BAHASA

Dari perawakannya yang berambut pirang platina dan mata sebiru langit, perempuan itu tidak dapat dibilang sebagai seorang Asia. Apalagi karena dia menjalani pemeriksaan imigrasi sewaktu mendarat dari pesawat. “Enjoy your stay, Miss Georgia Newman.” Dia pun menyahut, “Terima kasih,” dengan niat memamerkan kemampuannya berbahasa Indonesia yang didapatnya dari salah satu leluhurnya yang seorang imigran Indonesia.

Di pintu keluar dia mendapati penanda: “Welcome to Jakarta, Indonesia” dan “Happy New Year 4021,” lalu menaiki salah satu taksi yang berjejer mengantri penumpang. Membuka pintunya, Georgia menyapa, “Selamat pagi, Pak,” sambil memberikan alamat hotel tempatnya menginap. Supir taksi menyahut, “Good morning to you too, Miss.”

Perjalanan sang surya yang belum mencapai pertengahan hari membuat Georgia memutuskan mengelilingi kota Jakarta. Dia membeli air minum dari warung yang pemiliknya fasih berbahasa Inggris meskipun dia sudah meminta percakapan dilakukan dalam Bahasa Indonesia saja. Hal yang sama terjadi ketika dia menaiki segala transportasi umum dan mencuri dengar percakapan dua orang lokal di sebuah taman. Dalam pikirnya, ke mana dia dapat menemukan orang-orang yang berbahasa Indonesia?

Georgia melewati sebuah sekolah dasar yang halamannya terpancang bendera merah putih. Di dalam kelas, seorang guru menjelaskan pelajaran Matematika. “Two times two….” Georgia meneruskan langkah sampai bertemu Kepala Sekolah. Sialnya, petinggi institusi pendidikan dasar tersebut justru mengakui bahwa pelajaran Bahasa Indonesia sendiri sudah ditiadakan dalam kurikulum pelajaran mereka. Untungnya, Kepala Sekolah memberikan alamat rumah seseorang yang katanya warga tertua Indonesia. Mungkin saja Georgia dapat bercakap-cakap dengannya dalam Bahasa Indonesia.

Sesampainya di rumah Warga Tertua, Georgia menyampaikan maksudnya dengan struktur kalimat Bahasa Indonesia tanpa cela. Wajahnya ceria, bola matanya bersinar penuh harap, dan telinganya telah siaga. “I do understand some of the words that you’ve said, but I don’t speak Bahasa. I’m sorry.”

Tenggorokan Georgia seolah-olah dilewati batu besar. Bukan hanya Warga Tertua tidak memenuhi harapannya, melainkan karena istilah “Bahasa” yang digunakan olehnya untuk menyatakan “Bahasa Indonesia.” Menahan geram dalam hati, Georgia berlalu. Di sebuah toko kelontong, dia membeli cat semprot sebelum melanjutkan tujuannya.

Tidak ada pengunjung di gedung yang berlokasi di Jalan Kramat Raya No. 106. Pada salah satu dinding melekat naskah Soempah Pemoeda. Dalam hati, Georgia membaca butir pertama dan kedua. Tibalah lidahnya memaknai butir ketiga. Jantungnya berdegup kencang seiring dengan bunyi yang ditimbulkan dari aksinya mengocok cat semprot. Dia sudah membuka tutup kaleng dan mengarahkannya kepada empat kata terakhir, “…bahasa persatoean, bahasa Indonesia.”

“Hei, jangan dirusak!”

Mendadak, tangan Georgia berhenti di udara sewaktu mendengarnya. Dia menyimpan cat lalu berbalik dan memberikan senyum paling lebar kepada pemilik suara tersebut.

11 disukai 2 komentar 2.5K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Jangan sampe, sih, pelajaran bahasa Indonesia ditiadakan🙁
Saya suka!
Saran Flash Fiction