Coba-coba

"Kak, lihat deh, teman anak mama. Menurut kamu gimana?" tanya Mama ketika aku sedang sibuk dengan laptop dan lembar kerja.

Aku mengernyitkan dahi, "Ma, jangan sekarang deh. Aku lagi kerja. Lagian kalau Mama mau jodohin aku sama anak temen mama lagi, aku nggak mau," kataku.

"Lihat dulu fotonya, cakep lho," ucap Mama tidak patah semangat.

"Nggak semua yang cakep harus Mama kenalin ke aku. Udah deh, Ma. Umurku baru dua puluh empat tahun. Belum mau buru-buru nikah."

Tentu saja sekarang bukan prioritasku untuk menikah. Usiaku baru dua puluh empat tahun dan hanya lima tahun belakang aku bisa hidup seperti yang aku mau. Sisanya? Aku hidup dibawah kontrol orang tua. Rasanya tidak seperti hidup meski tetap bernapas. Dan sekarang lima tahun masih terlalu cepat untuk harus kembali dikontrol orang yang nantinya akan menjadi suamiku. Bukannya tidak mau, hanya belum ingin.

"Coba dulu aja, Kak. Kenalan. Kali aja jodoh."

"Ma, itu buat jodoh aku kan?" tanyaku yang akhirnya benar-benar fokus pada wanita yang sangat aku sayangi itu. "bakal buat seumur hidup, 'kan?"

"Ya iyalah. Mama nggak pengen kamu cerai, Kak," balasnya.

"Terus kok coba-coba?"

Mama terdiam.

313 dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction