Perahu Tanpa Dayung

"Andai gua bisa jadi pacarnya, pastinya gua bakalan senang bangat punya pacar mukanya ganteng bangat"guman Adila, gadis pencemburu tersenyum puji Rake, nelayan tampan banyak di sukai wanita.

Dari kejauhan Rake, nelayan baru pulang melaut, kemudian turun dari perahu sambil membawa keranjang berisi ikan. "Rake"panggil Niar, gadis baik menghampiri Rake tersenyum. "Dia lagi-dia lagi!"kesal tidak jadi Adila akan mendekati. Makin kesal Adila saat Rake dan Niar berjalan menyusuri pasir putih tepian pantai.

Kesal Adila terduduk perhatikan lautan luas, ombaknya mulai datang pasang. Matahari mulai kembali keperaduannya. Perahu bergoyang di hempas ombak, raut wajah kesal bercampur cemburu makin tergurat di wajah Adila.

"Tololnya gua kenapa suka sama Rake, yang jelas-jelas udah punya pacar. Kan banyak lelaki di sini, selain Rake"kesal gerutu dalam hati Adila perhatikan perahu tanpa ada dayung di hadapannya. "Cinta gua kayak perahu ngak ada dayungnya deh. Kayak cinta bertepuk sebelah tangan. Gua cuman cinta sendirian, sedang Rake, yang gua cintai aja ngak tahu"makin sedih raut wajah Adila sedikit tersenyum perhatikan sinar sunset dari kejauhan.

"Niar tunggu!"cepat Adila menghampiri Niar berhenti berjalan berbalik tersenyum. "Heh Dila?"sahut Niar perhatikan wajah masam Adila sudah berdiri saling berhadapan. "Loe memang pacaran sama Rake?"tanya Adila sinis. "Aku sama, sama?" "Niar hayoo" belum sempat Niar menjawab sudah di panggil Rake baru saja keluar dari pasar, habis menjual ikannya. "Uhhhh!"menahan kesal Adila perhatikan Niar dan Rake berjalan saling bercanda.

Deburan ombak terdengar dari dalam rumah, sinar rembulan makin mempercantik tengah lautan yang tenang. Lampu pelita terlihat nyalah kecil tergantung di depan tiap tiang rumah.

Sinar mentari pagi mulai beranjak datang, tidak malu-malu menyinari sekitar. Deburan ombak kecil, hanya sedikit menggerakan perahu di tepian pantai. "Hati-hati Rake. Semoga hari ini banyak dapat ikannya"melambikan tangan Niar pada Rake tersenyum mulai mendayung perahu ketengah laut.

"Rasain loe! Prug"terjatuh Niar setelah kepalanya di pukul dengan dayung oleh Adila. "Loe udah bikin gua cemburu!"tuding kesal Adila beranjak jalan pergi meninggalkan Niar terkapar di tepian pantai.

"Paman mau, jika bisa kamu lekas pulang dan tengok Ibumu yang sedang sakit, Rake"duduk berhadapan Samsul dengan Rake tersenyum melirik Niar meletakan secangkir teh hangat di atas meja. "Dengarin apa kata Ayah, kamu'kan udah lama tidak pulang-pulang. Kasihan Ibumu, pastinya rindu sekali dengan kamu, Rake"sambung Niar seraya meledek Rake tersenyum meneguk secangkir teh hangat. "Gimana kepala kamu, Niar?"tanya Rake perhatikan kepalanya di balut perban. "Udah ngak apa-apa"jawab Niar duduk di samping Samsul.

Sedih merasa bersalah Adila menguping di depan pintu. "Ternyata gua udah salah menilai. Kemarahan gua udah mencelakai Niar karena gua terbakar cemburu"guman menyesal Adila akan beranjak jalan tidak jadi. "Adila"panggil Rake menghampiri Adila akan pergi. " Heh Adila, sini myo masuk"ajak Niar menghampiri Adila memeluk Niar bingung.

"Niar maafin gua ya. Gua udah celakain loe tadi siang, gua yang pukul kepala loe pake dayung. Karena gua cemburu sama loe dekat sama Rake. Ternyata loe berdua sepupuan"tersenyum sedih Adila melirik Rake tersenyum. "Aku dan Rake itu masih sudaraan, Dila. Mana mungkin aku pacaran"ledek Niar melirik Rake meraih kedua tangan Adila tersipu malu.

6 disukai 2 komentar 1.3K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
semoga menghibur
Lucu jugaa hah
Saran Flash Fiction