Heart

"Kenapa lo ngga ke rumah Leo?" ujar Zahra.

Di saat tidak ada reapon, Zahra mengalihkan tatapannya ke arah Leo yang berada di sampingnya. Mereka sama-sama bingung dengan diam nya seorang Lily.

"Dan berakhir gue yang sendirian."

Lily menatap menatap kedua sahabatnya dengan sendu. "Kejadian seperti ini sering kali gue alami saat kalian sudah reami berpacaran." Suara Lily terdengar bergetar. Membuat Zahra dan Leo diam terpaku.

"Bahkan, ketika gue butuh teman curhat, kalian kemana saja?! Pacaran?" Tertawa sumbang yang begitu membuat mereka semakin merasa bersalah. "gue selalu mendengar curhatan kalian tentang bagaimana kalian berpacaran hiks, tapi apakah kalian tahu? Hati gue sakit!"

Leo menatap Lily bingung.

"Gue suka sama lo, Leo. Bahkan sebelum Zahra hadir di tengah-tengah kita!"

Zahra dan Leo menatap Lily dengan terkejutnya, "M-maksud lo apa, Ly?"

"Setiap hari hati gue menahan sakit! Saat kalian selalu bercerita tentang hubungan kalian! Hiks. Bahkan keluarga, lo lebih memperhatikan Zahra dan seolah-olah mereka ngga melihat gue ada! Gue ada. Namun, gue merasakan di tiadakan."

"Gue sangat kesal dengan semuanya. Gue kesal pada diri gue sendiri! Gue kesal karena membiarkan Lo bahagia bersama orang lain sedang kan hati ini menahan perih! Gue benar-benar kesal!" Lily menatap Leo dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.

"Kalian tau apa yang paling menyebalkan di dunia ini?" Menghapus air matanya dengan kasar tanpa mengalihkan tatapannya pada Leo.

"Saat gue berpura-pura bahagia di depan, Lo! Dan gue ngga bisa melakukan apa-apa. Arghhh itu sangat menyebalkan!" Lily berteriak emosi.

"Ly." Leo memeluk Lily yang masih mengeluarkan air matanya. Mengabaikan Zahra yang diam mematung.

"Gue ngga papa. Jika, lo bisa bahagia bersama Zahra, gue akan lepaskan, lo. Berjanjilah, bahwa lo akan bahagia."

Tersenyum begitu tulus di hadapan Leo dan Zahra. Mengabaikan rasa perih di hatinya. Melepaskan orang yang sangat Lily cintai bersama orang lain bukan berarti cintanya berakhir. Setidaknya Lily sangat senang bisa mencintai seorang Leo.

"Ly. Maaf. Maaf buat hati lo sakit," ujar Leo menyesal. Bahkan Zahra menundukkan kepalanya tidak berani menatap manik Lily.

Satu tahun berlalu~

Lily memandang langit dari kaca jendela kamarnya dengan tersenyum sendu. Membuka buku diary nya dan menuliskan isi hatinya.

"Lo apa kabar di sana? Semoga lo bahagia ya bersama dengan dia. Di sini, gue akan selalu berdoa untuk kebahagian lo. Tetaplah tersenyum, walau gue tidak lagi ada di samping, lo. Gue tahu, pasti rasa rindu itu akan datang di antara kita. Tidak apa-apa jika kita tidak akan bertemu Karena gue sadar, hati lo bukan milik gue. Tidak apa-apa hati gue merasakan sakit. Biarlah gue yang merasakan. Cukup bahagialah dengan pasangan lo saat ini." Lily memgembuskan nafasnya pelan.

"Sudahlah. Sampai jumpa di lain waktu. Jika Tuhan memberikan satu kesempatan bertemu dengan, Lo. Jangan lupa untuk tersenyum, Karena gue ngga mau melihat lo bersedih."

"Gue rindu, tapi ngga mampu untuk bertemu. Jadi, jaga dirimu baik-baik ya di sana. Salam untuk pasangan, lo. Bilang padanya. Untuk selalu memperhatikan, lo."

Air mata Lily menetes begitu saja mengenai lembaran kertas yang ia tulis.

Menatap bintang-bintang di atas sana dengan senyum sendunya.

"Tuhan, biarkan Aku menangis malam ini."

3 disukai 2.3K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction