"Teman"

Desingan CFM56-7 yang menempel di sayap selebar 35,79 meter ini terdengar terus berkurang di saat flaps yang menempel di ujung-ujungnya terus turun untuk mencapai posisi terendah yaitu tiga-puluh-derajat. Suara dentuman dari landing gear seolah menegaskan bahwa maskapai pelat merah ini mulai mencapai final approach di arah 03 pada standar navigasi berbasiskan kompas.

WAAA, itu adalah kode ICAO untuk Bandara Sultan Hasanuddin yang berada di Kota Makassar. Kedatangan raga ini ke Makassar sejatinya hanya persinggahan sementara, tujuan utamaku adalah Kota Mamuju. Aku harus menunggu beberapa saat di Makassar sebelum pesawat besutan Bombardier membawa ke tujuan akhir yang seharusnya.

Rika, seorang wanita cantik dengan berusia 24 tahun, adalah sosok yang setia menemani duduk di sebelahku saat ini. Merangkul tanganku dengan begitu erat, seolah tidak mau melepasnya lagi.

“Mas, ini kita nunggu kah?” tanya wanita itu.

“Dua jam lah kira-kira,” ujarku seraya menghela napas, “kita duduk-duduk aja dulu di Starbucks.”

Tiba-tiba, ia menggenggam tanganku dengan begitu erat seraya memejamkan matanya saat daratan terlihat begitu jelas dari kaca jendela yang di samping wanita itu. Dan genggamannya semakin erat saat roda belakang pesawat menyentuh landasan yang sontak memberikan guncangan yang cukup kuat seraya deselerasi tajam yang dihasilkan dari thrust reverser mesin ini.

“Masih takut aja,” ujarku seraya tersenyum memandang wanita yang masih memejamkan matanya itu, “padahal ini udah yang kesekian kalinya.”

“Takut Mas,” ujarnya lirih, “engga tau, pokoknya Rika takut aja.”

Aku tersenyum seraya melepaskan pagutan tangannya, “udah, abis ini kita minum kopi dulu.”

“Gak mau Starbucks ah Mas,” ujarnya manja, “maunya kopi bikinan Mas aja.”

Aku menggelengkan kepala seraya tersenyum kepadanya, “mana bisa bikin kopi sendiri di sini Ka.”

Ia lalu tertawa kecil, “seneng deh diajak lagi sama Mas Tama.”

Aku menghela napas seraya pesawat ini melakukan taxi merapat ke gedung bandara, “aku sendirian juga gak masalah kok.”

Ia lalu mengerucutkan bibirnya, “loh kan Mas juga yang minta ditemenin, gimana sih?”

Aku tertawa kecil, “emang kapan aku ngajak kamu?”

“Aku kan udah bilang, gak ditemenin juga gak masalah,” ujarku lalu tersenyum kepada wanita yang dadanya saat itu masih bergerak naik turun.

“Mas mah gitu,” ujarnya seraya memukul kecil pundakku, “sok gak butuh deh.”

Aku menggeleng, “kalo bukan karena permintaan istriku, aku gak akan ajak kamu, Rika.”

Senyumannya yang begitu khas langsung mengembang, tidak ada tatapan kecewa meskipun bagi sebagian perempuan, ucapan itu sangatlah menyakitkan. Wajahnya seketika memerah saat pagutan matanya tak henti-hentinya menatapku di atas lengkungan bibir merah mudanya yang begitu indah.

5 disukai 1.8K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction