DIALOG FAJAR

Dia berdiri di roof top memandang fajar. Pikirannya masih terganggu karena 'mimpi setengah jalan' tadi malam.

"Bukan Kau yang menentukan, tapi Aku-"

"Kau kira Aku robot? buat apa akal ini? ambil saja biar Kau puas."

"Jika Kuambil maka Kau pun selesai, tamat! itu yang Kau mau?"

Dia pun terdiam. Ancaman itu tampaknya bukan main-main.

"Baiklah. Jadi, Kau yang menentukan semuanya?" Dia mengalah.

"Bukan semuanya-hanya lajur perjalanan-mu saja. Sekali Aku menempatkanmu di situ, Kau tak punya pilihan selain menjalaninya. Perjalanan itu sepenuhnya ada di bawah kendali-mu, Aku tak ikut campur. Bukankah itu adil?"

Dia menerawang sejenak, berusaha menemukan di mana letak keadilannya.

"Itu tidak adil! lajur itu pasti panjangnya tidak sama, konturnya juga tidak sama, apalagi pemandangannya-sudah pasti tidak sama."

"Ada benarnya yang Kau bilang, memang tidak sama, tapi panjangnya dan pemandangannya sama-"

"Mana mungkin?! tak usahlah Kau menipu-ku."

"Kau kira Aku penipu? dengar, Kau kujadikan untuk mengenal-Ku, untuk menikmati kemuliaan-Ku. Lalu, untuk apa Aku menipumu? tak ada gunanya sedikit pun!"

"Baiklah, kalau begitu, bagaimana panjang jalan itu bisa sama, padahal konturnya berbeda?" Dia mengalah (lagi).

"Aku sudah membuat satu tali pengukur sebagai patokan panjang jalannya. Lurus atau berbelok tidak akan mengubah panjangnya."

"Baik. Lalu, apa yang sama dari pemandangan itu?"

"Langitnya sama. Semua yang ada di langitnya, SAMA! di lajur mana pun Kau berada, Kau akan melihat pemandangan langit yang sama."

Dia termangu sembari mengusap wajahnya.

"Jangan memaksa, terima saja-lah!"

"Aku bukan memaksa-"

"Tidak! sesungguhnya Kau sedang memaksa-kan kehendakmu kepada-Ku. Seolah-olah Kau yang lebih tahu daripada-Ku."

"Jadi, Kau mau aku bagaimana?" Dia mengalah (berikutnya lagi)

"Aku mau supaya Kau terus berjalan di lajur-mu itu dan jangan membandingkannya dengan lajur orang lain agar Kau tidak membuang kesempatan-mu untuk menikmati kemuliaan-Ku. Urus saja diri-mu sendiri."

"Terus?"

"Seperti apa pun kontur jalan di lajur-mu itu, Aku sudah merancangnya sedemikian rupa agar sesuai dengan keberadaan-mu."

"Maksud- nya?"

"Sesuai dengan kekuatan dan daya tahan terbaik-mu. Ingat, yang terbaik, bukan yang seadanya.

"Bagaimana Aku tahu yang terbaik itu?"

"Ukurannya, Kau tidak mengeluh. Begitu kau mengeluh, tandanya kekuatan terbaikmu belum keluar, masih kekuatanmu yang seadanya saja."

Dia beranjak tiga langkah ke sebelah kanan untuk duduk di kursi itu.

"Rasanya mustahil tidak akan mengeluh. Kau tahu kami ini hanyalah debu tanah yang dihidupkan-"

"Memang. Boleh saja Kau mengeluh, tapi jangan pernah menyerah, apalagi sampai menyalahkan-Ku! berjuanglah supaya kalimat yang pertama keluar dari mulutmu adalah puji syukur kepada-Ku, maka keluhanmu jadi sirna seketika.

Dia menengadah-seperti ada yang sedang menarik kepalanya.

"Kau sedang apa di sana sampai membuatku begini?"

"Aku baru saja mengangkat dagu-mu dengan lembut. Janganlah takut. Aku tahu beban-mu begitu beratnya Kau rasakan saat ini. Kau sedang mendaki jalan berkelok-kelok itu."

"Benar sekali kata-Mu itu-"

"Kau merasa seperti sedang dihukum dengan siksaan yang menyesakkan dada, bahkan saat ini kau rasakan seperti meremukkan tulang-"

"Benar-itu sungguh memuakkan rasanya!"

"Kau jangan marah. Terus saja melangkah, biarpun tertatih-tatih. Ketahuilah, di ujung dakian itu sesuatu yang melegakan hati sedang menunggumu. Kau boleh memanggil-Ku jika butuh bantuan."

"Baiklah-terima kasih banyak." Dia tersungkur, menyerah, dan tak berani berkata-kata lagi!

--000--

2 disukai 3 komentar 4.6K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@KH sama-sama. 🙏🤗
@egidperdana89 : Makasih Bang Egi🤗
Masterpiece. 🤗🙏
🌟🌟🌟🌟🌟/🌟🌟🌟🌟🌟
Saran Flash Fiction