika usahanya gagal di teror pandemi, orang-orang yang dulu membujuknya demi kredibilitasnya sebagai kepala bank, tiba-tiba berubah menjadi hakim tukang vonis saat Sam jatuh.

"Mas..." Suara Rania membuat Sam menoleh. Istrinya berdiri di pintu, wajah perempuan yang selama ini selalu membuat Sam merasa menjadi laki-laki paling beruntung itu sekarang terlihat lelah.

"Aku sudah bicara sama Mama." Sam terdiam, seolah tau akan kemana arah pembicaraannya, dan ia sudah tahu kalimat berikutnya tidak akan menyenangkan.

"Kata Mama, kalau rumah ini memang harus dilelang, mungkin kita harus tinggal di rumah mereka dulu." Sam tersenyum miris, menurutnya itu hal yang paling menakutkan dalam hidupnya selain ketemu monster.

Harga dirinya bukan cuma akan jatuh, tapi juga akan tercabik-cabik.

"Bagus dong."

"Mas..."

"Aku serius, Rania, itu bagus. Setidaknya kamu sama anak-anak nggak perlu mikirin rumah Tak usah pikirkan aku akan tinggal dimana."

Rana menunduk, karena dia tau Sam sedang terluka berat dengan pilihan itu. Sejak lama Rania tau, Sam tidak pernah bersedia tinggal di "Vila Mertua Indah", ia lebih senang tinggal di rumah hasil keringatnya sendiri meskipun rumah kontainer.

Sam melihat wajah istrinya.

"Tapi Mama bilang."

"Apa?"

Rania menarik napas

"Mama bilang, mungkin Mas harus berhenti mengejar bisnis itu."

Angin pagi masuk membawa suara kendaraan dari jalan depan rumah yang mulai bising karena sudah masuk jam kerja kantoran, dan anak-anak berangkat sekolah. Sam menatap kosong jalanan.

"Bisnis yang mana?"

Rania tidak menjawab, Sam malah tertawa tapi nadanya sinis.

"Semua bisnis aku gagal ya?"

"Mas, bukan begitu maksudnya."

"Tapi benar kan?"

Rania mendekat.

"Mas, Mama cuma takut."

"Takut apa?"

"Takut kita makin susah. Jangan sudah jatuh ketimpa tangga lagi kalau harus mikirin pindah ke rumah baru." Sam mengangguk pelan, karena dalam pikirannya yang sekarang kosong, ia juga tidak tau harus memboyong kemana istri dan anaknya.

"Ya. Aku juga takut, Ran."

Itu pertama kalinya Rania mendengar Sam mengakui ketakutannya. Selama ini Sam selalu menjadi laki-laki yang paling percaya diri, apalagi ia anak Medan, dan sejak berteman dengan Mac, ia tau kemana harus menadah tangan, bukan mengemis, tapi membarter isi kepalanya yang penuh fantasi dengan berapa digit nominal uang.

Kalau usaha gagal, dia bilang akan mencoba lagi, kalau orang cuma mencibir, Sam lebih pedes mulutnya dari tukang gosip di kampungnya.

Tapi pagi itu lemesnya berbeda, Sam betul-betul terlihat seperti orang yang sudah kehabisan kata, setelah didebat orang.

"Surat lelang itu datang kemarin." Rania akhirnya berkata.

Pesan mendadak dari Rania itu seperti pukulan jabs yang telak mengenai rahangnya, membuat Sam tidak berkutik menjawab.

Matanya langsung memandang ke arah void yang menjulang. Rumah yang selama ini menjadi simbol kerajaan kecilnya yang dibangun dari uang hasil menjual isi kepalanya kepada Mac yang sering keras kepala mendebatnya, tapi diam-diam menikmati box office dari setiap naskah film buatan Sam.

Rumah yang ia bangun dengan keyakinan bahwa hidupnya akan baik-baik saja. Tapi ternyata keyakinan tidak selalu bisa melawan ganasnya tagihan.

***

Siang harinya Sam mengendarai motor Astuti 73 miliknya berputar-putar tanpa arah, saat pikirannya buntu. Motor tua modifikasi yang selalu membuat Mac tertawa, karena menurutnya usianya lebih tua daripada sebagian artis yang pernah bermain di film mereka.

Biasanya Sam mengendarainya dengan bangga, tapi hari itu tidak. Ia seperti orang yang sedang terluka dan melarikan diri dari kejaran. Rambut wolf cut, potongan gabungan ala shaggy dan mullet itu dibiarkan terbang diterpa angin, tanpa helm kesayangannya, leather flight helmet. Tujuannya satu, kantor Mac.

Begitu sampai, Mac langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.

"Jangan bilang kau datang membawa naskah lagi."

Sam diam, Mac menghela napas, tau jika Sam diam berarti ada masalah besar mengisi batok kepalanya yang katanya tak pernah kosong dengan inspirasi, kecuali gila karena ditinggal Rania.

"Kalau mau pinjam uang, aku pura-pura tidak dengar."

"Aku mau jual naskah."

Mac berhenti bergerak.

"Berapa?" Sam duduk langsung menatap Mac, tidak seperti biasanya dan tak menjawabnya. Biasanya Sam datang dengan suara keras, bercanda, bahkan mengganggu semua orang di kantor, tapi hari itu tidak, ia hanya duduk.

"Rumahku mau dilelang."

Mac terdiam, ia tak pernah melihat sahabatnya itu separah itu kehilangan moodnya, dan itu artinya Sam tidak sedang bercanda.

"Serius?" Sam mengangguk.

"Bank sudah kasih batas waktu besok."

"Berapa?" Sam cuma menjawab dengan gelengan.

"Kalau aku tidak bayar, rumah itu hilang." Mac mengambil kursi dan duduk di depan Sam.

"Kenapa baru bilang?" Sam tersenyum tapi kali ini senyumannya pahit.

"Karena aku Sam."

"Apa hubungannya?"

"Karena aku selalu merasa aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri." Mac diam, ia tau alasan itu benar adanya. Sahabatnya yang satu ini, memang teguh dengan rasa percaya dirinya.

"Kau tahu, Mac ternyata laki-laki paling bodoh bukan yang gagal." Sam membuang muka keluar jendela.

"Tapi laki-laki yang terlalu malu mengatakan dia sedang tenggelam."

Mac tidak langsung menjawab, ia kenal baik Sam sejak SMA. Ia tahu temannya itu keras kepala, terlalu percaya diri dan terkadang itu sangat menyebalkan.

Tapi satu hal yang Mac tahu, Sam tidak pernah menyerah kalau menyangkut Rania.

"Berapa yang kau butuhkan?" Sam langsung menatapnya serius.

"Aku tidak mau pinjam uang."

"Lalu?"

"Aku mau kau beli naskahku." Mac mengerutkan kening.

"Lagi?"

"Iya."

"Berapa banyak?"

"Satu." Mac tertawa sinis seperti biasa, Sam meliriknya dan kali ia tidak peduli.

"Kau masih sama saja. Rumah hampir hilang, tapi tetap bicara satu naskah." Sam mengedik bahu.

"Karena aku bukan jual rumahku."

"Lalu?"

"Aku jual pikiranku." Mac diam, Sam melanjutkan bicara.

"Rumah bisa dibangun lagi."

"Lalu kalau Rania pergi?" Sam berhenti, itu pertanyaan yang membuatnya tidak punya jawaban.

"Aku punya ide." Mac tiba-tiba mengejutkan Sam.

Tapi Sam meresponnya cuek, tidak antusias karena tidak tau arah pembicaraannya apa bisa memberinya solusi.

"Apa?"

"Aku tidak akan membeli naskahmu." Sam menghela napas kecewa, seolah dugaannya barusan benar. Mac tak memberinya solusi, mungkin cuma mau menghiburnya.

"Ya sudah."

"Tunggu." Mac tersenyum, ia tau Sam dongkol dan kesal, dari rautnya yang kusut masai itu.

"Aku tidak membeli."

"Terus?"

"Aku produksi." Sam kali ini terdiam.

"Apa maksud kau?"

Mac membuka laptopnya.

"Aku sudah lama menunggu cerita kau itu."

"Cerita apa?"

"Ini." Mac menunjuk Sam.

"Seorang penulis yang kehilangan segalanya, kecuali alasan untuk bertahan." Sam tertawa seolah Mac baru saja mengejeknya.

"Jangan-jangan kau mau bikin film tentang hidupku?"

"Kenapa tidak?"

"Siapa yang mau nonton orang miskin gagal bayar rumah?" Mac tersenyum.

"Orang tidak lagi suka menonton kemewahan."

"Lalu?"

"Mereka menonton perjuangan." Sam diam, dan Mac melanjutkan.

"Aku tidak membeli naskahmu." Ia menatap Sam, kali ini tepat di depan hidungnya dan menatapnya serius.

"Aku beli kesempatan kau untuk buat naskah terakhir yang paling jujur." Sam tidak menjawab, tapi kali ini nyaris tak bisa menahan matanya yang mulai menghangat.

"Mac..."

"Jangan menangis."

"Aku tidak menangis."

"Itu air mata."

"Itu keringat mata. Ini keringat mata mewakili Rania, bukan aku" Mac tertawa tak peduli dengan kicauan debatnya.

"Dasar Sam."

***

Malam itu Sam pulang, Rania sedang duduk di ruang tamu, wajahnya masih terlihat sedih, lalu Sam duduk di sampingnya.

"Ran."

"Iya?"

"Aku mungkin kehilangan rumah ini." Rania menunduk.

"Tapi aku tidak mau kehilangan kau." Rania menatapnya.

"Aku sudah bicara sama Mac."

"Bagaimana?" Wajah Rania antusias dan Sam tersenyum.

"Dia membeli masalahku."

Rania mengeryit bingung.

"Maksudnya?"

"Dia mengubah masalah kita jadi cerita."

Kali ini Rania yang gantian tersenyum, dan itu cukup untuk bisa membuat Sam merasa masih ada seseorang yang tetap memilih tinggal untuknya.

"Aku kira rumah terakhirku adalah bangunan ini. Ternyata rumah terakhirku adalah tangan Rania yang tak pernah melepaskan genggamanku."

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi