Hijab Pengantar Surga

Jamila kesal dengan hijab yang di pakainya, berapa kali tangan kanannya menggaruk hijab warna hitam terlihat tidak rapi. "Huhh bikin repot aja nih. Mana gerah bangat pake ini!" gerutu Jamila, istri tidak sabaran sontak ingin melepaskan hijabnya. "Loh kamu mau buka hijab itu, Jamila?" sudah masuk kedalam kamar Aryo, suami penyabar berdiri di hadapan Jamila buang mukanya malas lihat wajah Aryo.

"Hahh! Aku malas pake hijab ini! Ribet! Dan rasanya kepalaku gerah!" sahut Jamila nguring duduk di atas ranjang. "Niat'kan Jamila. Hijab itu pengantar surga bagi istri yang Sholeha. Wanita muslimlah harus kenakan hijab, karena itu Perintah langsung dari Allah" terduduk sabar Aryo di samping Jamila masih kesal geser duduknya. "Aku sebagai suamimu, tidaklah merasa jenuh dan bosan untuk menasehati kamu, Jamila. Karena istri yang Sholeha itu harus berniat, datangnya dari sini untuk menutupi auratnya dengan hijab" tutur Aryo sambil sentuh dada Jamila terdiam sesaat.

Aryo melirik kearah jendela terbuka sedikit tirainya, malam telah datang di sertai suara Adzan Magrib berkumdang. Aryo beranjak bangun lalu menarik tirai jendela. "Jadilah istriku yang Sholeha Jamila. Bukan karena hijab yang kau kenakan, jadi'kan dirimu semakin menjauh dariNya. Aku yakin, keinginan kita berdua dan segala doa kita berdua, pastinya di dengar, Allah" tersenyum Aryo beranjak keluar tinggalkan Jamila masih terduduk di atas ranjang.

Pagi hari datang, suara burung berkicau bersautan, di sertai langit cerah. Rumah sederhana masih di selimuti kabut tipis menyisahkan embun pagi di setiap dedaunan.

"Tapi pastinya loe'kan berhijab bukan cuman aurat aja yang loe tutupin. Tapi hati, pikiran sama mulut loe juga di jaga" sedikit sewot Maun, tukang sayur sindir dua Ibu kepo yang lagi belanja. "Eeh Jamila" sapa Maun melirik dua Ibu kepo beranjak cepat pergi saat datang Jamila. "Kenapa lagi Bang Maun?" tanya Jamila sambil pilih sayuran. "Ya biasa tuh Ibu kepo. Pagi-pagi udah ngepoin orang. Gimana nanti kalau suaminya dengar, pastinya kecewa berat" kata Maun masukin sayuran Jamila kedalam kantong plastik putih.

"Bang Maun, emang kalau saya lepas hijab. Bang Aryo bakalan ninggalin saya?" tanya Jamila tatap wajah Maun sedikit tersenyum. "Ya gimana ya? Suami loe, si Aryo sabar dan sayang bangat sama loe, Jamila. Ya suami loe wajib punya hak nasehatin loe harus pake hijab, karena seyogyanya wanita muslimah itu wajib emang harus berhijab. Hijab itu pengantar surga, Jamila. Tapi jangan cuman aurat aja loe tutupin hijab. Tapi, mulut, pikiran sama hati loe juga loe tutupin sama hijab loe. Ngerti'kan maskud gua?" dua gagang gerobak sayuran di dorong Maun setelah terima uang dari Jamila.

"Huueeek...ueeek..." rasa mual makin di rasain Jamila. Rasanya ada sesuatu yang nyangkut di tenggorokan Jamila. "Jamila?" tangan Aryo sodorkan segelas air putih cepat di teguk mulut Jamila. "Bang perut Mila ngak enak, rasanya Mila ngak salah makan deh" manjanya Jamila. "Terima kasih Ya Allah, doa saya berdua sudah di kabulkan" Aryo tersenyum melirik perut Jamila masih bingung. "Hihh Bang Aryo?" makin bingung Jamila. "Kamu hamil, Jamila" jawab peluk Aryo. "Maaf'in Jamila ya, Bang Aryo. Mila janji sedari sekarang ngak ngeluh lagi dan niatin pakai hijabnya" tersenyum haru Jamila peluk erat Aryo terharu.

838 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction