Aku Bukan Maria ( Perempuan Tanah Syurga)

Tahukah kau, Maryam? Masjid ini awalnya adalah sebuah tempat pembuangan sampah yang telah berusia sekitar 500 tahun. Dibuat khusus untuk menghijaukan wajah Kota Kairo. Begitu luar biasa pemerintah pelopor pada masa itu berhasil membuat tempat ini menjadi sangat indah,” bisik Ufairah lirih mencoba mengalihkan kesenduan yang tampak di wajah Maryam.

Sejak tadi, Ufairah ingin tahu apa yang dirasakan Maryam. Tapi perempuan itu hanya mengajaknya duduk menatap awan. Merasakan semilir angin yang melintas dari sela jejer pepohonan di sepanjang ruas lingkar air mancur.

Duduk di posisi sudut 12 pas menghadap Benteng Sholahudin Al Ayubi di ketinggian, membuat Ufairah dapat menikmati pemandangan eksotis Mesir secara sempurna. Seharusnya Maryam juga merasakan hal yang sama. Tapi ternyata tidak. Maryam masih diam. Hampir 30 menit berlalu. Tiada perubahan sikapnya. Masalah apa yang begitu besar dipikirkannya? Mengapa tak mampu ia menikmati keindahan alam sekitar taman ini? Ufairah semakin jengah.

Ufairah mengeluarkan dua bungkus qasab dingin dan satu bungkusan pengganan lainnya dari dalam tas jinjing yang dari tadi ia pegang. Dengan gerak tangan lemah dan arah pandang yang tak berubah, Maryam menerima bungkusan qasab itu. Apa yang tadi dibicarakan Ufairah tak ingin digubrisnya. Hatinya lelah. Entah bagaimana mengurai rasa lelah tersebut.

“Kami akan kembali ke Indonesia, Ufairah. Bisa jadi, hanya aku,” ujar Maryam lemah.

“Bagaimana dengan Igo? Kalian baik-baik saja, kan? Bagaimana dengan segala mimpimu akan membangun rumah makan khas Indonesia di sini. Bukankah kau sudah cukup nyaman, Maryam? Kau tidak lagi kesulitan keuangan, kan?” Ufairah mencecar Maryam bertubi.

Maryam menghela napas panjang. Qasab di tangan yang seharusnya manis, menjadi sangat tawar. Dia bingung untuk menjelaskan, dari mana memulainya. “Ufairah, sudah bertahun aku hidup bersama Igo. Keadaan begini saja. Tak ada yang spesial aku rasakan. Semakin sulit. Kaligrafi dan dakwah tak seutuhnya dapat mencukupi kami juga.”

“Itu bukan alasan, Maryam. Kau masih bisa bekerja, bukan? Penghasilanmu sebagai manajer di restoran ternama itu bisa menutupi. Kau bohong, Maryam. Apa yang sebenarnya terjadi? Tidak. Itu tidak mungkin. Kau tak seharusnya berkata kekurangan, Maryam. Kau bahkan sesekali pernah bercerita mengirimkan uang ke keluargamu di Indonesia. Maryam, bicaralah! Kau bohong.” Wajah Ufairah penuh selidik. Suaranya lantang. Untung saja daerah itu sangat menyudut dan tak banyak orang lalu-lalang di sekitar. Ufairah berusaha mengguncang bahu sahabatnya. Malah titik air mata yang dilihatnya.

Akhirnya Maryam menjatuhkan dirinya pada peluk Ufairah. “Pernahkah kau bermimpi, bisa terbang ke mana pun sesuai inginmu, Ufairah?”

“Ya. Kau mampu untuk itu.”

“Tapi aku lelah. Pernahkah kau merasakan kerinduan akan miniatur kita, Ufairah? Kita bebas memeluknya. Mendandani atau menata berbagai pola pakaian kepadanya?”

“Kau bisa mendapatkannya bersama Igo.”

“Kami sudah mencoba bertahun. Belum ada hasil. Ah, sudahlah, Ufairah. Tak ada yang harus dipertahankan bersama Igo.”

“Kalian bisa berobat jika ada masalah. Apa yang mustahil kalau kalian mau?”

“Ah, itu mustahil,” balas Maryam lirih dan air mata semakin deras.

Ufairah bingung. Dia tahu pembicaraan ini menjadi sangat serius. Maryam sedang hanya butuh didengar.

Tak ingin membuat sahabatnya semakin larut dalam kesedihan, serta waktu Ashar yang telah tiba. Membuat Ufairah menggamit lengan Maryam, menuju Masjid Al-Azhar. Hanya sekitar 30 langkah, mereka telah tiba di ruang masjid. Ia Ufairah berpikir, dengan mengajak Sholat, barangkali Maryam yang luluh-lantak akan merasa lebih baik. Mungkin dengan berdiam di mesjid dan mendekatkan diri pada Tuhan, dapat membuatnya lebih tenang.

Cukup lama dalam diam, Maryam memandangi ukiran pada dinding ruangan masjid. Terpaan cahaya lampu-lampu qindil bentuk bulat yang tertata menerangi seluruh ruangan senja itu, mengguratkan warna tersendiri pada hatinya. Andai ia benar pulang ke Indonesia, babak hidup baru harus dimulai, dan berjuang untuk masa depan. Bayi mungil benar-benar berkelebat di matanya, dan Igo....

***

Dua hari sebelumnya....

Igo ke luar dari kantor. Lelaki itu baru saja selesai meeting dengan klien untuk mempersiapkan sebuah acara Ramadhan yang akan tayang bulan depan. Waktu jam makan siang. Setelah memarkir mobil, Igo bergegas masuk ke sebuah restoran seafood yang ramai.

Maryam tersenyum menyambut suaminya. Seiring waitres menghampiri tempat duduk mereka. Sejenak mereka memesan makanan. Beberapa menit kemudian order telah dihidangkan oleh dua pelayan. Sejenak mereka asyik bersantap makan siang.

“Sayang, sebentar lagi kita memiliki momongan. Ruh itu telah ada, Sayang. Bahkan dia sudah menjalari tubuhku. Tinggal tunggu waktu yang tepat untuk meniupnya dan mengeluarkanya.” Maryam membisikan dengan lembut curahan bahagia kehamilannya, sambil meletakan tangan kiri Igo pada perutnya.

Igo kaget, segera menarik tanganya, lekat menatap Maryam. “Maksud kamu?”

“Aku mengandung anakmu, Sayang.”

Wajah Igo mendadak memerah. Udara siang yang panas semakin membuat suasana panas. “Tidak mungkin. Itu tidak mungkin!”

Seketika Igo menarik tangan Maryam, keluar dari restoran.

Begitu tiba di rumah, Igo setengah berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Maryam yang masih diliputi keheranan, masih terus setia mengekor. Dari laci lemari, Igo mengeluarkan amplop dan langsung diserahkan pada Maryam.

Maryam membuka amplop coklat dengan stempel rahasia ditulis dengan huruf kapital. Tangannya gemetar. Masih diselimuti rasa penasaran yang menggelayuti pikiran, Maryam membuka lipatan surat, membaca kalimat per kalimat. Dia mencoba mencerna tulisan dalam surat itu. Tiba-tiba saja, tubuhnya seperti agar-agar, lemas tak berdaya. Kedua lututnya meluruh dan tak lagi kuat menopang tubuh. Nadinya seolah terhenti, ketika dia mulai dapat meraba apa yang sebenarnya terjadi.

“Apa artinya ini?”

Surat itu berpindah ke tangan Igo.

“I’m immature.”

“Mean?”

“Infertile!”

Maryam masih tidak percaya. Batinnya tercabik mendapati kenyataan yang teramat pahit. Dia tidak menyangka Igo begitu tega menyembunyikan rahasia bertahun-tahun. Harga dirinya ia pertaruhkan dan menerima cibiran dari teman, tetangga, bahkan mertuanya yang ingin segera menimang cucu. Mereka menganggap Maryam yang bermasalah. Dialah yang dituduh sebagai perempuan gabug alias mandul.

9 disukai 10 komentar 3.3K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Oo. Keren om. Suka ceritanya.
Testpack yg di pakai expired jd ngga akurat.. Kena prank alat tes kehamilan itu
Jadi yang dikandung anak siapa?
@alwindara : Thx you brother.. Slm sejawat!
Saya suka kisah relijius begini
@yudhi21 : Aamin
@yudhi21 : Toast!
Siap Brother.. Sukses juga untukmu ya... Slm
Sukses bung sammy handoko
Kereen bangettsss bu sammy....semua harapan butuh cinta. Krn cinta akan membawa kita kepada kenyamanan dan kebahagian. Sukses bung sammy handoko
Saran Flash Fiction