Istilah padi ilalang

Kulihat seorang Siswaku termenung duduk di bawah pohon beringin saat jam istirahat pertama hanya memperhatikan teman temannya bermain ceria di lapangan sekolah yang kemudian ku hampiri.

"Gak ikut main kamu Jak?"

"Pak Djusen."

Jaka bergeser kesebelah kanan mempersilahkan sang guru duduk disebelahnya di atas bangku bambu yang teranyam di bawah pohon beringin tersebut.

"Kenapa?"

"Kenapa apanya Pak?"

Jaka yang mendengar pertanyaan Pak Djusen menjadi bingung.

"Kenapa?"

"Ayolah Pak, Jaka tidak mengerti maksud Bapak."

"pernah dengar Istilah ? Yang bunyinya menanam padi bisa jadi ada ilalang yang tumbuh namun menanam ilalang tidak mungkin tumbuh padi. Pernah dengar kah jaka?"

"Tidak Pak, Maksudnya apa Pak ?"

"Maksudnya jika kita mengajarkan seseorang akan kejujuran bisa jadi ada kebohongan yang ia hadirkan namun jika kita mengajarkan kebohongan tidak mungkin dia menghadirkan kejujuran."

"Bapak mengatakan Jaka berbohong?"

"Tidak, Bapak tidak bilang begitu."

Djusen menatap langit biru sambil bersiul siul.

"Bapak tidak berkata tapi Bapak menyatakan arah nya ke sana!"

Jaka menatap langit lalu menatap Djusen.

"Loh."

Djusen tertawa lalu melihat Jaka menatapnya.

"Pak Djusen."

"Iya?"

"Bagaimana jika sekolahan ini benar benar ditutup atau digusur oleh orang yang mengatakan tanah sekolah ini tanah sengketa?"

Djusen menatap dalam muridnya.

"Kamu ini berbicara apa Jaka ? Tugas kamu itu kan belajar bukan memikirkan tentang penutupan atau penggusuran."

"Bapak pernah dengar istilah ? Yang bunyinya menanam padi bisa jadi ada ilalang yang tumbuh namun menanam ilalang tidak mungkin tumbuh padi. Pasti bapak tahu itu?"

Jaka mengembalikan perkataan Djusen. Djusen tertawa sejenak.

"Wah, Ini kah yang di bilang Istilah Guru kencing berdiri murid kencing berlari?"

Djusen menatap langit biru.

"Kalo kalimat itu Jaka sering dengar pak."

Jaka tertawa menatap langit biru. Djusen merangkul Jaka dan mengusap kepala muridnya.

5 disukai 2K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction