Suara dentang logam yang beradu dengan langkah kaki kuda menjadi musik harian bagi Zidan. Sebagai ksatria dari Orde Utara, tubuhnya nyaris tak pernah lepas dari baju zirah baja yang berat dan dingin. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan perintah adalah satu-satunya kebenaran yang mutlak. Namun, saat pasukannya melintasi lembah subur di pinggiran Andalusia, sebuah pemandangan menghentikan laju kudanya.
Di bawah pohon zaitun yang rimbun, seorang wanita bernama Layla sedang duduk bersama sekelompok anak yatim. Ia mengenakan kerudung biru muda yang berkibar lembut, sangat kontras dengan pemandangan gersang dan penuh kekerasan yang biasa Zidan lihat. Layla sedang membacakan sebuah naskah tua, suaranya tenang, mengalir bagai air sungai yang menembus celah-celah keras batu di hati Zidan.
Zidan turun dari kudanya, membuat debu berterbangan di sekitar sepatu bajanya yang berat. Anak-anak itu ketakutan melihat sosok raksasa logam mendekat, tetapi Layla tetap tenang. Ia mendongak, menatap langsung ke celah helm Zidan dengan sorot mata yang teduh namun berwibawa.
"Tuan Ksatria," sapa Layla tanpa sedikit pun gemetar. "Apakah kau membawa pedang itu untuk membelah buku, atau untuk melindungi mereka yang membacanya?"
Zidan terdiam di balik topeng bajunya. Ia merasa asing. Di medan perang, semua orang menatapnya dengan benci atau takut, tapi wanita ini menatapnya dengan rasa ingin tahu yang penuh kasih. Saat Layla menyodorkan segelas air dari kendi tanah liat, Zidan baru menyadari satu hal: ia sudah terlalu lama berada di balik besi, hingga ia lupa bagaimana rasanya menjadi manusia yang membutuhkan kehangatan.
Malam itu, perkemahan prajurit terasa lebih dingin dari biasanya. Zidan duduk di depan api unggun, jemarinya terus mengusap bekas goresan pada pelindung lengannya, namun pikirannya tertinggal di bawah pohon zaitun bersama Layla. Ketenangan wanita itu telah meracuni kedisiplinannya.
Tiba-tiba, suara sang Panglima memecah keheningan. "Besok, saat fajar menyingsing, kita akan meratakan desa di perbatasan. Wilayah itu strategis untuk membangun menara pengawas. Jangan sisakan satu bangunan pun yang berdiri."
Jantung Zidan berdegup kencang, menghantam zirah dadanya. "Tapi Jenderal, itu adalah pemukiman warga sipil. Ada sekolah dan klinik di sana."
"Ksatria tidak bertanya, Zidan. Ksatria patuh," jawab Panglima dengan nada dingin yang menusuk.
Dengan gelisah, Zidan menyelinap keluar dari perkemahan. Ia memacu kudanya dalam kegelapan menuju desa. Ia harus memperingatkan Layla. Sesampainya di sana, ia menemukan Layla sedang menyalakan lentera kecil di depan sebuah bangunan kayu sederhana yang berfungsi sebagai tempat pengobatan.
"Layla, pergilah! Bawa semua orang keluar malam ini juga," bisik Zidan mendesak, suaranya parau karena cemas. "Pasukan akan datang menghancurkan tempat ini saat fajar."
Layla terdiam sejenak, menatap lentera di tangannya. Ia tidak panik. Ia justru mengajak Zidan masuk ke dalam bangunan kecil itu, di mana beberapa penduduk sedang beristirahat. "Lihatlah mereka, Zidan. Ke mana mereka harus pergi? Dunia di luar sana sedang dilanda perang, dan di sinilah satu-satunya tempat mereka merasa aman."
"Aku tidak bisa melindungimu jika kau tetap di sini!" seru Zidan frustrasi.
Layla menatap Zidan, matanya memancarkan keteguhan yang membuat zirah baja Zidan terasa seolah mencair. "Kau pikir pedangmu adalah satu-satunya perlindungan? Kami punya Tuhan yang tidak pernah tidur. Zidan, kau datang ke sini untuk menyelamatkan nyawaku, tapi mungkin... sebenarnya kau datang untuk menyelamatkan jiwamu sendiri."
Zidan tertegun. Di balik bayang-bayang lentera, ia melihat Layla mulai bersujud, menyerahkan segala ketakutannya kepada Sang Pencipta. Untuk pertama kalinya, sang ksatria merasa benar-benar lemah, bukan karena musuh, melainkan karena ia menyadari bahwa selama ini ia bertarung untuk tuan yang salah.
Fajar pecah dengan warna merah darah di cakrawala. Suara terompet perang melengking, membelah kesunyian desa yang masih berselimut kabut. Pasukan ksatria berbaju zirah lengkap mulai bergerak maju, kuda-kuda mereka menghentak bumi dengan ritme yang mematikan. Di barisan paling depan, sang Panglima sudah menghunus pedangnya.
Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Zidan memacu kudanya melesat melampaui barisan depan. Bukannya memimpin serangan, ia justru memutar arah kuda tepat di depan gerbang desa yang rapuh. Dengan gerakan tegas, ia menancapkan panji ksatria miliknya ke tanah dan menghunus pedang besarnya—bukan untuk menyerang, tapi untuk menghalangi jalan rekan-rekannya sendiri.
"Berhenti!" teriak Zidan, suaranya menggelegar mengalahkan suara derap kuda.
"Apa yang kau lakukan, Zidan? Menyingkir atau kau akan digilas bersama mereka!" seru sang Panglima geram.
Di belakang Zidan, gerbang terbuka sedikit. Layla melangkah keluar dengan tenang, berdiri tepat di belakang punggung baja Zidan. Ia tidak membawa senjata, hanya butiran tasbih di sela jemarinya. Doa yang ia bisikkan seolah menciptakan dinding tak kasat mata yang membuat kuda-kuda pasukan di depan mereka meringkik gelisah dan enggan melangkah maju.
"Aku telah bersumpah untuk melindungi yang lemah!" Zidan melepas helm bajunya, membiarkan wajahnya yang penuh luka dan peluh terlihat jelas. "Jika perintah kalian adalah menghancurkan cahaya ini, maka aku bukan lagi ksatria kalian. Aku adalah pelindungnya!"
Ketegangan mencapai titik didih. Para prajurit saling lirik. Mereka melihat seorang ksatria paling tangguh di antara mereka bersedia mati demi seorang wanita yang hanya bersenjatakan doa. Keberanian Zidan yang tulus mulai meruntuhkan nyali besi mereka. Perlahan, satu per satu prajurit menurunkan ujung tombak mereka. Mereka melihat manusia di balik zirah Zidan, dan mereka melihat kedamaian di wajah Layla.
Panglima itu mendengus, menyadari bahwa ia telah kehilangan pasukannya secara mental. Dengan penuh amarah, ia memerintahkan pasukan untuk mundur dan mencari rute lain, meninggalkan Zidan yang terengah-engah dalam kemenangan sunyinya.
Bagian 4: Zirah Nurani (Tamat)Zidan tidak lagi mengenakan baju zirah perak yang mengkilap. Kerajaan telah mencabut gelar ksatrianya dan menyita seluruh hartanya. Kini, ia hanya mengenakan jubah kain kasar berwarna cokelat tanah, membantu penduduk desa membangun kembali sekolah yang sempat terancam.
Sore itu, di bawah pohon zaitun yang sama, Layla mendekatinya dengan sebuah nampan berisi roti hangat.
"Kau kehilangan segalanya, Zidan," ucap Layla lembut.
Zidan menatap tangannya yang kini kasar karena kerja keras di ladang, bukan karena menggenggam hulu pedang. Ia tersenyum, sebuah senyuman yang belum pernah terlihat selama ia menjadi mesin perang.
"Tidak, Layla. Dulu aku memiliki baja di luar, tapi hatiku rapuh di dalam. Sekarang," ia menunjuk dadanya yang terbalut kain sederhana, "aku tidak punya apa-apa di luar, tapi aku merasa memiliki seluruh dunia di dalam sini."
Zidan menyadari bahwa zirah yang sesungguhnya bukanlah logam yang bisa berkarat, melainkan iman dan cinta yang ia pelajari dari seorang Muslimah yang teguh. Di desa kecil itu, sang ksatria tidak lagi mencari perang untuk dimenangkan, karena ia telah memenangkan pertempuran terbesar dalam hidupnya: menaklukkan egonya sendiri.
TAMAT
"Ksatria sejati bukanlah dia yang paling banyak menumpahkan darah, melainkan dia yang mampu berdiri di tengah badai untuk melindungi satu cahaya kehidupan."