Menolak Lupa

Ini adalah kesekian kalinya Shareen pergi ke kampus. Bermodal hanya membawa dua map kertas berwarna hijau telur asin dan satu map dari plastik keras berwarna hijau. Ia berharap judulnya segera disahkan dan ia segera mengejar teman-temannya yang sudah dulu berkecimpung dalam bab-bab pasti.

Shareena Aldianita, seorang mahasiswi tingkat akhir yang sedang berjuang mengurus skripsi untuk kelulusannya. Perjuangan demi perjuangan yang ia lakukan seakan tak ternilai harganya. Shareen harus menjadi tunarungu agar hatinya semakin tak sakit tiap waktu, dan pikirannya menjadi tenang.

Antisipasi dilakukan Shareen untuk mempercepat semuanya, tapi yang ia terima adalah komplen kemarahan. Shareen mengakui kalau kesalahannya adalah tak membuat janji terlebih dahulu. Tapi salahkan Shareen bersikap demikian, jika setiap kali janji dibuat, waktu janjian itu tak baku serta cenderung fleksibel bagi sang pembuat janji tapi menyiksa bagi Shareen.

Shareen adalah seorang yang terkontrol oleh keadaan, akan sangat kalap jika terdapat perubahan yang tak dapat dikendalikan. Bagi Shareen, hal tersebut pernah diajukan agar dimengerti, tapi sayangnya, tak didengar. Dengan kata manis, "tenang saja, saya bukan orang seperti itu." Shareen percaya.

Air mata Shareen terasa panas dan serasa jatuh setelah puas menggenangi pelupuk mata, tapi seketika semua hilang, seolah-olah tak terjadi apa-apa.

"Tenang, tenang."

Mantra yang selalu Shareen lafaskan demi menghindari serta melukai hati, dan Shareen memilih beranjak ke luar dengan perasaan takut. Takut kalau ia berada di luar kendali.

"Aku sudah menunggu sejak lama dan aku juga bukan orang yang bisa mengetahui situasi semua orang. Demi mempertahankan situasiku saja, malam menjadi saksi akan teriakan pilu menyayat hati."

Shareen menghela napas pasrah dengan tubuh bergetar hebat. Mendudukkan bokongnya di atas ubin dingin, demi meredakan panas yang datang menyerang. Shareen hanya bisa pasrah.

Tak butuh waktu lama, Shareen kembali dipanggil oleh si pemegang kendalu yang ke dua, yang membuat Shareen kembali membuang masa persiapan dengan hanya beberapa menit dan Shareen mendapatkan omelan dari yang pertama.

Lelah rasanya, hati dan jiwa Shareen sudah letih, apalagi mendengar kata-kata yang membuat Shareen menyerah, "saya akan mengikut kepada yang pertama saja."

Setelah semua yang Shareen terima, mengapa harus diakhiri dengan demikian rupa?

Mengapa masih saja digantung?

Kenapa tidak sejak dua minggu lalu?

Sekarang, Shareen hanya bisa terduduk pasrah di lobi ruangan, menunggu tak tahu menunggu siapa dan apa.

Soal skripsi, Shareen rasanya ingin menyerah, karena mental Shareen tak sekuat mereka. Bahkan, untuk pulang tanpa membawa kabar saja, Shareen takut.

Shareen hanya ingin mengendarai motornya ke tempat yang jauh, tempat ia tak lagi bisa mengingat semua. Tapi sayangnya, Shareen bukanlah orang yang bisa melupakan segala sesuatu dengan mudah.

"Aku hanya ingin perjalananku ini membuahkan hasil bukan hanya letih tanpa jejak."

Shareen pun memilih beranjak, melangkahkan kaki ke tempat motornya terpakir dan mencoba menatap hari dengan senyuman, walau itu adalah senyuman gentir.

9 disukai 14 komentar 2K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@onetpenulis : Makasi, kak
Iya, pertemuan dgn dosen pembimbing bisa jadi konflik yg menentukan ending yg dramatis
@onetpenulis : Makasi, Kak, atas sarannya. Akan saya perbaiki ke depannya, Kak~
@leeana : Hahaha, aku ketawa aja, Kak
@mariomatutu : Makasi, Kak
Endingnya terlalu datar, harusnya bisa dibikin dramatis. Narasi terlalu detil, bukankah lebih baik digantikan dengan pertemuan dengan dosen pembimbingnya dan grafik dramatisnya dapat. Sekadar saran 🙏
Pasti lagi skripsi ini mah penulisnya🤭
@lenggo : Makasi, Kak~
@wilmanlumbantoruan : Makasi, Kak~
Saran Flash Fiction