TERLALU BAIK

Laki-laki bertubuh atletis dan berambut gondrong membaca selembar surat wangi berwarna pink. Hidungnya memberengut dan dahinya mengernyit. Dia membaca kalimat terakhir pada kertas tersebut, “I love you.” Laki-laki itu melipat surat dan menghembuskan napas. “Melati,” katanya sebelum melanjutkan, “Maaf, tapi kamu terlalu baik buat aku.”

Dua musim telah berganti sejak peristiwa itu. Laki-laki bertubuh atletis tak pernah lagi menemuinya. Namun, dia tetap dapat saksikan keberadaannya yang sering habiskan waktu bersama seorang wanita berambut panjang mengenai bahu.

Melati tersenyum sewaktu menengok karung yang bergantung di lengan kanannya. “Telepon nomor ini, Pak,” pintanya kepada Bapak berseragam. Cengiran gadis itu semakin lebar karena yakin bahwa kali ini orang yang ditelepon tidak akan menolak panggilan dan perintah. Melati kemudian mendaratkan bokong di kursi tunggu sambil menyimpan karung yang dia bawa di sampingnya. Dia tertegun sewaktu melihat bercak merah yang terciprat dan segera dia bersihkan dengan ujung kemejanya.

Benar saja. Tidak lama kemudian, orang yang dia tunggu muncul. Melati langsung menghampirinya sebaik laki-laki itu menjejakkan kaki di ruangan yang sama dengannya. Matanya berbinar dan tangannya mengembang sewaktu mendekati laki-laki itu dan berkata, “Lihat, aku bukan orang yang terlalu baik.” Melati membuka karung dan menarik benda yang tersimpan di dalamnya; seonggok potongan kepala manusia berambut panjang yang tidak dapat dipastikan apakah menyentuh bahu atau tidak.

3 disukai 2 komentar 2.6K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
😱endingnya
Aku shock sama endingnya.
Saran Flash Fiction