Pertemuan Keluarga

Pandangan sederhana dengan atmosfer harmonis adalah salah satu prinsip keluarga kami. Berpikir material dengan jalan-jalan yang sederhana namun tetap menggunakan akal dan sikap kesabaran juga tak lupa ditanamkan sebagai tiang kokoh dalam setiap diri kami.

Kakak pertamaku, Rinai. Seperti biasa ia akan duduk pada kursi yang paling nyaman di ujung dekat dengan dinding. Lalu selanjutnya ia akan sibuk membuka gadget miliknya untuk melihat beberapa pekerjaannya.

Kakak kedua, Guntur. Akan duduk di tengah ruangan sambil cerita berapi-api, tapi ia tak paham betul dengan apa yang diceritakan. Kadang ia terjebak di tengah cerita dan argumennya, dan menghentikannya atau mengganti topik cerita yang baru lagi.

Aku, jangan ditanya. Aku biasa menceritakan ambisi dan mimpiku lagi. Kukatakan pada mereka tahun depan aku ingin mendaftar program beasiswa. Ibuk dan bapak menimpali dengan setuju. Sangat setuju malah. Tapi juga mengingatkan, tidak akan mudah. Aku harus melewati proses yang lumayan berat, meski berat bukan berarti juga aku tak bisa. AKU PASTI BISA. Kataku dalam hati.

Selain itu kami tertawa karena lawakan bapak yang tidak pernah berubah. Tetap lucu. Dilanjut dengan cerita ibu yang selalu diakhiri dengan beberapa kalimat motivasi. Hari semakin larut, wajah kami satu persatu menjadi cemberut. Karena beberapa ada berita yang tak mengenakkan, atau larangan baru dari aturan rumah ini bertambah. Khususnya aku. Untuk mengurus semua keperluan yang kuutarakan tadi, akan dibatasi. Kakak keduaku, mas guntur yang mulai dengan jelas mengutarakan keinginannya, harus mengadu mulut hingga urat nadi lehernya kadang keluar. Kakak pertamaku, mbak Rinai hanya terdiam dan untuk yang kesekian kali ia menengok gadgetnya dan menatapnya seolah ia berharap ada panggilan kekantor hari ini agar tak terlibat adu mulut panjang. Terlihat jelas sekali ia lelah, ia sengaja menyimpan apa yang terjadi di dalam hatinya sendiri.

Begitulah akhir pertemuan keluarga ini, semakin informasi dan ambisi diri diungkapkan maka sudah dipastikan terjadi adu mulut panjang. Aku tak tau apakah ini pantas atau tidak. Tapi, sikap egois kami perlahan mengikis kesabaran yang kokoh terbangun, prinsip kesederhanaan kami semakin rumit karena tumpuan ambisi tersendiri yang tak pernah dipaksa untuk berdamai

1 disukai 1.4K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction