Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
35
Liminal Anteroom
Drama

Akhirnya, aku memberanikan diri keluar dari 'ruang tunggu' itu.

Aku melangkah pergi, membiarkan sepi memeluk ruang sembilan kali lima itu sendirian. Di dindingnya, enam kursi Clio side chair menempel rapi. Memaku diri ke lantai seakan takut kehilangan tumpuan, ibarat bangku peron yang kehilangan jadwal.

Ada sisa dingin yang puitis di sana, di deretan bangku yang tetap setia menunggu bahkan saat langkah kaki sudah jauh melangkah. Seolah mereka percaya bahwa setiap kepergian pasti menyisakan jalan pulang.

Besi-besi kursi telah menua dalam penantian. Terlalu lama menunggu tanpa pernah tahu kapan akan berhenti.

Jendela kaca besar berkotak-kotak kayu jadi jalan cahaya matahari menyelinap masuk. Anehnya, selalu hanya lima kursi yang benderang. Kursi yang aku duduki tetap mendekap bayang-bayang, seakan matahari sengaja melompati. Seolah garis edar surya memiliki mata dan sengaja menepikan kursiku.

Aku yang datang saat langit masih hitam, justru menjadi satu-satunya titik yang gagal disentuh matahari.

...

 

Bertahun-tahun aku selalu duduk di kursi yang sama. Seluruh usia dua puluh pun habis sudah.

Begitu duduk, ritualku selalu sama. Memindai setiap jengkal ruangan. Di ruangan yang hanya satu petak, batin ini masih saja keras kepala mencari keberadaan mereka.

Aku akan berteriak sekencang-kencangnya, memanggil-manggil nama yang seharusnya mengisi lima kursi kosong di sampingku. Melempar segala tanya ke udara, mengapa mereka tak kunjung datang? Setidaknya, berusahalah untuk datang.

Amarah pun kemudian menguasai. Menuduh-nuduh mereka telah mengucilkan aku dari lingkaran mereka. Bersekongkol memotong taliku dari ikatan mereka.

Setelah tenggorokan panas dan berpasir, tangis pun datang. Berlinanglah air mata mengaliri pipi, tenggorokan, leher, hingga jatuh ke pangkuan sampai berjejak di lantai.

Di atas kursi, aku tersungkur dalam tangis menyalahkan diri sendiri. Ingatan tentang masa 'belasan tahun' datang menyerbu. Mencambuki dengan logika mustahil, 'belasan tahun' seharusnya adalah 'dewasa' agar segala kekacauan ini tak perlu ada. Seolah dengan begitu prahara jiwa yang menghantam tajam akan jinak dan mereda.

...

 

Semua kronologi itu akan bergantian dan saling bercampur urutannya tiap hari. Namun, hanya satu yang selalu jadi penutup.

Kepala menengadah ke atas.

"Seandainya bapak masih ada di sini," ucapku dengan urat leher menyembul. "Sekali pun jalan berkelok tajam, sekali pun tembok kehidupan hancur lebur, kehadiranmu akan sangat memberi dampak luar biasa. Aku akan baik-baik saja jika kau masih ada di dunia ini."

Puluhan tahun setelah ia meninggal, tetap ucapan itu yang selalu kutengadahkan ke langit.

Setelah itu, aku akan terdiam merenungi semua yang terjadi. Mendamaikan hati, memberi nama untuk setiap emosi, dan melembutkan amarah juga sesal.

...

 

Kusesap sejuk udara saat semburat lembayung mulai membasuh langit. Di sudut mata, pintu di sisi kanan terlihat jelas. Undangan bisu yang menantiku menyatu lagi dengan kehidupan luar.

Aku memanjatkan doa singkat sebelum beranjak, membawa sesak tentang lima jiwa yang kubenci. Tak ada lagi penjelasan yang kukejar di dunia ini. Biarlah kelak, saat tiba di hadapan-Nya semua kuceritakan. Di surga kami semua berkumpul, dan aku akan menjelaskan segala yang tak pernah bisa mereka pahami selama ini.

Biasanya, setelah itu aku akan keluar, dan besok akan kembali lagi mana kala tirai waktu jatuh begitu berat menimpa pundak.

...

 

Tapi ... satu hari setelah angka tiga menggantikan angka dua, aku tidak kembali ke sana. Tangis maha dahsyat di hari pergantian angka itu, di dalam ruangan itu, menghisap habis seluruh daya.

Isi kepala tetap melekat di tubuh, tak mau beranjak masuk ke dalam ruang tunggu. Begitu kering tangki tenaga hingga kepala ini terantuk dinding pertanyaan:

"Belum cukupkah usia dua puluh menghabiskan waktu di sana?"

"Usia tiga puluh pun ingin kau isi dengan gulat emosi di sana?"

"Bagaimana dengan empat puluh, lima puluh, dan seterusnya?"

"Usaha formal, informal, tidak langsung, konfrontasi, hingga berhadapan wajah pun sudah dilalui. Apakah itu berhasil membuat mereka datang ke 'ruang tunggu'?"

Sambil memandang dinding kamar berisi banyak frasa dan tanda tanya, aku pun tersadar. Berkali-kali sudah pintu hati terbuka lebar meski nyeri tak terperi. Membelakangi masa depan, berharap ikatan darah itu akan kembali.

Maka, di gerbang masuk tiga puluh, aku membalikkan badan dan merapatkan pintu. Meski suatu saat nanti mereka akhirnya datang mengetok bahkan menggedor, biarlah tetap terkunci. Sebab kini, akulah pemegang tunggal kunci atas pintuku sendiri. Gerendelnya hanya akan kutarik jika batin ini memang menginginkannya.

Ikatan darah tidak lagi jadi alasan utama pintu tetap terbuka atau akan dibuka. Tapi, karena aku memang sudah siap untuk membukanya.

Sekali pun nanti banyak angin yang berseru, "Kacang lupa kulitnya," "Durhaka," tak akan aku bergeming jika memang belum siap.

Sebab, begitu membalikkan badan, bukan lagi kehilangan mereka yang membuatku bingung dan takut. Justru kehilangan apa yang terpampang di hadapan saat inilah alasan utamanya. Kehilangan diriku yang baru saja kembali hidup.

Bukan berarti mereka yang menghancurkan damai yang ada di hadapan ini, tapi guncangan di dalam tangkup emosi batin, efek dari kehadiran mereka.

...

 

766 hari sudah berlalu, aku pun sudah tak pernah lagi datang ke 'ruang tunggu'.

Pun benci telah sirna dari simpuh. Kini isi doa hanya berpasrah, "Tuhan, aku menyerahkan puing-puing sunyi ini pada-Mu. Bukan karena menyerah, namun aku telah hancur berkeping-keping demi mencoba utuh kembali. Aku tetaplah manusia yang bisa kelelahan. Lakukanlah apa yang Engkau kehendaki pada luka ini. Sebab Engkaulah Sang Maha Tahu, yang memahami di mana letak muara dari segala luka ini."

Dan, selalu kuingat kata-kata ini dalam setiap langkah mulai dari gerbang masuk tiga puluh sampai hari ini, "Tiga puluh, empat puluh, lima puluh dan seterusnya adalah dunia yang kupilih sendiri tanpa bingung, takut, marah dan sesal oleh duri batin masa lalu."

***

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi