Flash Fiction
Disukai
2
Dilihat
9
Selebgram Roti Gabin
Romantis
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Sebenarnya Aku ngga benci selebgram, kecuali yang satu itu. Dia selalu saja ngincar Laras, memangnya ngga ada cewek lain di dunia ini, sampai harus milih Laras terus? Aku cemburu?, jelas iya lah.

Namanya Jovi Gavin, tapi di internet para haters memanggilnya Roti Gabin. Entah karena wajahnya manis di kamera, entah karena isi kepalanya serenyah cemilan, yang jelas, sejak dia pindah ke cluster persis di depan rumah pacarku, hidupku jadi sering panas.

Masalahnya satu, Laras.

Pacarku itu terlalu cantik untuk ukuran dunia yang penuh laki-laki kurang kerjaan. Jovi Gavin jelas termasuk kategori itu. Setiap kali ada acara launching kafe, pembukaan distro, undangan podcast receh, atau sekadar konten “jalan santai bareng followers”, nama Laras selalu dia sebut.

“Ajak Laras dong.”

“Mana Laras?”

“Laras cocok jadi model konten gue.”

Aku ingin muntah.

Laras, dengan sifat manjanya yang menyebalkan tapi kusukai, malah sering bilang dengan santainya.

Yaelah, dia cuma ngajak ketemu.”

“Dia cari engagement, Ras.”

“Itu kan kerjaannya.”

Lalu Laras akan menatapku sambil menahan senyum.

“Kamu cemburu ya?”

Rasanya aku, jadi lelaki paling malang sedunia, selalu kalah oleh satu kedipan matanya.

***

Sore itu Laras datang ke kontrakanku sambil membawa Dolce Latte, kopi susu Belgia favoritku.

“Sayang...” suaranya lembut.

Aku sedang mengetik di laptop, pura-pura sibuk.

“Hm.”

“Jovi ngajak ketemu.”

Aku menutup laptop perlahan.

“Lalu?”

“Di kafe baru dekat taman kota.”

“Pergi sana.”

“Kamu marah?”

“Enggak.”

“Kamu bohong.”

Dia duduk di pangkuanku begitu saja. Aroma wood sage dan sea salt parfumnya mengacaukan niatku untuk kesal.

“Aku pengin kamu ikut.”

Aku menatapnya heran, karena tumben banget Laras begitu.

“Biar apa?”

“Biar lucu.”

“Kamu mau menjadikan cemburuku hiburan?”

Dia tertawa kecil.

“Kamu kalau cemburu ganteng deh.”

Sumpah, kalau bukan Laras, sudah kutinggal dari lama.

***

Kami datang ke kafe itu pukul tujuh malam. Tempatnya penuh lampu warm white yang terkesan hangat, romantis dan orang-orang yang sibuk memotret makanan dingin.

Jovi Gavin sudah duduk di pojok, pakai jaket mahal, rambut rapi, senyum buatan kayak latihan.

“Laras!” katanya berdiri sambil membuka tangan.

Laras melambaikan tangan kecil.

Aku berdiri di belakangnya seperti bodyguard miskin.

Jovi melihatku, senyumnya langsung retak sedikit.

“Oh, kamu ikut?”

Aku tersenyum ramah.

“Iya. Aku kan pacarnya.”

Dia tertawa palsu.

“Santai, bro. Gue cuma ngajak collab.”

“Bagus. Aku cuma nemenin pacar.”

Kami duduk.

Jovi mulai bicara tentang followers, brand deal, perjalanan ke Bali, undangan podcast artis, dan segala hal yang membuat orang biasa ingin pura-pura ke toilet karena bosan.

Laras mengaduk minumannya juga sambil bosan.

Aku sengaja diam.

Sesekali kutarik kursi Laras lebih dekat ke arahku, sambil kubetulkan anak rambutnya, dan kuseka krim di sudut bibirnya pakai tisu.

Jovi makin kaku.

“Laras, minggu depan gue ke Jakarta. Mau ikut? Ada event.”

Belum sempat Laras menjawab, aku menyuapinya potongan cheesecake.

“Buka mulut.”

Laras membuka mulut sambil menatapku jahil.

“Enak?” tanyaku.

Dia mengangguk.

Jovi menelan ludah.

“Jadi, gimana soal Jakarta?”

Laras bersandar ke bahuku.

“Lihat nanti ya.”

Aku mencium puncak kepalanya tanpa suara.

Jovi meletakkan sendok sedikit keras. Pastinya dia dongkol, biarin.

Beberapa menit kemudian datang seseorang.

“Hei, kalian di sini?”

Suara perempuan cerah dan percaya diri.

Aku menoleh, Dinda Ayunda.

Perempuan itu memang masalah lama. Cantik, berani, dan entah kenapa suka sekali menggodaku sejak dulu. Laras tahu semuanya, tapi dia tak pernah cemburu. Katanya, “Aku tahu kamu nggak akan pindah ke payung lain.”

Dinda berdiri di samping meja kami dengan gaun hitam sederhana.

“Halo Laras.”

“Halo Din.”

Lalu dia menatapku.

“Kamu makin ganteng ya.”

Aku menghela napas.

Jovi justru mendadak antusias.

“Oh, ini Dinda Ayunda kan? Gue follow loh.”

Dinda melirik sekilas.

“Oh ya?”

Aku tahu nada itu, nada orang kaya bosan.

Jovi buru-buru berdiri.

“Duduk sini dong.”

Dinda malah menarik kursi di sebelah Laras, bukan di sebelah Jovi.

“Aku lebih nyaman dekat orang waras.”

Aku hampir tersedak.

Laras menutup mulut menahan tawa.

Jovi berusaha mengambil alih suasana.

“Din, kita kapan-kapan bikin konten bareng. Couple prank atau apa gitu.”

Couple?” Dinda mengangkat alis. “Sama siapa?”

“Ya, sama gue bisa.”

Dinda menatapnya dari kepala sampai sepatu.

“Kamu yakin viewers suka?”

Laras menendang kakiku di bawah meja agar aku jangan tertawa terlalu keras.

Aku memutuskan permainan harus selesai malam itu.

Aku menoleh pada Laras.

“Sayang.”

“Hm?”

“Kamu capek?”

“Sedikit.”

“Pulang yuk.”

“Sekarang?”

“Iya, Aku pengin rebahin kamu, pijitin kaki kamu, terus nonton film sampai kamu ketiduran.”

Laras menatapku lama, matanya melembut.

“Serius?”

“Aku pernah bercanda soal merawatmu kan?”

Dia tersenyum kecil, lalu menggenggam tanganku.

“Ayo.”

Jovi langsung panik.

“Lho, bentar dong. Kita belum foto.”

Aku menoleh.

“Ngapain?”

“Buat upload.”

“Maaf. Hubungan kami nggak butuh caption.”

Laras spontan tertawa keras.

Aku berdiri, mengambil tasnya, lalu memakaikan cardigan ke bahunya.

Gerakan sederhana, tapi kulihat wajah Jovi berubah seperti orang kalah tender.

Saat kami hendak pergi, Dinda ikut berdiri.

“Aku juga cabut.”

Jovi melongo.

“Lho? Din, bentar, gue anterin.”

Dinda mengambil tasnya.

“Enggak usah, Aku takut dijadikan konten.”

Aku menahan senyum.

Dinda lalu mendekat padaku dan berbisik cukup keras agar semua dengar.

“Kalau suatu hari kamu putus sama Laras, kabari ya.”

Laras menjawab cepat sambil memeluk lenganku.

“Enggak akan.”

Dinda tertawa.

“Makanya aku bilang kalau.”

Kami keluar meninggalkan Jovi sendirian bersama lampu estetik dan harga kopi tidak masuk akal.

Di parkiran, Laras memukul lenganku pelan.

“Kamu jahat.”

“Ke siapa?”

“Ke Roti Gabin.”

“Aku belum mulai jahat.”

Dia tertawa, lalu tiba-tiba memelukku.

“Aku suka waktu kamu bilang hubungan kita nggak butuh caption.”

“Itu benar.”

“Aku juga suka waktu kamu pakaikan cardigan.”

“Itu kewajiban.”

“Aku juga suka waktu kamu cemburu.”

“Nah itu penyakit.”

Dia mendongak.

“Kalau aku nakal lagi gimana?”

Aku menatap wajahnya yang terlalu kusukai itu.

“Aku bakal datang lagi.”

“Terus?”

“Mesra lagi.”

“Terus?”

“Sampai Jovi Gavin pensiun dari dunia selebgram.”

Laras tertawa begitu keras sampai orang parkir menoleh.

Lalu ia mencium pipiku cepat.

“Hadiah buat pacar paling posesif.

Aku menggenggam tangannya.

“Hadiah buat pacar paling menyusahkan.”

Kami berjalan ke motor.

Di belakang, dari kaca kafe, kulihat Jovi menatap kami sambil kesal.

Bagus.

Biarkan saja dia mengejar Dinda Ayunda.

Biarkan dia sibuk dengan followers, likes, dan sorotan kamera.

Aku?

Aku cuma butuh satu penonton setia bernama Laras.

Malam itu, dia duduk memeluk pinggangku di atas motor, sepertinya dunia sementara, aman.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi