Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
98
Siapa pun Kamu, Tolong Kembalikan ini Padaku!
Drama

Suara persaingan pagi ini terdengar riuh gemuruh. Euforianya sedikit terlambat sebab air hujan turun semalaman. Kami sudah yakin sejak awal kalau hari ini akan lebih sepi. Usaha kami mendapatkan pundi-pundi rezeki tentu akan tertunda karena genangan air itu. Langkah kaki pelanggan setia kami seperti tercegat. Kata tukang sayur sebelah, pasar kami lagi ketiban apes. Kali ini, Tuhan sibuk berbaik hati kepada para petani. Sedangkan pada kami–para pedagang di pasar, diminta untuk bersabar dulu.

“Sebentar lagi giliran kita, Mar. Orang-orang tahu kalau sudah mau masuk musim hujan, enaknya masak sop,” teriaknya sambil menunjuk bangga seikat seledri dan jajaran wortel segar padaku.

Sementara pedagang umbi-umbian di seberang juga ikut seoptimis De Slamet, pedagang sayur tadi. Analoginya begini, orang-orang jauh lebih tertarik dengan singkong atau ubi kukus untuk kudapan mereka di waktu hujan sambil minum teh hangat. Kalau mereka bergaya parlente, bisa mencoba makanan lain seperti pizza atau pasta. Tak lupa minum coklat hangat atau matcha latte yang sengaja dibeli daring untuk berburu potongan harga.

Astaga, aku suka sekali dengan semangat mereka.

“Kalau kamu, Mar. Musim hujan ini ... kamu yakin jualanmu laris?”

Ah, benar juga. Bagaimana dengan nasib bongkahan tahu-tahu ini? Aku sendiri bingung. Sebagai orang yang hanya bisa berjualan tahu dari pabrik rumahan, aku kadang takut akan kehilangan pembeli. Sepersekian manusia yang datang ke pasar ini pasti ada yang ingin menu makanannya tersaji dari olahan kedelaiku. Itu terus yang aku pikirkan setiap barangku tidak tersentuh orang lain.

Sedikit memberi harapan, hiburku.

Pasti, pasti ada yang menginginkannya. Entah padaku atau pedagang yang lainnya. Toh, semua orang punya selera dan langganan masing-masing asal aku yakin rezeki tak akan salah jalan.

Aku percaya bahwa hal sederhana seperti ini bisa membawaku mendapatkan penghasilan yang cukup untuk kebutuhanku, meskipun hanya membeli tahu di tukang gorengan untuk aku makan siang nanti.

Ironi memang.

“Paling juga kamu dapat uang dua ribu, Umar!”

Tawa De Slamet pecah. Gurauannya sudah biasa bagi kami. Tidak ada sedikit pun amarahku tersulut. Candaan kami memang keras. Itu semua tidak seberapa dibandingkan cobaan kami demi mendapat lembar demi lembar rupiah itu. Uang dua ribu sama berharganya kok dengan uang yang lain.

“Saya ndak ada uang kecil e, Mas.”

Seorang wanita datang di pertengahan hari menjelang azan zuhur. Ia memintaku membungkuskan tahu seharga lima ribu rupiah sebanyak tiga kantong sedang. Katanya, untuk jadi stok di kulkasnya. Sebagai pekerja, ia jarang ke pasar kalau tidak saat akhir pekan saja. Bisa jadi masalah kalau sering izin hanya sekadar belanja ke pasar.

Apalagi demi sebungkus tahu.

“Sebentar, saya tukarkan dulu,” pamitku. Berharap ia bersabar menunggu uangnya berwujud pecahan lain.

Sayangnya semua sedang sibuk. Ya, karena itu tadi. Tempo kami melambat karena hujan. Sahutan negosiasi, tawar-menawar, pesan ini-itu, semua baru saja dimulai tepat saat matahari sibuk bekerja di atas ubun-ubun kami.

Selembar uang seratus ribu ini terus aku pegang. Berharap ada yang bersedia menukarnya jadi lembaran-lembaran rupiah dengan nominal lebih kecil.

“Nih, pas.”

Akhirnya aku berhasil menukarnya dari pedagang sate di salah satu stan jajanan. Bergegaslah aku kembali. Aku serahkan kembalian yang semestinya pada pelangganku. Sementara tiga lembar uang lima ribuan kini ada di genggamanku.

Puji Tuhan dengan segala kasihnya, aku mendapatkan rezeki pertamaku hari ini. Tiga lembar dengan corak yang berbeda dan coretan yang menghiasinya.

“Siapa yang menulis ini?”

Siapa pun kamu, tolong kembalikan ini padaku!

Ibuku pernah berkata, jangan pernah mengambil milik orang lain sekalipun itu sebesar tusuk gigi. Alkisah yang pernah mendiang tuturkan dulu terus aku ingat hingga dewasa. Aku tak mau, pintu surgaku kelak tidak terbuka. Hanya karena aku tak tahu telah mengambil milik orang lain. Semua ibadahku, amalanku, semuanya raib.

Tapi, apa benar ini milik orang lain?

Uang ini milikku. Jelas, ini hakku sebagai pedagang. Aku telah menukarnya dengan tahu jualanku. Aku tukar barang dengan nominal yang pantas. Akad jual-beli kami jelas. Ada uang, ada barang. Sekalipun ada goresan itu ... tidak, itu coretan, tulisan. Ya, tulisan. Terang-terangan seolah hak milik uang itu mutlak miliknya.

Mohon maaf, ini tetap milikku.

De Slamet tiba-tiba singgah. Mungkin dia penasaran mengapa aku seperti ikan kehabisan air. Sambil selonjoran mengamati selembar uang lima ribu perak. Aku tunjukkan saja uang itu padanya. Terutama tulisan itu.

“Menulis di uang saja itu salah,” hujatnya. Ia mengaku pernah membaca larangan itu di koran.

“Terus? Aku kembalikan, Pak?”

Bukannya menjawab, De Slamet malah terbahak. Menepuk pundakku sambil mengumpat mengataiku orang dungu. Hanya karena dia suka membaca koran tak laku milik pengepul, ia sudah berlagak jadi orang pintar sepasar raya.

“Tidak ada yang pernah tahu uang itu sebenarnya milik siapa, Umar. Dia bergerak. Terus bergerak. Dari tangan satu ke tangan yang lainnya.” De Slamet mengucapkan terima kasih.

“Dari yang bersih sampai yang kotor,” lanjutnya melambaikan tangan.

De Slamet mengambil satu kantong tahu kecil dan menukarnya dengan uang dua ribu rupiah. Lantas ia berkata, “Selagi masih ada perut yang lapar, itu bukan milik siapapun,” ucapnya begitu santai.

Kini, aku mendapat tiga lembar uang lima ribu berbau asap sate dan satu lembar dua ribu rupiah yang sedikit basah terciprat air tomat.

Tepat azan berkumandang, aku putuskan untuk mencari makan siang. Tidak, aku tidak mau membeli tahu goreng. Musim hujan membuatku mudah lapar. Aku ingin sekali makan nasi pecel di ujung gang sana. Porsinya lumayan. Apalagi harganya.

Murah.

Hanya lima ribu rupiah saja.

Tuban.

26/09/2025, 00:00

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi