Hitam itu Buruk

Salina, anak berumur 9 tahun itu berkata, " Miss, kata mama, Salina nggak boleh berjemur!" Ketika Aku berusaha mengajaknya keluar rumah, padahal waktu itu masih pk.09.00 .

"Kenapa memangnya? Matahari kan, baik untuk kesehatan dan vitamin D alami buat tubuh Kita di masa pandemik ini." Kataku menjelaskan.

"Mama bilang Salina mudah hitam, jadi tidak boleh berjemur lagi!" Ujar Salina.

" Memang ada apa dengan warna hitam?" Tanyaku heran.

"Nanti, Salina dianggap bukan anak mama." Katanya lagi, semakin membuatku heran.

Kulit mamanya memang lebih terang dibandingkan Salina. Aku mulai melihat sumber permasalahan pada anak ini.

"Sal, papa kamu kulitnya kayak kamu?"

"Iyah, tapi kan Salina sudah tidak punya papa lagi!"

"Memang papa kamu sudah meninggal? Kan hanya berpisah sama mama kamu, tapi ia kan tetap papa kamu." Jelasku lagi.

"Talita lebih cantik kata mama, dia kan putih kulitnya." Ungkap Salina lagi.

"Jadi, itu yang membuat kamu berpikir kamu itu jelek? Karena kamu memiliki warna kulit lebih gelap?" Tanyaku.

"Iyah." Jawabnya pendek, sambil menunduk.

Aku jadi berpikir sambil memandangi anak itu, dalam hati merasa kasihan padanya. Mengapa stigma, pemikiran warna kulit putih lebih cantik masih menjajah orang Asia berkulit eksotis baik berwarna kuning langsat maupun kecoklatan. Padahal anak itu cantik. Warna kulit tidak mengurangi kecantikan seseorang menurut pandanganku. Lagi pula, menanamkan pemikiran seperti itu menurunkan kepercayaan diri anak itu.

Tetapi, Salina bukan anakku, aku tak berhak menanamkan pemikiran yang akan membuatnya berseteru dengan sang mama. Aku ini hanyalah guru les, yang menemani anak ini belajar selama pandemik. Mamanya sibuk karena ia seorang single parent, bercerai karena kasus KDRT. Mungkinkah anak ini dibilang jelek sama mamanya karena mengingatkan ia akan mantan suaminya, aku juga tak tahu itu hanya dugaan.

"Sal, Miss mau kasih lihat kamu model-model internasional yang terkenal yang punya kulit warna lebih gelap dari kamu dan tetap terlihat cantik, mau lihat nggak?"

"Emang ada?"

"Ada, dong... nih!" lalu kutunjukkan semua model-model terkenal dari halaman Google seperti Naomi Campbell, Maria Borges, Nyakim Gatwech bahkan model yang memiliki bercak pada kulitnya; Winnie Harlow yang menjadi model catwalk terkenal dan menarik.

Sejenak, Salina memperhatikan foto-foto dari model berkulit gelap itu sambil melihat dirinya sendiri.

"Benarkan, cantik itu bukan melulu soal kulit yang gelap." Kataku kepada anak itu.

"Miss, menurut Miss, Salina itu cantik?"

"Cantiklah!" Tetapi rupanya pengakuan sang Mama lebih dinantikannya, dibandingkan guru lesnya.

"Kamu tahu pencipta kamu siapa? Pencipta manusia?"

"Tuhan." jawabnya.

"Kalau kamu bilang kamu jelek, berarti kamu menghina pencipta kamu donk..."

"Iyah sih."

"Kamu lebih takut sama omongan Mama atau hukuman Tuhan?"

Jelas mamanya lha, kataku dalam hati. Hanya yang berwujud yang bisa menyakiti hati seseorang. Sedangkan yang Mahakuasa yang tak terlihat itu belum dikenal baik oleh anak ini. Walau yang tak terlihat ini sanggup membuat pandemik merajalela di seluruh dunia sudah setahun lebih.

Kembali mengajaknya keluar, menduga penjelasan tadi telah berkenan di pemikirannya.

"Jadi, yuk keluar sebentar, kita berjemur sambil kamu istirahat sebelum memulai pelajaran daring lagi dengan sekolahmu."

" Nggak ah, Miss. Takut hitam."

"Kamu cantik Sal dan ini untuk kesehatan."

Ia tetap menggeleng.

5 disukai 1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction