"Mama?"
Wajahku berkerut. Aku melihat sekeliling. Banyak orang yang ramai berlalu-lalang. Sayang sekali, sebagian dari mereka hanya sesekali menengok kearah kami. Sebagiannya lagi acuh. Mereka seakan tuli dan bisu.
Aku menyerahkan anakku, Zisha, pada suamiku. Tiba-tiba dadaku merasa sedikit sesak. Sesuatu seakan mengganjal di hatiku. Aku berjongkok menyesuaikan tinggiku dengan anak kecil di hadapanku. Melihat matanya yang tidak fokus, aku menghela napas. Aku berusaha berbicara dengan lembut.
"Kamu sendiri disini?"
Anak kecil perempuan itu terlihat terkejut. Sepertinya ia baru menyadari bahwa aku yang menghampirinya, bukan orang yang diharapkannya. Tetapi, mungkin memang anak seusianya berpikir lebih sederhana.
"Oh, Tante siapa? Aku disini bersama Mama. Mama bilang ia mau membeli makanan untukku. Aku diminta tunggu disini."
Aku semakin mengernyit. Sekali lagi aku memastikan aku tidak salah tempat. Suara-suara riang anak-anak terdengar jelas, hingar bingar musik, dan suara orang dewasa menggaung di udara. Aku memperhatikan sekilas banyaknya anak-anak yang disampingi orang dewasa bermain komedi putar di dekat kami. Orang tua bodoh macam apa yang meninggalkan anaknya sendiri ditempat ramai seperti ini? Kenapa tidak membawa anaknya untuk membeli makanan? Ataukah mereka terpisah tidak sengaja?
"Ibu kamu benar menyuruhmu berdiri disini? Kalian tidak terpisah?"
Anak kecil itu menggeleng. "Tidak. Aku tidak bisa melihat, tapi aku bisa mendengar. Mama jelas bilang agar aku menunggu disini."
Aku saling pandang dengan suamiku. Aku melihat raut wajah yang serupa di wajahnya. Sepertinya suamiku memiliki prasangka yang sama denganku. Namun, aku ingin memastikan sekali lagi.
"Kalau begitu bagaimana dengan ayahmu?"
"Ayah?" tanya anak kecil itu balik. Nada bicaranya ragu. Ia kemudian mengerutkan bibirnya. "Aku sudah lama tidak mendengar suara ayah lagi."
Hatiku sedikit tersentil mendengarnya. Mataku sedikit berair. Aku melihat Zisha dalam dekapan suamiku. Lalu aku melihat suamiku menggeleng. Ia membisikkan pelan sesuatu.
"Kita cukup bawa anak ini ke pusat informasi disini saja. Biar mereka dan pihak berwajib yang mengurus."
Aku mengangguk pasrah. Dalam hatiku, aku berpikir keras: dimanakah nurani manusia hari ini?