Lina Groningen

Awal singgah, aku mendaftar Student Housing untuk tempat tinggal mahasiswa baru di Belanda. Sekamar dengan Tantria, perempuan asal Jakarta, Indonesia yang punya logat kental Betawi. Bisa dibayangkan saat kami berdua berbincang, aku menatapnya nyaris bulat dengan tatapan agak aneh. Ia perempuan yang baik walau cara bicaranya terkesan kasar, don’t judge from by cover itu memang benar.

Sedangkan Tantria terkadang menatapku seperti sedang mendengarkan ucapanku dengan seksama, ucapanku begitu lemah lembut dan merdu kalau diibaratkan sedang bernyanyi.

Lu emang anak sunda banget, Lin.” Sambil menatapku dengan logat Betawinya.

Orang sunda memang dikenal lembut, ayu dan bicaranya terkesan berayun-ayun aksennya agak panjang.

Aku hanya tersenyum.

Mencari apartement yang privat memang agak sulit, sehingga kebanyakan Mahasiswa baru disini memilih option untuk student house saja. Suasana rumah apartement-ku begitu alami sesuai dengan kesan desa Groningen dengan dihiasi bata-bata dicat warna merah. Ada kotak surat dari kayu berwarna coklat tua yang sengaja dipasang menempel pada dinding-dinding bata. Diatasnya berdiri tegak lampu tempel yang akan menyala di malam hari khas Eropa dengan batang hitam yang meliur-liur terkesan mewah tapi klasik modern.

Sepeda dibiarkan disana, para mahasiswa selalu menyimpan sepeda di halaman rumah. Hilir mudik datang dan pergi jumlahnya tak beraturan. Caroline, mahasiswi Belanda yang lebih memilih tinggal di Apartemen Indonesia menikmati suasana kami. Sudah lama ia ingin sekali datang ke Indonesia, kagum dengan keberagaman, katanya.

Para pesepeda di Belanda mendapatkan prioritas dibandingkan dengan pengemudi kendaraan lainnya. Pemerintah pun membangun infrastuktur yang lengkap bagi pengguna sepeda di Belanda. Kami pun terbiasa memakai sepeda jika pergi ke University of Groningen. Tidak ada kata malu dan gengsi seperti di Indonesia, karena transportasi sepeda merupakan hal yang biasa disini. Dari kalangan Manager hingga orang biasa menggunakannya.

Bagi komunitas kami, pergi ke Universitas bersama-sama memakai sepeda di pagi hari menjadi pemandangan yang sering dijumpai. Seperti yang Ibu bilang, haruslah menjadi sederhana walau sudah menjadi besar. Diibaratkan Ibu seperti ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk.

“Lin, jangan jadi sombong di negeri orang walau sudah hebat dan kamu terkenal di kampung karena bisa berangkat ke Belanda. Tetap gapai cita-citamu dan bantu orang yang tidak punya. Sekali-kali, jangan jadi manusia sombong. Inget ada Tuhan dibalik kesuksesan mu sekarang.” Ibu memeluk lagi dan membiarkan aku pergi menggapai masa depan di Negeri Belanda.

Aku kuatkan badan, sekalipun musim dingin sedang menerpa. Seringkali flu datang, aku merasakan kedinginan. Tetapi kata-kata Ibu yang sangat menghangatkan. Mengayuh sepeda bolak-balik ke Universitas, terkadang berjalan sembari menikmati pemandangan. Tidak pernah aku lupakan. Terkadang hal-hal sederhana itulah yang menjadikan manusia hebat di masa mendatang. Secercah harapan, nafas yang bercampur peluh. Kelak akan terjawab oleh masa depan.

Lina, Groningen, Belanda, 2018

 

15 disukai 3 komentar 5.2K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@alwindara : iyap betul
Jigana mah tetehnya juga orang bandung
Aamiin.. Semangat, Lina!
Saran Flash Fiction