Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
23
Secangkir cokelat panas
Aksi
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Aku kembali ke halte ini untuk mengakui satu hal: aku gagal. Bangku besinya masih sama dinginya seperti terakhi kali aku duduk disini bersamu. Waktu itu kita tertawa keras, dan yakin bahwa ini adalah jalan yang terbaik dan membawa kita ke tempat yang sama.

Kita bahkan tidak sempat memikirkan kemungkinan lain -bahwa suatu hari lagi aku tidak akan kesini lagi sendirian. Bus-bus datang dan pergi seperti biasa. Mesin mereka meraung pendek sebelum melaju meninggalkan halte. Semua orang tampak tahu kemana mereka akan pergi, kecuali aku.

Angin sore mengesekan bau karat dari tiang besi halte ke udara, hujan datang samar-samar membasahi tanah dan aroma petichor tercium dengan kuat hingga aku seperti merasakan kehangatanmu lagi padahal kamu tidak lagi disini, aku masih ingat percakapan kita dibangku ini. “Kita coba beasiswa itu, ya?”katamu waktu itu,

“Tentu.” Jawabku tanpa ragu.

“Kita berangkat bareng” kita tertawa setelahnya, seolah semuanya sudah pasti terjadi, tapi hari pengumuman itu datang terlalu cepat. Di ruang penuh orang yang menahan napas, hanya satu nama yang dipanggil yaitu adalah namamu.

Aku masih ingat bagaimana tepuk tangan orang-orang terdengar seperti suara hujan yang jatuh terlalu deras, aku ikut tersenyum namun di dalam dada, sesuatu runtuh, dan berharap bukan kamu yang dipanggil.

Aku mengenggam tiang besi halte, hujan turun perlahan, membasahi tanah yang begitu kuat, bau tanah selalu basah dan seolah setiap tetes hujan menyimpan potongan kenangan. Aku berjalan menepi menuju kafe kecil di sudut jalan – tempat yang dulu sering kita datangi setelah hujan seperti ini. Kafe itu masih sama, lampunya hangat dan aroma kopi bercampur roti panggang memenuhi udara, ada juga bau buku lama kecil yang menenangkan, seperti perpustakaan kecil yang bersembunyi ditengah kota. Tempat favorit mu.

aku memesan satu cokelat panas dengan roti kopi setiap kali bersamamu yang selalu kamu ejek.

“Kamu ini kayak anak kecil,” katamu sambil tertawa.

“Sudah dewasa, tapi minum cokelat panas.”Ejekmu membuatku tertawa saat mengingatnya.

“Tapi kamu selalu ikut minum, Martha.” Balasku waktu itu.

Aku membawa cangkir itu ke meja dekat rak buku, uap cokelat panas naik perlahan mengaburkan pandangaku sesaat. Diantara deretan buku, mataku berhenti pada satu judul yang terasa terlalu akrab, buku itu, aku menarik perlahan dari rak. Sampulnya sudah sedikit pudar, tapi aku masih ingat saat pertama kali memberikannya padamu. Kamu memeluk buku itu seperti harta karun.

“Raditya, aku bakal baca ini sampai habis,” Katamu penuh semangat,

Hal-hal kecil seperti itu seharusnya sudah lama dalam hilang dari ingatan, tapi entah kenapa, justru itulah yang paling sulit dilupakan.

Cokelat panas ditanganku sudah hampir habis, hangat tinggal sedikit, seperti kenangan yang perlahan mendingin, aku meletakan cangkir itu di meja lalu berdiri. Diluar, sebuah bus berhenti sebentar dan pintu terbuka, untuk pertama kali sejak lama, aku melangkah keluar dari kafe itu, mungkin benar – kadang kita memang harus menepi bukan menyerah supaya akhirnya bisa melangkah lagi

aku masih menyimpan catatan kecil sebelum kamu pergi ke Jerman. Tulisan tangan yang sedikit miring.

Kalau suatu hari kita tersesat di jalan yang berbeda, jangan lupa kita pernah bermimpi ditempat yang sama.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Rekomendasi