Si Penengah

Tahun esok aku baru akan menginjak tahun ke 20. Aku satu-satunya anak laki-laki pak Broto. Kakakku Rinai saat ini sedang mengalami masa puncak dalam kehidupannya. Sedangkan adik bungsuku tahun ini akan memasuki dunia perkuliahan.

Aku jangan ditanya. Aku sekarang sedang menjalani rangkaian tes untuk mendapat sertifikat layak atas skillku.

Sebagai anak tengah, aku turut ikut sibuk ketika kedua saudaraku sibuk. Terlebih aku adalah lelaki. Menjaga adik seperti halnya kewajiban nomor satu, menuruti kakak adalah anjuran bapak. Memiliki rencana sendiri bagiku sulit jika rencana itu juga bertepatan dengan hari masuk pertama adikku. Aku yang pasti harus mengantar dan mengawasinya hingga masuk ke dalam kampusnya.

Aku hidup seperti anak lelaki pada umumnya, tapi bedanya aku selalu memiliki dinding atas diriku sendiri yang keberadaannya hingga saat ini masih kucari. Tawaran hingga batasan hampir seperti kerancuan yang kerap kali aku terima. Aku bukan tipikal orang yang tertutup, tetapi juga tak mengerti mengapa akhir-akhir ini sering menarik diri.

Aku tau keberuntungan dari tiap diri kami berbeda. Ibu bilang dulu aku dipenuhi oleh keberuntungan. Sangat disukai oleh orang-orang. Tetapi sedikit usil. Ibu bilang aku termasuk cepat dalam mempelajari sesuatu. Karena diumurku yang belum genap dua puluh tahun aku telah menamatkan kuliah tingkat Diploma. Tapi itu tak lantas membuatku lega. Sampai saat ini aku masih terus berjuang untuk kehidupan yang lainnya. Aku terus mengalami berbagai sandungan.

Ah, kesibukan tesku membuatku terus bernostalgia. Selalu saja ada rasa terselip. entah apa, tapi itu terus menggelitikku hingga kalbu.

2 disukai 1 komentar 3.9K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
nice story. tapi kalimat terakhir di ending itu maksudnya apa, ya? 🙏
Saran Flash Fiction