Lucid Dream

Aku berdiri kebingungan dengan pohon-pohon pinus yang berdiri tegak mengelilingiku. Hanya siulan burung pipit yang bersahutan yang bisa aku dengar, sambil sesekali jangkrik ikut ambil bagian.

“Dimana aku sekarang?” ucapku bermonolog sambil melihat sekelilingku yang mungkin saja terasa sedikit familiar, namun ternyata semuanya terlihat benar-benar asing. Aku pun berjalan pelan mengikuti jalur setapak yang ada di depanku. Namun, entah kenapa jalan yang ku lalui seperti tidak berujung. Seakan-akan aku sedang berjalan di tempat yang sama meskipun aku sudah melangkahkan kakiku puluhan kali. Aku pun memutuskan untuk berhenti sebentar karena langkahku terasa semakin berat dan melelahkan.

“Kalau dipikir-pikir, sedari tadi aku berjalan di tanah berbatu tanpa alas kaki, dan aku tidak merasakan sakit apapun. Apakah ini hanya mimpi ataukah aku sudah mati?” batinku.

Aku pun menghapus pikiran burukku lalu melanjutkan perjalananku. Syukurlah, akhirnya aku menemukan sebuah rumah tidak bertetangga yang dindingnya bercat kuning. Namun, begitu aku hendak mengetuk pintu, muncul suara keributan dari balik rumah. Dengan perasaan yakin-tidak yakin, aku menghampiri sumber suara tersebut.

Tiba-tiba jantungku berpacu sangat cepat, keringat dingin pun keluar dari pori-poriku, “Kenapa mendadak aku merasa sangat ketakutan seperti ini?” ucapku lirih sambil menepuk-nepuk dadaku.

Dari balik dinding, aku mengintip kejadian tersebut dengan tubuh gemetaran. Aku tidak melihatnya dengan jelas, tapi membuatku benar-benar merasa takut hingga tubuhku seperti lumpuh rasanya. Sambil membungkam mulut, aku berlari sekuat tenagaku, namun itu tidak membuahkan hasil.

Seseorang pria yang tidak dapat ku lihat dengan jelas raut wajahnya, berdiri tegap di depanku, menghalangi langkahku. Dia perlahan berjalan mendekatiku. Karena ketakutan, aku pun berjalan mundur menjauhinya. Namun, tiba-tiba di belakangku tersaji hamparan laut yang luas berwarna biru gelap, menandakan seberapa dalam laut tersebut.

Aku pun terpeleset dan jatuh dari tebing itu. Tentu saja aku tidak merasakan dinginnya air laut membelai kulitku karena ini hanya mimpi. Namun anehnya, kenapa aku tidak bisa bernapas dengan benar sekarang? Kapasitas udara di paru-paruku hampir tak tersisa. Aku rasa, aku benar-benar akan mati kali ini.

“Pinda, apa kau bisa mendengarku?” ucap seorang wanita yang suaranya begitu lembut. Aku yang sebelumnya merasa ketakutan akan tenggelam, perlahan mulai merasa tenang seolah aku sedang berbaring di atas kasur busa yang super empuk.

“Pinda, ayo pulang, keluargamu merasa sangat cemas dan bingung sekarang.”

“Aku juga merasa kebingungan sekarang. Dimana aku berada, dan Bagaimana caraku pulang?” sahutku dalam hati.

“Pinda, lihat, ada penyelam. Pegang tangan mereka, dan mereka akan membawamu pulang, mengerti?” tanpa pikir panjang aku menuruti perkataan wanita tersebut. Kemudian, perlahan cahaya putih muncul, menyilaukan mataku.

Beberapa saat kemudian, aku memantapkan diri untuk membuka mataku. Pemandangan yang ku lihat pertama kali adalah sebuah atap putih dengan lampu bohlam menyala terang, membuatku mengerjapkan mataku berulang kali. Aroma pahit obat-obatan menusuk indera penciumanku.

“Apa aku sudah kembali? Atau ini masih mimpi?” tanyaku dalam hati.

“Selamat siang, Pinda. Apa kabar?” tanya seorang perempuan berjas putih yang suaranya mirip sekali seperti perempuana yang menolongku ketika tenggelam. Aku ingin menyahutnya, namun apa daya lidahku kelu.

“Pinda!” seru seorang wanita yang berlari tergopoh-gopoh ke arahku, “Kamu baik-baik saja, kan, nak?” ucapnya sambil mengelus rambutku. Ya, aku sudah kembali.

5 disukai 6.4K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction