ABOUT US 'Beautiful Goodbye'

“Besok kita akan pergi kemana?” Nof bertanya. Entah bertanya padaku atau Yun. Nof adalah yang termuda di antara kami bertiga.

“Aku ingin pergi sedikit jauh, tapi apa Yun ada waktu?” aku melirik Yun yang masih berkutat dengan buku-bukunya. Profesor memberinya tugas yang lumayan banyak karena ia kemarin salah menggunakan teknik menumbuhkan tanaman. Tanaman yang ia tumbuhkan langsung layu seketika, padahal baru saja mekar.

“Tak apa jika kita pergi sedikit jauh. Terserah kalian saja. Aku akan menyelesaikan ini semua malam ini, dan akan mengumpulkan laporan tertulis pada profesor besok pagi-pagi sekali.” Ia berkata masih dengan tatapannya yang lurus menelisik setiap isi buku yang ia pegang. Buku tentang teknik menumbuhkan tanaman yang benar.

Besoknya, pagi-pagi sekali kami sudah pergi. Menuju arah barat. Di sana ada tempat makan terkenal yang menjual makanan khas dari pegunungan berkabut. Juga di dekat tempat makan itu ada kafe dekat dengan danau putih. Kami bertiga akan mengunjungi tempat makan dan kafe itu. Kami tidak banyak mendapat waktu libur, jadi jika ada kesempatan untuk berlibur akan kami manfaatkan dengan baik.

Kakiku terus melompat dari satu daun ke daun yang lain, berusaha mensejajari lompatan Nof. Mungkin karena aku yang tertua, lompatanku sudah tidak selincah Nof dan Yun. Terutama Nof, aku fikir energinya cukup besar. Ia yang paling lincah dalam hal apapun.

“Hai, kalian bertiga akan pergi kemana?” salah satu peri bersayap menyapa kami saat berpapasan.

Aku hanya tersenyum untuk menanggapi, enggan menjawab.

“Pergi.” Kata Nof. Itu bukan jawaban yang tepat.

Yun bahkan tak menengok sedikitpun, kakinya terus melompat.

Setelah melakukan perjalanan sekitar satu jam, kami sampai di tempat makan itu. Masih belum buka. Kami memutuskan bersantai di taman dekat situ. Bersantai sambil menselonjorkan kaki. Melompati deduanan di antara bunga-bunga, pepohonan, juga sesekali berlarian di kayu pohon yang sudah tumbang cukup menguras tenaga kami. Sarapan pagi tadi sudah tak bersisa. Sudah menguap menjadi tenaga.

“Lihat gedung-gedung tinggi di sana, bukankah jaraknya terlihat dekat?” Nof menunjuk-nunjuk puncak-puncak gedung di kejauhan.

“Vi sudah pernah pergi ke sana?” Yun bertanya padaku.

“Beberapa kali. Tempat yang menyenangkan menurutku, tapi cukup berbahaya. Yun kan sebentar lagi akan ke sana.” Aku menatap Yun.

Nof sedikit menyimpan iri, namun ia juga pasti akan mendapat kesempatan itu suatu saat nanti.

Aku pergi ke kota beberapa kali untuk menyapa ikan-ikan dari negeri kami yang tak sengaja tertangkap oleh manusia. Memberikan ramuan khusus agar mereka mampu bertahan di sana. Yun ahli menumbuhkan bunga-bunga langka, untuk saat ini ia belum bisa pergi ke kota. Tekniknya belum sempurna. Sementara Nof ahlinya menyelam, ia penyelamat makhluk-makhluk air yang tersangkut ganggang atau terluka karena hal lain di dalam air.

“Sebentar lagi Vi akan pergi jauh. Ke negeri berpasangan.” Nof menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan.

Negeri berpasangan adalah negeri bangsa kami untuk makhluk-makhluk yang siap untuk memiliki keturunan. Tempat untuk menemukan pasangan hidup.

“Itu berarti kita tidak akan bertemu lagi kan?” Yun memaksakan senyum.

“Kita bisa membuat janji bertemu di lembah salju. Juga merpati surat akan selalu membantu kita untuk bertukar kabar.” Tidak ada yang menanggapi kalimatku. Kami terdiam dengan fikiran masing-masing.

*End*

1 disukai 1.1K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction