Si Sulung

Aku adalah anak sulung dari keluarga Pak Broto. Orang biasa memanggilku Rinai. Aku orang yang sedikit pemalu dan tertutup, tidak seperti kedua adikku.

Kadang ketika kita sedang berkumpul dengan keluarga besar, yang bercerita mewakili diriku adalah adik bungsuku.

Kata ibu, dulu saat aku kecil aku lebih pendiam sebelum adikku lahir. Dan mulai terlihat ceria ketika adik keduaku lahir.

Aku tak mengerti apakah cerita itu benar atau tidak. Tapi rasanya memang lebih tenang bila aku bersama mereka.

Tapi sesekali juga aku sedikit merasa iri sekaligus kagum pada mereka. Hampir sebagian capaiannya, telah diraih saat ini. Di usia mereka yang bahkan belum menginjak kepala dua. Sedangkan aku masih harus terpontang-panting mencari semuanya dengan keringat. Tak istirahat sekalipun. Aku hampir kehilangan arti makna hobi, karena aku selalu terpendam oleh ketahananku yang mengatakan ini semua bukan untukku. Aku punya adikku.

Semuanya jadi tertahan hingga saat ini. Tinggal lelah yang bersisa.

Terlepas dari semua itu, aku tidak pernah menyesal dengan keputusanku di masa lalu dan sekarang. Setiap keputusanku memberi rasa nyaman tersendiri meski terkadang ada juga rasa sakit.

Semakin besar dan berumurnya diriku, waktu yang kupersiapkan untuk bisa berkumpul dengan keluarga hampir semakin tidak memungkin.

Ada momen yang paling kurindukan. Yaitu saat melihat adikku yang wajahnya tertahan karena kejahilanku. Dan adik bungsuku yang selalu mengadu pada bapak dan ibu setelah kujahili, sambil menunjukkan raut puas ketika aku sudah mulai diberi nasihat panjang lebar oleh bapak.

Kurang lebih begitulah kisahku. Tidak ada sesuatu yang terlalu menonjol dan spesial. Karena aku tidak harus menunjukkan itu. Tapi dibalik semua itu, saat ini aku lebih merindukan kedua adikku.

194 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction