Sang Penghibur Kerajaan

Di tengah indahnya padang rumput, duduklah seorang penghibur kerajaan yang sedang melihat ke arah langit.

Tenang ... sunyi ... pelan, awan-awan itu berjalan seakan-akan dia tidak mempunyai masalah di dalam kehidupannya.

Lalu dia menundukkan kepalanya kembali dan menoleh ke arah sekitarnya. Terlihat hanya ada bentangan rumput yang terpotong rapih di sekelilingnya.

Dia juga tidak melihat satu pun makhluk hidup yang melewati dirinya. Bahkan burung-burung gereja yang biasa mendatanginya, juga tidak terlihat.

Aneh, baru saja aku memuji Sang Semesta, Tapi Semesta sama sekali tidak berusaha untuk memperhatikanku kembali.

Si Penghibur itu pun hanya duduk termenung sambil melihat ke kanan dan kirinya.

Tak ada siapapun di sini, aku butuh teman.

Si Penghibur itu pun berdiri dan berjalan maju ke arah depan. Dia tetap berjalan hingga 1000 langkah kemudian.

Masih tak ada satu pun makhluk yang bisa aku ajak bicara ... sebenarnya aku ini di mana?

Penghibur itu berjalan kembali ke arah depan sampai dia melihat ada Pohon Oak yang tumbuh tinggi di tengah-tengah luasnya padang rumput.

Dia pun tersenyum dan berlari untuk menghampiri Pohon tersebut. Dia juga berharap bisa menemukan sesuatu yang hidup di antara rindangnya pohon itu.

Sesampainya di sana, dia kecewa karena tidak melihat satu pun makhluk hidup yang berjalan di antara sela-sela ranting dan urat-urat kayu di pohon tersebut.

Aneh, bahkan semut pun tak bisa kutemui di sini. Ya sudah lah, aku lelah. Aku akan duduk di pohon ini sementara.

Si Penghibur itu pun duduk di bawah pohon Oak itu dan tertidur.

Gelap.

"Roland! Identitas mayat ini sudah di ketahui," ucap Douglas.

Roland dengan pakaian petaninya berkata, "Dia siapa?"

Douglas pun menjelaskan. "Dia Pierre, penghibur kerajaan yang sudah lama menghilang. Anggota kerajaan akan menuju ke sini untuk mengubur dia secara hormat."

"Menghilang?" heran Roland.

"Iya, dengar-dengar dari salah seorang prajurit kerajaan. Di dalam Istana, dia selalu dihina dan dilecehkan oleh sang Pangeran hingga akhirnya dia depresi terus melarikan diri. Dengar dari kerabatnya juga, dia memang sedang mencari ketenangan di luar Istana." ucap Douglas.

Marmount, seorang penggembala sapi yang sering melintas di tempat ini pun ikut berkata. "Ah pantas saja, sejak seminggu lalu, aku melihatnya selalu duduk di pohon ini dan tertidur. Aku kira dia hanya istirahat."

"Memang, padang rumput di sini sangatlah indah. Masuk akal jika dia ingin meninggal di tempat ini tanpa makanan," ucap Roland.

"Dari mana kau tahu Roland?" tanya Douglas.

"Lihat saja badannya yang kurus kering itu, tampak seperti orang yang kelaparan. Lagian aku tahu, dia hanya ingin menciptakan Surga melalui memorinya, sebelum dia meninggal."

Terlihat mayat Pierre yang sedang terduduk lemah di bawah pohon Oak.

Gelap.

Di tengah indahnya padang rumput, duduklah Pierre yang sedang melihat ke arah langit.

Tenang ... sunyi ... pelan, awan-awan itu berjalan seakan-akan dia tidak mempunyai masalah di dalam kehidupannya.

6 disukai 2.4K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction